Kasada Bromo

Teks oleh Barry Kusuma

Untuk melihat foto klik (http://www.alambudaya.blogspot.com/
<http://www.alambudaya.blogspot.com/>  )

Bromo mempunyai pesona alam yang sangat luar biasa, tidak akan pernah
habis kekaguman kita oleh pemandangan alam yang indah. Gunung Bromo
berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Brahma atau seorang dewa
yang utama, gunung bromo ini merupakan gunung yang masih aktif dan objek
pariwisata yang sangat terkenal diwilayah jawa Timur. Gunung bromo
mempunyai ketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut.

Padang Savana dialam pegunungan yang sangat sejuk, kita dapat melihat
rerumputan kering dan padang pasir yang sangat luas. Yang sangat menarik
dan indah pada saat matahari terbit yang kita lihat dari Puncak Gunung
di Pananjakan, karena kabut yang menyelimuti bawah gunung bromo membuat
panorama indah dan mistik. Untuk mencapai gunung pananjakan kita dapat
menyewa mobil hardtop yang banyak terdapat di penginapan. Atau jika anda
ingin menikmati pemandangan secara alami dan sehat anda dapat melewati
jalan setapak menunuju jalan penanjakan. Tetapi sangat disarankan anda
menyewa guide yang sudah sangat terbiasa akan jalan dan medan di Bromo.

Selain itu juga Suku Tengger memiliki daya tarik yang luar biasa karena
mereka sangat berpegang teguh pada adat istiadat dan budaya yang menjadi
pedoman hidupnya. Pada tahun 1990 suku tengger tercatat berjumlah 50
ribu yang tinggal dilereng gunung Semeru dan disekitar kaldera. Mereka
sangat dihormati oleh penduduk sekitar karena mereka sangat memegang
teguh budaya mereka dengan hidup jujur dan tidak iri hati. Konon Suku
tengger adalah keturunan Roro Anteng(putri Raja Majapahit) dan Joko
Seger (putera brahmana). Bahasa daerah yang mereka gunakan sehari hari
adalah bahasa jawa kuno. Mereka tidak memiliki kasta bahasa, sangat
berbeda dengan Bahasa jawa yang dipakai umumnya karena mempunyai
tingkatan bahasa.

Sejak Jaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci,
karena mereka dianggap abdi – abdi kerajaan Majapahit. Sampai saat
ini mereka masih menganut agama hindu, yang membedakan dengan hindu
dharma Bali adalah perbedaan kasta. Mereka tidak menganut sistem kasta
sedangkan kepercayaan Hindu yang terdapat dibali menggunakan sistem
kasta. Setahun sekali masyarakat tengger mengadakan upacara yadnya
Kasada. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki
gunung bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung bromo. Upacara
dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama
dibulan kasodo menurut penanggalan jawa.

Tempat untuk mengadakan upacara kasada adalah Pura Luhur Poten Gunung
Bromo, tidak seperti pemeluk hindu pada umumnya yang memiliki candi
candi sebagai tempat ibadah. Namun poten merupakan sebidang tanah
dilahan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada. Asal usul
upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu "Pada masa
pemerintahan Dinasti Brawijaya dari kerajaan Majapahit, permaisuri
dikaruniai anak perempuan yang bernama Roro Anteng. Setelah beranjak
dewasa sang Putri jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari Kasta
Brahmana yang bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami
kemerosotan dan semakin berkibarnya perkembangan Islam di P Jawa.
Beberapa orang kepercayaan kerajaan dan sebagian keluarganya memutuskan
pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar ke kawasan pegunungan tengger,
termasuk Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah mereka menjadi penguasa
diwilayah ini, mereka sangat sedih karena belum dikaruniai seorang anak.
Berbagai macam cara mereka coba, sampai pada akhirnya mereka kepuncak
Gunung Bromo untuk bersemedi. Akhirnya permintaan mereka dikabulkan
dengan munculnya suara gaib, dengan syarat anak bungsu mereka setelah
lahir harus dikorbankan kekawah gunung bromo. Setelah mereka dikaruniai
25 orang anak, tiba saatnya mereka harus mengorbankan si bungsu. Tetapi
mereka tidak tega melakukannya, karena hati nurani orang tua yang tidak
tega membunuh anaknya. Akhirnya sang dewa marah dan menjilat anak bungsu
tersebut masuk kekawah gunung, timbul suara dari si bungsu agar orang
tua mereka hidup tenang beserta saudara-saudaranya. Dan tiap tahun untuk
melakukan sesaji yang dibuang ke gunung bromo. Sampai sekarang adat
istiadat ini dilakukan secara turun menurun.

Untuk dapat melihat upacara kasada bromo lebih baik kita datang sebelum
tengah malam, karena ramainya persiapan para dukun. Hari hari upacara
kasada bromo, banyak penduduk sekitar yang berdatangan. Baik mengendarai
sepeda motor atau kendaraan pribadi lainnya. Sehingga mengakibatkan
jalanan kebawah menuju kaki gunung sangat macet. Dan bisa membuat Mobil
dari gerbang tidak bisa turun kebawah. Jalan lain kebawah yaitu anda
berjalan dengan rombongan rombongan penduduk yang menuju pura. Karena
jika sendiri dipastikan akan tersesat, karena kabut yang sangat tebal
dan pandangan sangat terganggu.

Selain itu Upacara Kasada bromo juga dilakukan untuk mengangkat seorang
Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para
tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera.
Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan
sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada
malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan
membawa ongkek yang berisi sesajo dari berbagai macam hasil pertanian
dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun
sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan
mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan
umat dipoten lautan pasir gunung bromo. Bagi masyarakat Tengger, peranan
Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara –
acara ritual, perkawinan dll. Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus
ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra.

Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa
dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam
kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang
mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang
tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan
mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka
mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai
macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul
atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian
yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah
gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.

Exotic Nature and Culture of Indonesia
(http://www.alambudaya.blogspot.com/
<http://www.alambudaya.blogspot.com/>  )

Kirim email ke