Behalf Of M... P
Sent: Tuesday, August 23, 2005 10:34 AM
Subject: []- Ganti Rugi Indonesia untuk Belanda!


Selasa, 15 Agustus 2000

Ganti Rugi Indonesia untuk Belanda


(Kompas) TIDAK banyak orang tahu, perbaikan dan
pembangunan kembali Belanda yang rusak setelah Perang
Dunia (PD) II justru dibantu oleh bangsa Indonesia.
Ini semua ada kaitannya dengan persetujuan Konferensi
Meja Bundar (KMB), yang memutuskan sebagai imbalan
penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, Belanda
mendapat bayaran sejumlah 4,5 milyar gulden dari pihak
Indonesia. 

Lewat tulisannya di de Groene Amsterdammer Januari
2000 berjudul De Indonesische Injectie (Sumbangan
Indonesia), sejarawan Lambert Giebels mengungkapkan,
sebelumnya Belanda menuntut jumlah yang lebih banyak,
yakni 
6,5 milyar gulden.

Dari mana angka itu diperoleh? Katanya, itulah total
utang Hindia Belanda kepada Pemerintah Belanda yang
berkedudukan di Den Haag. Itu berarti, uang yang
dikeluarkan Belanda untuk menindas Indonesia,
khususnya dua kali agresi militer, justru harus
dibayar oleh pemerintah baru Republik Indonesia.
Pembayaran berlangsung terus antara tahun 1950-1956,
sampai Republik Indonesia secara sepihak membatalkan
persetujuan KMB, karena menyadari persetujuan itu
berat sebelah. Ketika itu Indonesia telah membayar
hampir 4 milyar gulden.

Dibandingkan dengan bantuan Marshall (Marshall Plan)
AS kepada Belanda tahun 1948-1953-yang nilainya
mencapai 1.127 juta dollar AS (1 dollar AS=3,80
gulden) dan berupa utang-"suntikan atau sumbangan
Indonesia" tak selisih banyak. Menurut Giebels, ironis
bahwa periode ini dikenal sebagai the miracle of
Holland (keajaiban Belanda), dan tidak disebutkan sama
sekali bahwa hasil itu adalah berkat sumbangan bekas
tanah jajahan Indonesia. 

Tak kalah jadi pertanyaan sejumlah pemerhati kritis,
mengapa dana Marshall Plan yang seharusnya digunakan
untuk membangun kembali Belanda sesudah PD II justru
dimanfaatkan untuk membiayai agresi militer ke
Indonesia?

Menurut Giebels, untuk menggambarkan sikap Belanda
waktu itu, ada pepatah yang mengatakan: Indie
verloren, betekende niet ramspoed geboren (Hindia
hilang bukan berarti tiba bencana). Jadi, Belanda
masih bisa menarik keuntungan dari bekas jajahannya
meskipun tanah jajahan itu sudah lepas. Kalau
dihitung, dari suntikan Indonesia ditambah bantuan
Marshall, berarti Belanda memperoleh rezeki sekitar 8
milyar gulden.

Maaf dan ganti rugi

Gambaran di atas mungkin merangsang pikiran kita,
mengapa justru Indonesia yang membayar Belanda. Apakah
tidak terbalik? Apakah bukan Belanda yang justru harus
membayar ganti rugi? Dan apakah tidak seharusnya
Belanda meminta maaf kepada Indonesia, seperti yang
telah dilakukannya terhadap masyarakat Yahudi, karena
adanya orang Belanda yang bekerja dengan Nazi untuk
memusnahkan kaum Yahudi?

Layak untuk disimak tulisan Jan Breman, guru besar
dari Amsterdam yang dimuat dalam Vrij Nederland
Februari lalu saat Presiden Abdurrahman Wahid
berkunjung ke Belanda. Menurut Breman, minta maaf saja
tidak cukup. Minta maaf saja, itu cuma gratis. "Habis
manis sepah dibuang," demikian kurang lebih Jan Breman
menggambarkan sikap Belanda. 

