Semoga Gary bisa kembali ke orang tuanya.
 
sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/26/00592014/sehari.gary.bisa.nyopet.tujuh.handphone


Penemuan Anak
 Sehari Gary Bisa "Nyopet: Tujuh "Handphone"
          Jumat, 26 September 2008 | 00:59 WIB  Melihat gaya Gary (sekitar 5 
tahun) di Polsek Matraman, Jakarta Timur, tidak ada yang akan menyangka tiga 
hari yang lalu dia masih menjadi anak jalanan. Pekerjaannya sehari-hari adalah 
mencopet handphone milik penumpang kereta api.
Namun bila bergaul dengan dia beberapa waktu, kita akan menyadari dia 
sebenarnya bukan anak jalanan. Kemungkinan dia adalah korban penculikan, yang 
kemudian dikaryakan sebagai pencopet.
Wajah bocah yang terlihat seperti keturunan Tionghoa ini semula mengaku tidak 
punya orangtua. Gary ditemukan oleh Juviano Aparicio, pemuda dari Timor Leste 
yang datang dari Yogyakarta hendak ke Kedutaan Timor Leste di Jakarta.
”Saya menemukan Gary jalan mondar-mandir di kereta Progo jurusan Senen. Lalu 
saya ajak dia saja. Saya curiga dia adalah korban penculikan,” kata Juviano.
Saat ditanya, Gary semula mengatakan kedua orangtuanya sudah meninggal karena 
kebakaran. Rumahnya dulu berada di sekitar Stasiun Bekasi. Dia tidak tahu nama 
orangtuanya.
Tetapi setelah diajak ngobrol agak lama, Gary mengaku nama ayahnya Asun dan 
ibunya Yanti. Dia punya nenek yang tinggal di Tanah Abang.
Kini Gary dirawat oleh Retno Widati, pemilik Sanggar Kayumanis yang juga 
pengusaha jamu dan pengobatan alternatif. Kepada Retno, Gary memanggil ibu. 
”Ketika kami naik mobil yang ada AC-nya, dia langsung bilang, AC-nya dingin ya. 
Berarti dia tahu AC,” kata Retno.
Selain itu, Gary juga bercerita ayahnya punya mobil Kijang warna hitam. ”Waktu 
mandi dia juga mengenal sabun cair. Kalau benar anak jalanan, dia tak akan tahu 
soal sabun,” ujar Retno.
Selain itu, Gary juga ternyata mahir makan menggunakan sumpit. Dia bisa 
membedakan mana mi ayam yang enak dan mana yang tidak.
Retno telah memeriksakan Gary ke dokter, dan dokter tidak menemukan tanda-tanda 
kekerasan di tubuhnya maupun kekerasan seksual. ”Yang ada adalah kekerasan 
mental. Beberapa kali dia bicara kasar, jorok, dan tidak sopan,” jelas Retno.
Sementara itu, Kepala Polsek Metro Matraman Komisaris Kasworo mengatakan, 
kemungkinan besar Gary adalah korban penculikan yang kemudian dikaryakan 
sebagai pencopet.
”Sehari dia bisa mencopet tujuh handphone di kereta. Setelah itu handphone 
disembunyikan di kolong kursi kereta,” kata Kasworo.
Dia menambahkan, jika memang ada orangtua yang kehilangan anak, silakan datang 
ke Polsek Matraman. Jika memang tidak ada, Gary akan diserahkan ke panti 
asuhan. ”Diharapkan, jika Gary berhasil ketemu orangtua sejatinya, bisa 
membantu kami mengungkapkan sindikat penculikan anak ini,” tegas Kasworo. (ARN)

 

       

Kirim email ke