|
memang cuanggih tenan wakil rakyat bangsaku....
----------
Forwarded message ---------- From: RAHADIAN, Mario <[EMAIL PROTECTED] > Date: Aug 4, 2005
9:46 AM Subject: [CaniBiz] Studi Banding Oh Studi Banding ... To: [EMAIL PROTECTED]
Studi
Banding Oh Studi Banding ...
Gambar ini adalah gambaran kecil yang
berhasil kami tangkap kemarin di Hotel Radisson SAS Airport Hoofdorp
Belanda. Rombongan lelaki paruh baya dengan wajah melayu, tampak segar
memasuki lobby hotel, walau cuaca saat itu kurang bersahabat. Di tangan
mereka, jelas terlihat tas belanja berlabel merk terkenal bak Gucci dan
Bally, yang sudah menjadi pengetahuan umum, sebagai merk barang yang tidak
murah. Sekilas, bapak-bapak ini terlihat seperti rombongan turis, yang
sedang menikmati zomer vakantie. Siapa sangka, mereka adalah anggota Badan
Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Nursyahbani
Kartasungkana (PKB), Pataniari Siahaan (PDIP), Andi Matalata (Golkar),
Yahya Zaini (Golkar), Agus Tjondro Prayitno (PDIP), Maiyasyah Johan (PDIP),
Ishaq Saleh (PAN), Yusuf Fani Andim Kasim (PBR). Berdasarkan beberapa
sumber, kunjungan mereka ke Perancis dan Belanda sejak tanggal 25 sampai 28
Juli 2005 adalah rangkaian tour studi banding tentang proses legislasi
penyusunan rancangan undang-undang negara.
Seperti yang ditulis
Kompas 13 Juli 2005, dana yang bisa dihabiskan Dewan Perwakilan Rakyat
untuk perjalanan ke luar negeri jumlahnya sangat besar dalam setahun.
Informasi yang diperoleh pers, dana yang tersedia di Badan Urusan Rumah
Tangga (BURT) DPR saja untuk sisa anggaran tahun 2005 mencapai Rp 2,5
miliar. Hhmm, pantas saja bapak-bapak ini tampak sumringah, walau sedang
menjalankan `tugas Negara'. Sekedar gambaran, fasilitas yang diterima
anggota DPR apabila ke luar negeri memang banyak. Menurut keputusan Menteri
Keuangan, 3 April 1992, fasilitas anggota DPR masuk dalam kategori
golongan B: Uang harian perjalanan dinas ke luar negeri untuk ke Amerika
Serikat adalah sebesar 315 dollar AS (Rp 2.929.500, asumsi 1 dollar AS ==
Rp 9.300); Perancis 320 dollar AS (Rp 2.976.000); Korea Selatan 250 dollar
AS (Rp 2.325.000); Thailand dan Australia 220 dollar AS (Rp 2.046.000).
Di luar itu, DPR juga mendapatkan fasilitas pesawat kelas bisnis. Namun,
umumnya anggota Dewan banyak yang menggunakan kelas ekonomi sehingga
kelebihan anggaran yang disediakan bisa dibawa pulang. "Selisih kalau
pindah kelas dari bisnis ke kelas ekonomi biasanya lebih dari separuh,"
ucap seorang anggota Dewan, seperti yang dikutip Kompas.
Bicara soal
studi banding anggota DPR ke luar negeri bagai memutar kaset baru dengan
lagu lama. Apalagi ditambah keadaan dalam negeri yang saat
ini memprihatinkan dengan segala permasalahan BBM sampai keluarnya Inpres
no. 10 tahun 2005 yang menyerukan penghematan, ditambah kontroversi
kenaikan gaji anggota DPR. Surat kabar Sinar Harapan (22 Juli 2005)
memberitakan bahwa dari data Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR saat ini,
ketua DPR mendapatkan gaji Rp 35,17 juta per bulan. Para wakilnya mendapat
Rp 29,89 juta. Sementara anggota dewan Rp 28,37 juta. Gaji ini dinilai
terlalu kecil dan diusulkan untuk ketua menjadi Rp 65,17 juta atau naik
82,5 %. Wakilnya menjadi Rp 51,39 juta, naik 71,8 %. Dan anggota dewan
menjadi Rp 38,01 juta, naik 33,9 %. Ini berarti gaji bulanan ketua DPR
secara keseluruhan naik 104 %, wakilnya naik 89,5 % dan anggotanya
naik 82,8 %.
Mahasiswa dan pelajar Indonesia yang tergabung dalam
Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda menyatakan sikap prihatin; bukan
saja atas terselenggaranya studi banding yang sangat tidak
tepat dilakukan saat ini sebagai cerminan wakil rakyat yang
kehilangan sensitifitasnya atas keadaan krisis bangsa, namun atas segala
kebijakan yang bertolak belakang dari usaha memperbaiki
keadaan carut-marut Negara.
Ada satu catatan kecil yang rasanya
perlu juga kami ungkapkan disini, yaitu kekecewaan terhadap tidak adanya
kesempatan berdialog dengan bapak-bapak Baleg DPR. Saat kami membaca
susunan acara mereka, ada satu sesi khusus dialog dengan komunitas
masyarakat Indonesia di Belanda. Ternyata kami tidak diijinkan mengikuti
sesi tersebut dengan alasan sesi itu hanyalah sesi makan malam intern
dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), alias sesi
siluman.
Satu situasi yang mengecewakan untuk kami, ketika lagi-lagi
sikap elit mencerminkan keengganan untuk terbuka pada kami yang notabene
rakyat Indonesia, pimpinan tertinggi dari Negara Indonesia yang harus
diperjuangkan aspirasinya. Ketika pintu komunikasi tertutup, seolah
berdialog dengan kami menjadi tidak esensial dan tidak penting lagi
dibanding urgensi studi banding itu sendiri yang menurut kami malah lebih
tidak efektif mengingat kemajuan teknologi. Berbagai sarana elektronik
padahal bisa dimanfaatkan untuk bertukar informasi bahkan pertemuan online
antar benua dengan biaya yang jauh lebih murah dan cakupan peserta yang
lebih fleksibel. Perwakilan Indonesia di berbagai negara bisa pula
diberdayakan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Apakah ini suatu
simbol bahwa virus imunitas untuk berdialog dan mendengarkan aspirasi kami
sudah mulai menggejala, atau malah sudah akut?
Maka jangan salahkan
rekan-rekan PPI Prancis yang memilih walk out saat acara makan malam di
KBRI di Paris dengan rombongan DPR, jangan tuding mereka bersikap
kekanak-kanakan dengan dalih kabur begitu saja tanpa mau mendengarkan
penjelasan anggota DPR, karena mungkin sesungguhnya memang tertutup sudah
pintu dialog antara kami, Perhimpunan Pelajar Indonesia di luar negeri ini
sebagai salah satu elemen masyarakat Indonesia, dengan orang-orang yang
konon mewakili aspirasi kami. Jangan salahkan berita yang terlihat
menyudutkan, karena mungkin memang tidak ada niat dari anggota DPR atau
siapapun itu untuk meluruskannya.
Dan siang ini, ketika tulisan ini
kami rampungkan sebagai sikap kami, mungkin para anggota DPR tersebut
sedang duduk dengan nyaman di kursi pesawat kelas bisnis, tersenyum sambil
menikmati segelas kopi manis, ditemani sejumlah tas belanja oleh-oleh untuk
kerabat dan keluarga, dengan sumbatan earphone di telinga untuk mendengar
lagu-lagu indah di pesawat, yang tak seindah suara kami
disini.
Selamat Jalan Bapak-bapak Leiden, 28 Juli
2005 Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda
Sumber: Perhimpunan
Pelajar Indonesia di Belanda - http://www.ppibelanda.org/index.php?option==com_content&task==view&id=&Item id==1
Foto-foto dapat dilihat di: http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272479.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272480.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272482.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272483.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272484.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272486.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272487.jpg http://www.ppibelanda.org/images/stories/p7272488.jpg
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
|