kebutuhan dasar warga masyarakat saja belom bisa diatasi... masih beli sama 
negara tetangga.. aku merasa sangat prihatin.. semoga masalah ini bisa cepat 
diatasi oleh pemkot setempat... amin.. 
pulau kalimantan adalah pulau yang sangat indah dan terbesar diseluruh dunia, 
serta dalam satu pulau terdapat 3 negara.. 
ini udah dikenal dunia, dan memiliki sumber daya alam yang banyak, dengan 
kekayaan alam ini,semoga negara kita, negara INDONESIA maju terus pantang 
mundur, seperti LAGU KEBANGSAAN KITA "GARUDA PANCASILA".
saya harap pemerintah INDONESIA bisa membangun pulau KALIMANTAN, menjadi pulau 
yang lebih dikenal seluruh dunia atas kekayaan alamnya.. serta semoga pulau 
KALIMANTAN bisa menjadi kota metroprolitan.. seperti jJAKARTA dan SURABAYA.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan


--- 09/3/31 (二),United.Singkawang <[email protected]> 寫道:


寄件者: United.Singkawang <[email protected]>
主旨: Re: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita -> 
Cahaya dari Negeri Tetangga
收件者: [email protected]
日期: 2009 3 31 二 上午 9:11









Berpuluh tahun dibekap gelap, sebagian desa di batas negara itu kini 
bermandikan cahaya. Listrik dari negeri tetangga yang mengalir nonstop 24 jam 
ke sana telah mengirim cahaya itu. Cahaya yang tak sanggup diberi oleh negeri 
sendiri. Kami baru bisa merasa senang sekarang. Listrik sudah bisa dinikmati 
siang malam seperti di kota,” kata Maria (30), warga Desa Kaliau, Kecamatan 
Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. 
Maria gembira menyikapi listrik dari Malaysia yang mengalir sejak 23 Januari 
2009. Sebelumnya, warga desa yang berbatasan dengan Kampung Biawak, Negara 
Bagian Sarawak, Malaysia, itu hanya bisa menikmati listrik saat malam. Itu pun 
aliran listriknya sering mati hidup. Tak hanya Maria yang bersukacita, PT PLN 
(Persero) juga mempersiapkan seremoni peresmian pada 26 Februari mendatang di 
Sajingan Besar, yang rencananya dihadiri Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar.
Tak mampu
Meski pahit, mesti diakui, bangsa Indonesia yang kaya sumber daya alam dan 
energi tak mampu memenuhi kebutuhan dasar warganya. Badan Persiapan Pengelolaan 
Kawasan Khusus Perbatasan Kalbar merilis, hingga 2008, dari 116 desa di Kalbar 
yang berbatasan dengan Malaysia, masih sekitar 67 desa atau sekitar 58 persen 
yang belum teraliri listrik PLN.
Dari 49 desa yang sudah ada jaringan PLN itu, belum semua warganya menikmati 
listrik PLN. Tercatat ada 36.612 keluarga yang menghuni 49 desa tersebut dan 
hanya 14.757 keluarga yang menikmati listrik dari PLN. Sekitar 1.831 keluarga 
mengusahakan sendiri listrik dengan genset atau pembangkit listrik tenaga surya.
Gaus (52), warga Dusun Gun Tembawang, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, 
Sanggau, misalnya, hingga detik ini masih harus mengeluarkan biaya membeli 
solar sekitar Rp 1.080.000 per bulan untuk menghidupkan genset pukul 
18.00-24.00.
Sementara Saset (40), petani di Dusun Gun Jemak, sejak lahir hingga sekarang 
masih menggunakan pelita untuk penerangan rumahnya pada malam hari. ”Genset 
barang yang mahal bagi kami,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, PT PLN memutuskan membeli listrik dari Malaysia. 
Kontrak kerja sama pembelian listrik dari Malaysia tersebut meliputi 200 kVA 
untuk memenuhi kebutuhan di Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, dan 400 kVA untuk 
memenuhi kebutuhan di Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. Daya listrik dari Malaysia 
ini dibeli PLN sebesar 30,2 sen ringgit Malaysia atau sekitar Rp 936 tiap kWh. 
Sedangkan PLN menjual kepada masyarakat di perbatasan tetap Rp 500 tiap kWh.
Kerja sama pembelian listrik dari Malaysia mulai intensif dibahas pertengahan 
tahun lalu. Pada 10 Juli 2008, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral melalui 
Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi memberikan persetujuan 
terhadap pembelian listrik dari Malaysia untuk wilayah perbatasan itu.
Pembelian listrik dari Malaysia itu karena kebutuhan listrik di perbatasan yang 
semakin meningkat, sementara kemampuan PLN untuk memenuhi kebutuhan itu 
terbatas. Pembelian listrik dari Malaysia juga dapat menekan kerugian yang 
selama ini diderita PLN untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel 
(PLTD) di kedua wilayah itu.
Biaya operasional PLTD PLN di Sajingan Besar dan Badau mencapai Rp 166 juta 
tiap bulan. Sementara dengan membeli listrik dari Malaysia, PLN hanya perlu 
mengeluarkan subsidi Rp 74 juta tiap bulan.
Ketergantungan
Bupati Sambas Burhanuddin A Rasyid mengatakan, pasokan listrik dari Malaysia 
sangat berarti bagi warga perbatasan. Bahkan, dengan bersemangat ia 
mengungkapkan, wilayah yang dialiri listrik dari Malaysia itu kemungkinan akan 
diperluas hingga ke Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang.
Namun, pemerhati sosial di Kalbar, William Chang, justru melihat pembelian 
listrik dari Malaysia ini sebagai salah satu bentuk kelemahan dan 
ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. ”Pemerintah 
harus belajar, kenapa Malaysia bisa, sementara kita tidak. Padahal, Sarawak dan 
Kalimantan berada di daratan yang sama, kekayaan alamnya sama. Bahkan, lebih 
kaya Kalimantan,” kata Chang.
Pembelian listrik dari Malaysia meningkatkan ketergantungan warga perbatasan 
terhadap Malaysia, yang selama ini sudah bergantung pada berbagai produk 
Malaysia dari gula hingga gas.
Indonesia menjadi pasar bagi produk jadi Malaysia dan Malaysia menerima produk 
mentah Indonesia. Nilai tambah ekonomi ada di Malaysia.
”Dilihat dari segi pertahanan dan keamanan wilayah, posisi tawar Malaysia di 
sana juga jelas lebih kuat,” katanya.
Kekhawatiran itu juga tersirat dalam pernyataan Wakil Gubernur Kalbar 
Christiandy Sanjaya. Ia berharap, pembelian listrik dari Malaysia untuk warga 
perbatasan ini bukan untuk jangka panjang.
”Jika skema pembangunan energi listrik Indonesia pada 2010 terwujud, kita tidak 
perlu lagi bergantung pada pihak luar negeri,” katanya.
Pembelian listrik dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kalimantan 
adalah ironi terbesar negeri ini. Betapa tidak, Kalimantan adalah salah satu 
produsen batu bara terbesar dunia. Batu bara Kalimantan telah memberi cahaya 
kota-kota di Pulau Jawa hingga ke Korea dan Jepang. Namun, kekayaan alam 
Kalimantan ini tak mampu memberi cahaya kepada penduduk Kalimantan sendiri.
Coba saja datang ke Palangkaraya menjelang petang. Hari begitu cepat malam 
karena sebagian besar wilayah kota gelap tanpa listrik. ”Saya sedih, tapi saya 
tidak ingin menangis,” kata Teras Narang, Gubernur Kalteng, prihatin. (Haryo 
Damardono/ Ahmad Arif)
Sumber : http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/25/ 00154736/ cahaya.dari. 
negeri.tetangga

