kalau ada cerita yang mengharukan,motivasi cerita apapun kirim yah ke : [email protected]
On Tue Aug 25th, 2009 10:50 AM EDT Jonny Cunbui wrote: >Kebesaraan jiwa seorang ibu >Oct 26, 2008 in Kisah Nyata > > >Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan >lewat media cetak dan electronic. > >Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, >rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru >beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia >sudah di promosikan ke posisi manager.. Gaji-nya pun lumayan. > >Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris >dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul >dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan >tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be. > >Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian >kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. >Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya >sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 >seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar >dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain >adalah Ibu kandung A Be. > >Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu >rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci >(pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar >kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya >anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup >sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang >bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah >pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, >jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. > >Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih >sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia >semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan >pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. >Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be >mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan >segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah >harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja >(di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). > >Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat >ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box >kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan >berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak >seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang >wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah >kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan >sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita >menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka >sedikitpun. > >Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di >dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. >Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. >Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam >foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang >Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun >atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan >ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di >ungkit lagi”. > >Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja >kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek >bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan >membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik. > > > Apakah saya bisa menurunkan berat badan? Temukan jawabannya di Yahoo! > Answers! >http://id.answers.yahoo.com
