Adat dan Demokrasi di Desa Walait, Papua
Oleh Diu Oktora

...

Dari
Bandara Wamena, saya tidak memesan kendaraan khusus untuk bisa tiba di
tengah kota. Dan becak adalah alternatif mengasyikan yang saya pilih.
Namun penampilan saya rupanya mengesankan para tukang becak bahwa saya
adalah “pendatang baru” di tanah mereka, sehingga mereka pun langsung
mematok tarif yang cukup mahal tanpa terlebih dahulu bertanya kemana
tujuan saya. “Saya mau ke tempat kenalan saya, Bapak Robert Djonsoe,
apakah Bapak tahu rumahnya dan berapa tarif becak kesana?,” saya
bertanya pada si tukang becak, yang sebelumnya telah mematok tarif Rp
50.000. Setelah mendengar tujuan yang akan saya datangi, wajah si
tukang becak tampak terkejut dan segera menjawab, “Oh, tarif kesana
lima ribu rupiah saja,” ujar si tukang becak.

Selanjutnya klik 
http://wisataloka.com/jelajah/adat-dan-demokrasi-di-desa-walait-papua/


Salam,
TM. Dhani Iqbal


      

Kirim email ke