Sekedar berbagi informasi, miris juga
bacanya.
Have a nice week end….;-)
Wassalam,
Lina
From: handoyo
Sent: Friday, July 30,
2004 8:22 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [perisai] Fw: beda Nasib
Juara AFI vs Juara IPTEK (Cermin Indonesia Raya)
Sebagai renungan hari
Jumat, 30 Juli 2004.
Beda
Nasib Juara AFI vs Juara IPTEK (Cermin Indonesia Raya)
Diterima di ITB Malah Kebingungan
PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh
tersenyum lega, sebab setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran
rekaman atau nyanyi dan dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian halnya
dengan pemenang Olimpiade Biologi Internasional. Usai mendapat 'penghargaan'
dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Departemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas) sebesar Rp5 juta per orang, mereka tambah miris dengan
masa depan mereka sendiri. Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun
tawaran model iklan dari berbagai produk yang berarti bakal
dapat duit.
Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana
mencari duit untuk kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono,
pemenang medali perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur
(Jatim). Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut Teknologi
Bandung(ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang
diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk
meringankan siswa yang orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi
tidak harus membayar uang masuk yang besarnya sekitar Rp45 juta, tetapi untuk
biaya kuliah serta biaya hidup selama di Bandung
masih tetap menjadi pikirannya. "Ya, itulah yang mengganggu pikiran saya,
dari mana saya harus mendapatkan uang," katanya lirih.
Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang diselenggarakan
di Balikpapan
belum lama ini, sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya bisa memperoleh
dana bagi kelangsungan sekolahnya kelak. Mulyono sempat bingung menghadapi uang
kuliah yang besarnya Rp1,7 juta per semester, belum lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan
pemantauannya lebih dari Rp400.000 sebulan. "Tanpa adanya beasiswa atau
sponsor, mustahil saya bisa kuliah di sana,"
kata Mulyono.
Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang
bersama-sama dengan Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama
bangsa dalam Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa depannya.
Darmi mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Namun, sebelum berangkat ke Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia
bukanlah bangsa
terbelakang dengan cara ikut olimpiade sains, Darmi sempat
bingung karena ia diwajibkan membayar uang pangkal dari Universitas Udayana
sebesar Rp11 juta.
Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen
memberikan uang 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam,
"Wah, masih kurang Rp6 juta lagi." Terbayang di hadapannya, orang
tuanya yang guru SMA, harus berusaha keras menyediakan kekurangan biaya
tersebut, belum lagi biaya semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di
Denpasar kelak bila ia
belajar di Universitas Udayana. Letak Denpasar sangat jauh
dari kediaman orang tuanya di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng,
Singaraja. Artinya, selama menuntut ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena
tidak ada famili di sana.
Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia
begitu besar, tetapi mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains
Cuma sebesar itu.
Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak
bangsanya yang telah membawa harum di dunia internasional. Jadi, kapan bangsa
ini mulai menghargai orang cerdas dan pintar?
Sumber Media Indonesia Online (22 Juli 2004).
AFI Versus IPA
Oleh : Ade Armando (Dosen UI dan Pengamat Media)
Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis
Sie? Atau, Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto?
Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di
telinga, jangan berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos
media massa.
Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman
satu surat
kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time siaran
televisi dan radio kita.
Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI),
misalnya, pemberitaan soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma
seujung kuku'.
Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka
berlima semua siswa SMA membawa Indonesia
menempati peringkat lima
besar dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang, Korea Selatan, yang baru
berakhir Kamis lalu.
Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada di bawah Belarusia, Cina, Iran,
dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS, Jepang, atau Jerman dilibas.
Yudistira merebut medali emas untuk kategori total ujian
teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya merebut medali
perak dan perunggu.
Tapi, begitulah Indonesia. Pencapaian dalam
kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan tidak memperoleh
perhatian besar. Remaja Indonesia,
sejak kecil, diajarkan untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar.
Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia
berduyun-duyun mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan
adu kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus ipompakan ke benak bangsa ini.
Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi,
skalanya sudah menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga
bisa menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.
Indonesia
adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama untuk mengatasi
ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena
itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer) dalam jumlah 'secukupnya'
saja.
Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah
generasi muda yang cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting;
namun kita memerlukan lebih banyak lagi orang pintar.
Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik
tinggi. Akibatnya, media massa
tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan 'keunggulan otak'.
Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk
menghargai 'kepintaran'.
Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana
kaum ilmuwan ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan
berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya
manusia unggul di negara ini dipinggirkan.
Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya juga
tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan
kualitas brainware ini.
Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan
dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak
asing.
Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa
dari sebuah universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim
Olimpiade Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS).
Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para
calon ilmuwan terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari
mengiming-imingi beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja. Sementara Indonesia,
hanya mengamati mereka dari jauh.
Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus?
Tidak apa-apa, kok. Ia cuma pemenang medali emas di
Olimpiade Internasional!