Tenaga dan materi yang disumbangkan Hindia Belanda
bagi Negeri Belanda demikian besar, sedangkan kondisi
politik maupun ekonomi Indonesia sangat kacau dan
lemah saat ditinggalkan Belanda. Untuk membangun
stabilitas yang mantap saja sulit, apalagi masih harus
membayar "imbalan kemerdekaan" sebesar hampir empat
milyar gulden. Giebels tak habis pikir, bagaimana
Belanda tega melakukan hal itu, padahal kepada
Suriname (juga bekas jajahan Belanda) Belanda justru
memberi hadiah sebesar dua milyar gulden pada tahun
1980-an. Baik Giebels maupun Breman menyebut sikap
Pemerintah Belanda sebagai dubbele moraal atau
hipokrit. Karena itu mereka mengimbau agar ganti rugi
material juga dikaitkan dengan permintaan maaf Belanda
terhadap Indonesia.

Pendapat Giebels dan Breman itu didukung oleh wartawan
dan penerbit bersuara vokal Ewald van Vugt yang
menekuni masalah kolonialisme Eropa. Van Vugt pernah
menyoroti politik perdagangan candu Belanda di Hindia
Belanda selama ratusan tahun dalam bukunya Wettig
Opium (1985). Menurut dia, candu mulai jadi sumber
penghasilan utama Belanda sejak tahun 1743. Antara
tahun 1848-1866, laba perdagangan candu mencapai 155,9
gulden, yakni 8,2 persen pemasukan total dari tanah
jajahan, dan 12,5 persen anggaran belanja total Negeri
Belanda dan Hindia Belanda. Antara tahun 1860-1915,
laba candu meningkat 15 persen per tahun dari seluruh
pemasukan Belanda. Laba candu antara tahun 1904-1940
sebesar 465 juta gulden. 

Bagaimana pemasukan luar biasa dari hasil perdagangan
candu yang mendukung kesejahteraan negeri Belanda
sampai tidak tercantum dalam catatan sejarah,
merupakan teka-teki bagi van Vugt (disebutnya sebagai
skandal). Tahun 1988, van Vugt kembali menerbitkan
buku yang menggemparkan berjudul Het dubbele Gezicht
van de Koloniaal (wajah ganda dari penjajahan). Buku
tersebut memuat tanpa tedeng aling-aling hal-hal yang
tabu dalam penulisan sejarah kolonial Belanda, seperti
perdagangan candu dan budak, kerja paksa dan kekerasan
senjata, agresi militer, peran propaganda dan sensor,
barang berharga/seni arsip penting yang dirahasiakan
seperti Rhemrev Rapport.

Prof Wertheim, seorang pakar sejarah Indonesia, memuji
tulisan van Vugt sebagai langkah berani dalam
menyingkap topeng penulisan sejarah yang tidak benar.
Untuk itu, van Vugt pantas didukung secara serius. 

Dalam tulisannya di Vrij Nederland yang berjudul
Historici zonder Grenzen bulan Februari lalu, van Vugt
kembali mengimbau agar para sejarawan bekerja sama
dengan ahli hukum dalam menyikapi pelurusan sejarah
kolonial, antara lain dengan menginventarisir
utang-utang yang harus dibayar kembali oleh bekas
penguasa terhadap bekas tanah jajahan. Hal serupa
tengah dilakukan dalam pembayaran kompensasi korban
warga Yahudi pada PD II. 

Menurut van Vugt, Sorry zeggen is niet genoeg (kata
maaf saja tidak cukup), karena kerugian dan
penderitaan yang diakibatkan oleh penjajahan sangat
besar untuk bisa diukur dengan ganti rugi materi
belaka.

Pronk setuju ganti rugi 

Kepedulian terhadap pengkajian kembali hubungan
Indonesia-Belanda ini menarik perhatian seorang
mahasiswi Belanda, Annemarie van Bodegom. Ia tergerak
menulis skripsi tahun 1996 dengan tema Modal yang
Diperoleh Belanda dari Hasil Perbudakan di Hindia
Belanda pada Waktunya Harus Dikembalikan ke Indonesia.
Penelitiannya mencakup periode penjajahan Belanda
antara tahun 1830 hingga tahun 1916, dilengkapi dengan
informasi yang diberikan langsung oleh Jan Pronk,
mantan Menteri Kerja Sama Pembangunan Belanda. 

Annemarie memulai skripsinya dengan menyoroti situasi
politik di Hindia Belanda antara tahun 1830-1877,
karena sejak kedatangan van den Bosch sebagai Gubernur
Jenderal, sistem kerja paksa hasil bumi mulai
diterapkan di Hindia Belanda. Sampai tahun 1860,
keuntungan yang diraup Belanda (disebut batig
slot/surplus akhir) sangat besar, demikian pula korban
nyawa yang diakibatkannya. Antara tahun 1849-1850 saja
terhitung lebih dari 140.000 orang pribumi meninggal
akibat kerja paksa. Sedangkan keuntungan antara tahun
1830-1877 tercatat 850 juta gulden, yang digunakan
antara lain untuk membiayai pembangunan infrastruktur
di Belanda seperti jalan kereta api, saluran air, dan
sebagainya.

