Entahlah. Bisa jadi ini salah persepsi belaka karena
buktinya ibuku memasukkan aku ke dalam sanggar tari,
tetap membelikan aku boneka-boneka lucu, gaun-gaun
musim panas, selain mainan pistol, anak panah, dan
celana pendek. Tapi, aku benar-benar yakin pernah
mendengar seseorang mengatakan kepadaku bahwa
keluargaku pasti akan lebih baik dan lengkap
seandainya aku laki-laki, seandainya dulu bukan kakak
laki-lakiku yang terlahir mati dalam kondisi membiru.
Siapa ya dia. Apakah mungkin nenekku?  
Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, dari saat itu, aku
bertekad untuk kuat dan berusaha menjadi semandiri dan
sehebat mungkin agar tidak menyusahkan. Itu sebabnya,
ketika ada teman laki-laki yang menawarkan bantuan
untuk membawakan tasku yang berat atau memindahkan
sesuatu, aku umumnya menolak. Selama aku masih bisa
mengerjakannya sendiri, aku tidak melihat alasan untuk
merepotkan orang lain. Dan ketika aku terluka, entah
karena terpental dari sepeda, terjerembab karena
tersandung, jatuh dari pagar atau pohon, aku biasanya
menahan tangis agar tidak terkesan cengeng. Dan aku
relatif protektif terhadap teman-teman perempuanku.
Ada yang mengganggu, cari masalah, atau menyakiti
mereka, sulit bagiku untuk tinggal diam. Biasanya aku
akan mengatakan sesuatu kepada yang bikin error. Dan
aku suka berkumpul dengan teman-teman laki-lakiku
karena membuatku merasa jadi one of the guys. 
Tetapi, itu bukan berarti bahwa aku kemudian memandang
diriku sebagai laki-laki. Sama sekali tidak. Aku
sejatinya tetap perempuan dengan perasaan suka dan
sisi sensitif khas perempuan. Pernah di sekolah
menengah beberapa teman-teman cowok sepertinya sempat
salah sangka. Dikiranya aku gay. Yaiks. Gara-garanya
ada sahabat cewekku yang selalu bersemangat saat
bertemu denganku. Setiap kali dia melihatku dari
kejauhan, dia akan berlari cepat ke arahku,
merentangkan tangannya, lalu memelukku erat-erat
sebelum mencium pipiku kanan kiri. Lama-lama ya jengah
juga, terlebih karena aku tak jarang mendengar
celetukan teman-teman cowok: oh man! atau mau dong!
dan sejenisnya. Sepertinya memang kelihatan tidak
senonoh. Syukurnya sahabatku lama-lama sadar diri.
Lihat sikapku, sahabatku bertanya, ”Hei, kau tidak
berpikir mereka mengira kita lesbi kan?” Seperti
disambar petir, matanya lalu membelalak. ”Kau tidak
berpikir aku lesbi kan?!” sambil membekap mulutnya.
Tentu aku mengerti dirinya. Dia sebatas seseorang yang
sama bersemangatnya dengan aku dan itu semata-mata
ekspresi sayangnya kepadaku, selain gemes tentu saja
(seperti yang suka dia bilang, ”Iih...lucu banget sih
elo”). Hanya saja, mengingat sulit bagi sebagian orang
untuk memahami karakter energiknya ini, kusarankan
padanya untuk lebih menahan diri. Dan dia pun sepakat.
Maka sejak hari itu, dia tetap lincah dan antusias
saat bertemu denganku. Tapi sebagai ganti ciuman, dia
merangkul bahuku. That’s a whole a lot better dan aku
bisa seratus persen menjamin bahwa dia sampai hari ini
pun sejatinya cewek tulen seperti halnya aku.    
