Bahasa menjadi kendala utama program Keluarga Berencana (KB) bagi masyarakat 
Tionghoa, terutama terhadap mereka yang hidup di pedesaan dan kawasan 
terpencil, seperti di Singkawang, Kalimantan Barat.

"Kendala utama pemasyarakatan KB di masyarakat Tionghoa khususnya di Singkawang 
adalah bahasa," kata Ketua Umum Masyarakat Adat dan Budaya Tionghoa (MABT) 
Singkawang Rudi Wijaya dalam Rapat Degar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IX 
DPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin (16/2).

RDPU juga dihadiri Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 
Sugiri Syarief.

Rudi Wijaya mengemukakan, masyarakat Tinghoa di Singkawang tidak hanya hidup di 
perkotaan, tetapi tersebar hingga pedesaan, bahkan kawasan terpencil. Mereka 
yang hidup di pedesaan dan terpencil banyak yang miskin dan banyak anak. "Tak 
sedikit yang penghasilannya Rp10 ribu per hari dengan banyak anak. Akibatnya, 
nereka pun miskin," katanya.

Kemiskinan menyebabkan akses ke dunia pendidikan juga sulit mereka jangkau. 
Mereka terkungkung dalam kehidupan yang serba terbatas dan kemampuan 
berbahasanya hanya bahasa isu, yaitu bahasa Tionghoa.

Persepsi di kalangan masyarakat Tionghoa yang miskin adalah banyak anak, banyak 
rezeki. MABT dibentuk untuk menyadarkan persepsi mereka yang keliru. 
Sebenarnya, program KB sudah menjangkau masyarakat Tionghoa yang hidup di 
pedesaan dan terpencar tetapi kurang berhasil karena kendala bahasa.

MABT kemudian menyosialisasikan KB dengan bahasa setempat, yaitu Bahasa 
Tionghoa. "Ini tantangan yang luar biasa tidak ringan. Tetapi semangat kami 
tidak akan putus," katanya yang mengemukakan, MABT kemudian membentuk Petugas 
Lapangan KB (PLKB) dan klinik.

Perlahan namun pasti, program KB yang disosialisasikan PLKB dengan bahasa 
Tionghoa mendapat sambutan. Meski banyak menghadapi keterbatasan sarana 
sosialiasi, pihaknya yakin apa yang dilakukan MABT akan mendapat perhatian dari 
kalangan DPR dan BKKBN.

MABT ingin semakin banyak masyarakat Tionghoa ber-KB. Dengan demikian, 
diharapkan kemiskinan akan dapat dikurangi karena adanya perubahan persepsi 
`banyak anak banyak rezeki`.

Anggota Komisi IX DPR Tisnawati Karna menyampaikan apresiasi kepada MABT. 
Dengan adanya keikutsertaan secara aktif MABT, maka anggapan masyarakat bahwa 
program KB lebih ditujukan kepada pribumi tidak benar. Kenyataannya, Di 
Singkawang program KB juga dilaksanakan sebagai program penting bagi masyarakat 
Tionghoa.

Kepala BKKBN Sugiri Syarief menyambut baik peran aktif MABT. Sosilisasi KB 
dengan bahasa setempat memang tepat. Sedangkan menyangkut keterbatasan sarana, 
BKKBN akan berusaha mewujudkan sesuai ketersediaan alokasi anggaran. [EL, Ant]

Sumber : http://gatra.com/versi_cetak.php?id=123192

Kirim email ke