Saya setuju dengan adanya larangan makan binatang saat prosesi, namun
kita juga harus arif dalam melihat dan memberikan kritikan/opini.
Untuk kategori festival tahunan, dan atas dasar prosesi, terlalu naib
kalau kita akan memvonis sebagai kekerasan terhadap hewan. Biasanya
masyarakat juga maklum dan menerimanya sebagai bagian dari prosesi
ketimbang ekspos kekerasan pada binatang.
Saya malah membayangkan suatu hari orang2 akan berteriak agar para
tatung tidak boleh menggunakan senjata tajam karena membahayakan.
Logikanya memang membahayakan kan? Jadi, harus ada pengecualian untuk
sesuatu hal, pada sesuatu kondisi, dan pada sesuatu kepentingan.
Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, di
mana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga?






--- In [email protected], LIU MERY <mery_va...@...> wrote:
>
> emang bener sih tidak baik buat ditonton para anak-anak.
> tapi pertunjukan seperti itu mungkin lebih menarik para penonton
> hehehe
>  
> --- On Tue, 2/10/09, United.Singkawang <uni...@...> wrote:
> 
> From: United.Singkawang <uni...@...>
> Subject: [Singkawang] Makan Binatang
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, February 10, 2009, 9:07 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> SINGKAWANG â€" Pengamat Hukum dan HAM Kota Singkawang Rudi Harjana
mengatakan, tahun depan jangan ada lagi tatung yang mempertontonkan
memakan binatang hidup-hidup di jalanan. Kata dia, sempat terlihat
dalam perayaan Cap Go Meh kemarin, beberapa tatung membawa binatang
dan memakannya hidup-hidup dan memamerkannya di jalan-jalan sesuai
rute yang sudah ditentukan. 
> 
> “Sebenarnya itu tidak layak dipertontonkan. Cukup atraksi yang 
lazimnya dipertunjukkan saja,” kata dia kepada Pontianak Post
kemarin. Ia menambahkan, dirinya juga sudah pernah memperingatkan akan
hal ini di tahun sebelumnya untuk perayaan Cap Go Meh. Menurut dia,
jika ingin membawa dan memakan binatang, sebaiknya itu jangan di
jalanan. Sebab, ribuan pasang mata melihat dan memperhatikan hal
tersebut. “Apalagi kalau yang nonton juga banyak anak-anak. Hal itu
sangat tidak bagus, bagi anak-anak yang melihatnya,” ungkap Popo,
biasa pria ini disapa.
> 
> Menurut dia, jangan sampai hal tersebut terjadi lagi untuk ke
depannya. Ia berharap, cukup tahun ini saja yang terakhir, ada aksi
memakan binatang seperti itu. 
> “Tahun depan penyelenggaraannya harus lebih baik. Panitia juga
harus mengawasi hal ini,” kata dia.  Ia juga salut dengan Cap Go
Meh yang baru saja berakhir.  Di Pontianak Post, kata dia, melansir
empat puluh ribu wisatawan datang ke Singkawang menyaksikan petunjukan
tersebut. Oleh karena itulah, kata dia, potensi wisata dan kebudayaan
Kota Singkawang sangat besar.  “Maka dari itu harus dipelihara dan
dipertahankan. Tahun depan, harus bisa lebih banyak lagi menyedot
wisatawan. Jangan hanya yang lokal, kalau bisa lebih banyak wisatawan
asing. Jangan tanggung-tanggung. Pemerintah harus bekerja lebih keras
untuk menarik wisatawan,” katanya. 
> 
> Ia mengatakan, sudah sepantasnya tahun depan Cap Go Meh, yang sudah
masuk kalender even wisata nasional tersebut, ditingkatkan lagi. Oleh
karena itulah, ia meminta, dari sisi penyelenggaraannya, para panitia
harus bisa melakukan evaluasi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan
yang tidak semestinya ada. “Secara umum baik. Tapi tentunya masih
ada kerikil-kerikil dalam penyelenggaraan tersebut. Ke depan,  harus
bisa lebih baik lagi dari sekarang,” katanya. (ody)
>  
>  
> Sumber : http://www.pontiana kpost.com/ index.php? mib=berita.
detail&id=14566
>


Kirim email ke