----- Original Message ----- 
From: <hendra.bong@ indosat.blackber ry.com>
To: "Milis United Skw" <singkaw...@yahoogro ups.com>
Sent: Tuesday, March 31, 2009 7:42 AM
Subject: RE: [Singkawang] [PP] Aksi Keep Earth, 1 Jam Singkawang Gelap Gulita

> Bung Ardy,
> 
> Kenapa saya harus pesimis kali ini dan mengatakan pemkot tidak berdaya? 
> Karena dari informasi yang saya terima dari pelbagai sumber, kas pemkot itu 
> sangat terbatas. Tidak heran Pak Wali itu harus pandai-pandai melobi 
> pengusaha agar mau terlibat dalam pelbagai event, misalnya MTQ, CGM dan 
> lain-lain. Singkawang sangat bergantung kepada pendanaan luar, khususnya eks 
> warganya yang sukses di perantauan. Bagaimana pemkot bisa sediakan kapasitas 
> listrik lebih besar ? Bila Pemkot Singkawang seperti Pemda Kutai Kertanegara 
> atau Balikpapan, mungkin pandangan saya menjadi lain dan sangat optimis. 
> Dengan kas yang banyak, bisa saja membeli banyak mesin pembangkit dan 
> dikelola bekerjasama dengan PLN. Atau barangkali ada investor swasta yang 
> berminat jualan listrik di Singkawang ? Atau impor listrik saja dari Sarawak, 
> Malaysia ?
------------ ------cut- --------- --------- 















      
______________________________________________________________________________________________________
付費才容量無上限?Yahoo!奇摩電子信箱2.0免費給你,信件永遠不必刪! http://tw.mg0.mail.yahoo.com/dc/landing

Kirim email ke