Bosscha yang Terancam ren Ratusan anak dari salah satu SD di Bekasi memadati ruangan teropong bintang Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung. Mereka dengan tekun mendengarkan penjelasan dari mentor yang ada di depan tentang orbit bintang, planet, galaksi, dan lainnya. Setelah mendengarkan dengan seksama anak-anak itu berlomba-lomba difoto di dekat teropong bintang. ''Saya ingin jadi astronom,'' ujar Danny (10 tahun), sambil memicingkan mata dan melihat ke teropong bintang. ''Sayang bintangnya tidak ada,'' katanya lagi. Kegiatan tersebut tiap hari dijalani di Bosscha. Lebih dari 60 ribu orang per tahun mendatangi Bosscha untuk melihat temuan pakar-pakar dunia atas objek-objek langit yang begitu indah. Namun siapa yang menyangka di balik keindahan Bosscha, di balik cita-cita anak-anak untuk jadi astronom dunia, keadaan Bosscha sedang terancam. Bosscha berdiri di Kawasan Bandung Utara (KBU) Jabar. Keberadaan KBU yang indah, udaranya yang sejuk, pemandangan yang mengagumkan, membuat tanah di sekitar Bosscha mempunyai nilai jual yang tinggi. Kebetulan lahan di sekitar Bosscha memang enak untuk dibangun hotel, apartemen, tempat istirahat, dan lainnya. Potensi ini membuat perputaran ekonomi menjadi tinggi, dan semakin menarik orang untuk menghuni KBU. Akhirnya, tanah di KBU pun diburu oleh pengembang-pengembang. Namun, bangunan-bangunan dan tanah-tanah yang sudah dimiliki pengembang merupakan ancaman besar bagi penelitian di Bosscha. Menurut Kepala Bosscha, Taufiq Hidayat, pada 1970-an pernah ada rencana pembangunan hotel di dekat Bosscha. Untungnya, Presiden Soeharto segera membatalkannya pada 1974. Pada 1980, kata Taufiq, pembangunan di KBU mulai tidak terkendali, karena tidak mengikuti tata ruang yang ada. Akibatnya terjadi degradasi, dan degradasi paling parah terjadi pada awal 1990. ''Puncaknya dengan rencana pembangunan wisata terpadu yang akhir-akhir ini dikumandangkan, ini ancaman total buat Bosscha,'' kata Taufiq. Banyaknya bangunan di sekitar Bosscha memperbanyak polusi cahaya. Banyaknya aktivitas pendduk mukim di sekitar Bosscha, memperbanyak getaran yang akan mengganggu peneropongan. Bosscha berperan banyak dalam mengamati ekuator langit. ''Nanti, ekuator langit tidak ada yang mengamati lagi dan dunia akan merasa kehilangan,'' kata Taufiq. Pada saat berdiri pada 1920-an, kata Taufiq, Bosscha merupakan tempat yang bagus, sepi dan nyaris tanpa penduduk. Saat itu, kondisi langitnya bagus, bahkan hari cerahnya lebih dari 200 hari dalam satu tahun. Bosscha memegang peran penelitian untuk ilmu pengetahuan pada 1923. Pada 1951, Bosscha bergabung dengan ITB yang membuka program S1 astronomi. Pada 1990-an, ITB membuka program astronomi untuk S2, dan sebentar lagi akan dibuka program doktoralnya. Taufiq mengatakan, Bosscha memiliki tiga peranan penting, yakni penelitian, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Untuk pelayanan masyarakat sudah dilakukan sejak 1960-an. Bosscha dibuka untuk umum agar masyarakat mengetahui bagaimana kerja dari teropong bintang. Jumlah kunjungan mencapai 60 ribu per tahun, 80 persennya adalah pelajar . Bosscha meneliti banyak objek langit, seperti bintang ganda visual, bintang variabel, survei daerah langit selatan, penelitian planet-planet, dan penelitian hisap ru'yat. Hasil penelitian yang bisa langsung dirasakan masyarakat adalah kalender. Keuntungan observatorium, tidak bisa dirasakan langsung saat itu juga, tapi untuk masa depan. Seperti pengamatan benda-benda kecil yang kembali akan diteliti di Bosscha. Menurut Taufiq, penelitian benda-benda kecil seperti asteroid dan komet ini sangat penting. Karena meskipun kecil, benda-benda kecil tersebut berpotensi berbahaya. Ia menjelaskan, semakin hari semakin disadari, meskipun kecil namun jika benda-benda kecil itu menabrak bumi bisa menimbulkan bencana besar. Ada kelompok asteroid yang berkeliaran di sekitar Bumi, karena orbitnya memotong