Eksploitasi terhadap Hindia Belanda mulai diamati
secara kritis sejak tahun 1878, berkat tulisan
wartawan Belanda yang sering mengadakan perjalanan ke
Hindia Belanda, Brooshooft. Kemudian tahun 1888,
pendeta Niewenhuis menyampaikan soal ereschuld (utang
budi) ke parlemen Belanda; tak ketinggalan pula
Multatuli yang gigih memperjuangkan masalah etika,
meskipun tidak banyak dihiraukan. Puncak dari
perlakuan terhadap pribumi yang di luar batas
perikemanusiaan baru terungkap tahun 1985, berkat
penelitian guru besar Universitas Erasmus, Jan Breman,
yang berhasil menemukan Rhemrev Rapport (1904) yang
sempat disembunyikan begitu lama. Belakangan diketahui
bahwa Rhemrev adalah nama samaran. Nama aslinya adalah
Vermehr (kebalikan dari Rhemrev). Arsip ini memaparkan
secara rinci kebiadaban dan penyiksaan yang
diperlakukan penguasa kolonial serta penderitaan para
kuli pekerja perkebunan waktu itu. 

Sebagai generasi muda Belanda, Annemarie tidak
menyangka bahwa kepentingan ekonomi penguasa kolonial
di Hindia Belanda di masa lalu mengalahkan nilai-nilai
dasar hak asasi manusia.

Lantas kalau bisa dihitung, berapa sebenarnya jumlah
nominal kekayaan yang diraup Belanda dari Hindia
Belanda yang pantas untuk dikembalikan, demikian
pertanyaan Annemarie. 

Pronk yang sempat menangani bantuan pembangunan
Belanda kepada Indonesia yang dibekukan tahun 1992
menjawab sebagai berikut. Nilai batig slot yang
dihasilkan antara tahun 1830 hingga tahun 1870 dan
disalurkan ke Negeri Belanda adalah 850 juta gulden.
Kalau ini dihitung dengan harga indeks tahun 1992,
jumlahnya mencapai 15,4 milyar gulden. Sedangkan
jumlah total bantuan Belanda (berupa pinjaman dan
sumbangan) antara tahun 1966 hingga tahun 1992 kurang
lebih adalah 6,3 milyar gulden (Pronk tidak mengelak
kemungkinan adanya selisih dalam perhitungannya). 

Selanjutnya Annemarie ingin mengetahui berapa
kira-kira keuntungan perusahaan negeri/swasta Belanda
di Hindia Belanda antara tahun 1877, tahun 1990,
hingga tahun 1942. Namun, pertanyaan itu belum sempat
terjawab sampai sekarang. Sementara dia hanya bisa
memperkirakan, jika dari jumlah batig slot yang 15,4
milyar dipotong 6,3 milyar, maka sisa yang masih harus
dibayar jika dibulatkan adalah 10 milyar gulden. 

Andaikata jumlah yang sempat dibayar dalam KMB sekitar
4 milyar gulden ikut dihitung, maka jumlahnya bisa
lebih dari 15 milyar. Apakah batig slot yang disebut
Pronk itu sudah mencakup laba perdagangan candu yang
dicantumkan van Vugt dalam bukunya?

Hal-hal tersebut di atas tidak urung akan disinggung
pula sebagai konsekuensi permintaan maaf yang telah
diutarakan PM Wim Kok beberapa bulan lalu. Hubungan
Belanda-Indonesia akan memasuki babak baru apabila
momentumnya dimanfaatkan secara bijaksana oleh kedua
belah pihak, yang dapat membuka cakrawala hubungan
yang terbuka dan sejajar. Untuk itu diperlukan
transparansi, kejujuran dan keberanian menyikapi masa
lalu. (Denny Sutoyo-Gerberding, koresponden Kompas di
Den Haag, Belanda ) 







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h7lavl7/M=323294.6903898.7846636.3189767/D=groups/S=1705077624:TM/Y=YAHOO/EXP=1124787713/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke