Note: forwarded message attached.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ------------- Forwarded Message ----------- From: Prasetya wijaya <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Sent: Tue, 13 Jul 2004 21:43:33 -0700 (PDT) Subject: Terjemahan: Aku menangis untuk adikku 6 kaliNote: forwarded message attached. __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish. http://promotions.yahoo.com/new_mail ------- End of Forwarded Message ------- -- Open WebMail Project (http://openwebmail.org)--- Begin Message -------- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: "Terry Latif" <[EMAIL PROTECTED]>; "Riasari , Triyanawanti" <[EMAIL PROTECTED]>; "Puspa, Lingga" <[EMAIL PROTECTED]>; "otti" <[EMAIL PROTECTED]>; "Zaora Desmaniar" <[EMAIL PROTECTED]>; "Zaky Zain" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, July 12, 2004 2:30 PM Subject: Terjemahan: Aku menangis untuk adikku 6 kali > Best Regards, > > Yuki Herlina > Finance & Accounting Division > PT AON Indonesia > Tel. 522 0123, 522 0116 > Fax. 522 0111, 522 0112 > ----- Forwarded by Yuki Herlina/ARS/ID/AON on 12-07-04 01:24 PM ----- > > Siti Sarah > To: Yuki Herlina/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], Sari > 08-07-04 08:57 AM Timuraningsih/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], Ai > Komariah/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], Dewi Lusiana/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], > Arini Nuraini/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], Juni > Ekaningsih/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], Farah > Octavia/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], Nabila Azhari/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED], > Jeane Nanda/ARS/ID/[EMAIL PROTECTED] > cc: > Subject: Terjemahan: Aku menangis untuk adikku 6 kali > > > > > > Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali > ------------------------------------ > > Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang > sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku > membajak tanah kering kuning, dan punggung > mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai > seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. > > Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang > mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya > membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci > ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat > adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan > sebuah tongkat bambu di tangannya. > "Siapa yang mencuri uang itu?" > Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk > berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun > mengaku, jadi Beliau mengatakan, > "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" > Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. > Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan > berkata, > "Ayah, aku yang melakukannya!" > > Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku > bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus > menerus mencambukinya sampai Beliau > kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas > ranjang batu bata kami dan memarahi, > "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, > hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di > masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai > mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" > > Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam > pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia > tidak menitikkan air mata setetes pun. > Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai > menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku > dengan tangan kecilnya dan berkata, > "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya > sudah terjadi." > > Aku masih selalu membenci diriku karena tidak > memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. > Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut > masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak > pernah akan lupa tampang adikku ketika ia > melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. > Aku berusia 11. > > Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di > SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat > kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima > untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. > Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap > rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. > Saya mendengarnya memberengut, > "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu > baik...hasil yang begitu baik..." > Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan > menghela nafas, > "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa > membiayai keduanya sekaligus?" > > Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan > ayah dan berkata, > "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, > telah cukup membaca banyak buku." > Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku > pada wajahnya. > "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat > lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis > di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua > sampai selesai!" > Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di > dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan > tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku > yang membengkak, dan berkata, > "Seorang anak laki-laki harus meneruskan > sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah > meninggalkan jurang kemiskinan ini." > Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi > meneruskan ke universitas. > > Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh > datang, adikku meninggalkan rumah dengan > beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang > yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping > ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas > bantalku: > "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya > akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." > > Aku memegang kertas tersebut di atas tempat > tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran > sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 > tahun. Aku 20. > > Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, > dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut > semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku > akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). > Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika > teman sekamarku masuk dan memberitahukan, > "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar > sana!" > > Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? > Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, > seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan > pasir. Aku menanyakannya, > "Mengapa kamu tidak bilang pada teman > sekamarku kamu adalah adikku?" > Dia menjawab, tersenyum, > "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan > mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? > Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" > > Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi > mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku > semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, > "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu > adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku > bagaimana pun penampilanmu..." > > Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut > berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, > dan terus menjelaskan, > "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi > saya pikir kamu juga harus memiliki satu." > Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. > Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan > menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. > Aku 23. > > Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca > jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih > di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari > seperti gadis kecil di depan ibuku. > "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak > waktu untuk membersihkan rumah kita!" > Tetapi katanya, sambil tersenyum, > "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk > membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat > luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang > kaca jendela baru itu.." > > Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat > mukanya yang kurus, seratus jarum terasa > menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada > lukanya dan mebalut lukanya. > "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. > "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja > di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada > kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak > menghentikanku bekerja dan..." > Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan > tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir > deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. > Aku berusia 26. > > Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. > Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang > tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi > mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, > sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu > harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, > mengatakan, > "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu > dan ayah di sini." > > Suamiku menjadi direktur pabriknya. > Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan > sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. > Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. > Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja > reparasi. > > Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk > memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat > sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. > Suamiku dan aku pergi menjenguknya. > Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, > "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? > Manajer tidak akan pernah harus melakukan > sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu > sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu > tidak mau mendengar kami sebelumnya?" > > Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia > membela keputusannya. > "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan > saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi > manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan > dikirimkan?" > > Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian > keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: > "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" > > "Mengapa membicarakan masa lalu?" > Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia > berusia 26 dan aku 29. > > Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi > seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara > pernikahannya, pembawa acara perayaan itu > bertanya kepadanya, > "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" > Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, > "Kakakku." > > Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah > kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. > "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada > dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya > berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan > pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu > dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu > dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan > berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, > tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang > begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang > sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama > saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan > baik kepadanya." > > Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu > memalingkan perhatiannya kepadaku. > > Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, > "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima > kasih adalah adikku." > Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, > di depan kerumunan perayaan ini, air mata > bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. > > > Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six > times" > > > > > > > > > < IMPORTANT NOTICE > > This email, including any attachments, is intended for the named > recipient(s) only. > It may contain confidential and/or privileged information, or information > that is otherwise protected from disclosure. > If you are not the intended recipient, you must not copy, distribute or > print this email (including any attachments) or any part of it, or > otherwise disseminate or disclose any information contained therein, or > take any action in reliance on it. All such actions are strictly > prohibited. > Any views expressed in it do not necessarily reflect the views of the > Company. > Any comments, opinions or other information contained in this email that do > not relate to the official business of the Aon Group of Companies ("Aon") > should not be interpreted as being a statement and/or opinion expressed or > endorsed by Aon. > If you receive this email by mistake, please advise the sender by email or > telephone, and then delete the email and any attachments from your system > and destroy any printed copies. > We do not accept liability for any corruption, delay, interception or > unauthorized amendment of the email or any attachments. It is also your > responsibility to check this email and any attachments for viruses. > For further information about Aon please visit our website at www.aon.com. > > > >
--- End Message ---
--- End Message ---