orbit Bumi. Secara sistematik hal itu harus diketahui. ''Karena kecil, sulit diamati,'' kata Taufiq. Pengamatannya, membutuhkan langit yang tidak tercemari cahaya darat. Peran Bosscha menjadi makin terbatas karena semakin besarnya polusi cahaya yang mulai terjadi sejak 1980-an. Akibatnya, ada objek bintang tertentu yang tidak bisa dilihat. Padahal, bintang yang ada di atas Indonesia susah untuk dilihat dari tempat lain. ''Kalau kita tidak bisa meneliti, Jepang tidak, dan Australia juga tidak, rugi sekali kita. Karenanya kita harus menyelamatkan Bosscha,'' kata Taufiq. Yang paling membahayakan keberadaan Bosscha saat ini, adalah penambahan tingkat cahaya, kebersihan lingkungan, getaran, dan luncuran angin. Peningkatan polusi cahaya, bisa diperkecil dengan penghijauan. Jika tidak hijau, kata dia, hamburan cahaya tidak terperangkap. Menurut dosen astronomi ITB, Seno, kedalaman langit yang bisa dilihat semakin mendangkal karena langit semakin terang. Hingga 1980, kedalaman langit yang bisa dilihat mencapai 18 magnitudo, namun sekarang hanya 15-16 magnitudo. Magnitudo maksimum ini, sambung dia, tergantung langit dan detektor. Seno menjelaskan, objek langit yang lebih redup dari 16 magnitudo, saat ini sudah tidak bisa terlihat. Bintang yang bisa dilihat hanya itu-itu. Seno mengatakan, objek langit yang magnitudonya lebih besar dari 15 sulit diamati. Saat ini, objek penelitian Bosscha yang mulai 'hilang' antara lain bintang variabel dan nebula. Saat ini, banyak bintang variabel yang belum diamati. Jika Bosscha tidak diselamatkan sekarang, apakah Indonesia akan kehilangan aset paling berharganya? Dan apakah anak-anak yang bercita-cita menjadi astronom hanya akan jadi cita-cita? Bosscha, Unggulan Indonesia ''Di Indonesia, yang bisa diadu secara internasional hanya astronomi dan seni,'' ujar Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman. Hingga kini, kata Kepala Observatorum Bosscha, Taufiq Hidayat, Indonesia memiliki 30 doktor bidang astronomi. Jumlah itu terbanyak di Asia Tenggara, yang disusul dengan Thailand dan Malaysia. Taufiq menjelaskan, setiap observatorium di dunia punya tujuan yang unik dan keperluan risetnya berbeda-beda. Prestasi Bosscha, kata Taufiq, adalah katalog bintang vega, bintang ganda visual, bintang-bintang kelas m, hasil survei teleskop smith, planetari nebula, dan lainnya. Katalog itu bukan hanya digunakan di Indonesia melainkan untuk ilmu astronomi internasional. Hingga kini, Bosscha masih menduduki posisi sebagai observatorium terbaik di Asia Tenggara. Sejak berdirinya pada 1923, sekitar 500 kertas kerja telah dihasilkan. Itu berarti kontribusi Indonesia kepada dunia astronomi internasional begitu besar. Bahkan dari 120 kertas kerja dipertemuan astronomi internasional yang diadakan International Atronomical Union (IAU) --yang diikuti 270 peserta dari 24 negara di Asia Pasifik dan Eropa-- 30 kertas kerja berasal dari astronom Indonesia. Menurut Taufiq, salah satu kertas kerja membahas gerak matahari terhadap bintang-bintang di dekatnya. Penelitian ini, bisa menentukan bagaimana struktur galaksi di sekitar matahari. ''Apakah punya lengan yang belok ke kanan dan ke barat,'' ujar Taufiq. Observatorium paling maju, kata Taufiq, adalah Hawai dan Cili. Observatorium di dua tempat itu berdiri di atas 4.000 meter dari atas permukaan laut (dpl). Selain tinggi, tempat tersebut gersang. Pemilihan tempat seperti itu, dimaksudkan agar orang malas datang dan tidak banyak populasi, lampu, manusia, sehingga atmosfer lebih tipis. Namun Indonesia tidak seperti itu. Tanahnya subur, pemandangan indah. Pun di Bandung Utara, sehingga banyak orang yang meminatinya. Fakta Angka 500 200 Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=242329&kat_id=13 || "No Heritage, No Future", Mari kita lestarikan bangunan-bangunan kota tua dari kepunahan || YAHOO! GROUPS LINKS
Kirim email ke |
Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