   Bagaimanapun, aku tetap memiliki dilema. Berhadapan
dengan cowok, secara psikologis, aku enggan menganggap
salah satu lebih istimewa dari yang lainnya. Semua
sama saja. Apalagi, sejak aku tahu bahwa pacaran tidak
ada dalam Islam, serta-merta aku memandang seluruhnya
sebagai kenalanku, kakakku, adikku, temanku, atau
sahabat karibku. Jadi, salah siapa pernikahan menjadi
problematika? 
Mengantisipasi hal itu, aku berusaha mengambil jalur
yang benar, mencari jalan untuk bertaaruf. Yang
dimaksud taaruf adalah berkenalan dengan seorang
laki-laki atau ikhwan dengan niat menikah tanpa
melalui proses kencan. Tapi, ternyata susah juga. Ada
beberapa teman yang ingin membantuku, tapi aku sejauh
ini selalu tidak yakin dan diliputi bimbang karena
sebenarnya aku ingin mengenal sifat orang yang
bersangkutan dengan jalan pertemanan. Bukan
kenapa-napa. Sekadar melihat biodata seseorang, kamu
bisa terkagum-kagum. Wow. Nilai IPK-nya di atas 3.5.
Lulusan dari universitas ternama. Profesi menjanjikan.
Penampilan boleh juga. Masalahnya, kepribadianlah yang
paling utama. Kamu baru benar-benar bisa mengetahuinya
ketika kamu bekerja sama atau lebih dari separuh hari
berkumpul dengannya dan teman-temannya, ketika kamu
sakit dan butuh sedikit hiburan dan perhatian, ketika
kamu mendengarkan kisah-kisahnya, tuturan tentang
kebiasaannya, pekerjaannya, keluhannya, nasihatnya,
hobinya, dan amarahnya. Bagiku tidak masalah jika dia
agak pendiam, jahil, atau suka ingin tahu, tapi kalau
dia selalu mau menang sendiri, terlalu membanggakan
diri, tidak menghargai orang lain, serba meremehkan
segala sesuatu, penuh prasangka, tak bisa berempati,
hanya peduli pada kepentingannya sendiri dan dunia
fana, individualis, pemalas, tak percaya pada Tuhan,
serta terjebak monotoni, maka untuk jadi pasangan
hidup rasanya aku tidak sanggup. Tidak masalah menjadi
teman atau sahabat, tapi untuk hidup selamanya dengan
orang seperti ini aku angkat tangan. 
Dan begitulah. Aku masih duduk di sini, sendirian, di
kursi kesayanganku, menulis cerita ini. Cerita yang
membosankan menurutmu? Ah ya. Terima kasih atas
pendapatnya. Aku menghargainya. Hanya saja, ini memang
sesuatu yang sulit untuk diputuskan. Rasanya seperti
bermain rolet Rusia. Kamu punya cukup banyak
kesempatan untuk menang, tapi jika salah, matilah
kamu. Sebagai manusia, tentu tidak ada salahnya
menantang ’bahaya’ sekali-kali. Itu termasuk hal yang
baik malah. Hanya saja, ini melibatkan orang lain. Aku
tidak mau ’jadian’ dengan seseorang hanya gara-gara
dia suka penampilanku. Penampilan bisa berubah. Coba
pikir, bagaimana kalau aku sudah tua nanti? Atau jika
aku mengalami kecelakaan parah yang merenggut seluruh
kecantikan yang menurutnya aku miliki secara kasat
mata? Apakah dia akan tetap bersamaku? Dan aku tidak
ingin ’jadian’ dengan orang yang semata-mata
menganggapku pintar. Maksudku, bagus jika ia
berpandangan begitu. Tapi, ada banyak hal yang tidak
aku ketahui dan sulit kumengerti. Jika dia berharap
aku tahu semua jawaban tentang dunia, sudah tentu aku
tak bisa demikian. Dan jika dia kemudian menertawakan
aku atas banyak detail kebodohanku, aku menerimanya.
Hanya saja, aku lebih suka jika dia mau
menerangkannya, berbagi pengetahuan tentang apa yang
sudah dipelajarinya. Bukankah menyenangkan jika ada
seseorang yang bersedia mengajarimu tentang rasi
bintang atau misalnya merinci alasan kenapa kita tidak
boleh terlalu lama berhandphone ria dengan bahasa
sehari-hari yang mudah ditangkap indera?  Dan aku
tidak mau ’jadian’ dengan seseorang yang sekadar
mencari kebanggaan atau melihat aku sebagai satu wujud
kemenangan, terlebih sebagai suatu cara untuk menolong
seorang gadis yang malang dari ketelantaran. Bukankah
memuakkan jika kau mendengar seorang lelaki sesumbar
pada teman-temannya ”Aku sudah tahu dia menyukaiku
dari dulu. Maksudku, dia naksir aku dan yah ...
biasa... Namanya juga cewek. Mudah GR sekali kita
mulai bermanis-manis dengannya. Yah, beruntunglah dia
mendapatkan aku ketimbang jadi perawan tua”. Ck. Tipe
yang seperti ini tentu yang paling parah dari semua.
Sombong sekali dengan apa yang dimilikinya, padahal
Allah bisa dalam sekejap mencabut apa saja yang telah
diterimanya.   
Menyukai seseorang membutuhkan proses. Dia tidak perlu
seatraktif Winona Ryder atau Johnny Depp. Dia tidak
perlu secerdas Richard P. Feynman – walaupun itu tentu
suatu kelebihan, terutama jika dia humoris pada
saat-saat yang tepat. Dan dia tidak perlu sekaya Bill
Gates dengan imperium Microsoft-nya. Dia bisa
seseorang yang sangat biasa, agak pendiam, dengan
banyak minat dan hobi yang mungkin tidak diketahui
orang banyak. Dia mungkin orang yang penuh perhatian,
tapi menunjukkannya dengan cara-cara yang halus dan
tidak terduga. Dia seorang pekerja keras dalam bisnis
yang diyakininya, yang meskipun kecil tapi dikelola
dengan segenap hatinya. Dan dia seseorang yang lembut
saat berbicara dengan anak-anak, tapi tegas, kuat, dan
cepat tanggap dalam segala tindakannya. Seseorang yang
memperdalam agama dan mengajarkannya pada siapapun di
sekitarnya tanpa mengkategorikan, apalagi memandang
dirinya lebih paham dari yang lainnya. Seseorang yang
percaya pendidikan sangat penting dan berusaha
memperjuangkan dan menyebarluaskannya. Seseorang yang
mencintai alam, memupuk, dan melestarikannya.
Seseorang yang mengerti kapan saatnya bercanda dan
kapan mesti serius dalam menghadapi sesuatu. Seorang
lelaki sejati yang berani mengambil resiko (dengan
cukup perhitungan), optimistis, bisa dipercaya,
berenergi, yang mengerti bahwa ia hanyalah sebutir
pasir di bumi yang entah kapan akan tersapu angin
kembali kepada Pencipta-Nya. Yang mempersiapkan diri
dan semua orang yang dikenalnya untuk menghadapi hari
akhir, namun tetap menikmati hidup dengan cara-cara
yang luar biasa. Yang menghormati setiap perempuan
sebagai mitra, teman, sahabat, individu berharga,
sebagaimana halnya ia menghormati ibunya. 
Terus terang saja, aku belum menemukannya, masih
memimpikannya dan tidak tahu bagaimana cara melepas
mimpi itu. Tentang dia yang mudah-mudahan suatu hari
akan datang. Mungkin di hari ulang tahunku. Mungkin di
masa paling sedihku. Ketika cuaca mendung, langit
kelam, tak ada sinar matahari yang sanggup menembus
awan. Tentang sebuah pertemuan di tengah derasnya
curahan hujan, ketika aku menunduk menatap ujung
sepatuku yang tertutup lumpur, menggigil dingin,
melihat genangan air yang membanjiri ruas jalan.
Ketika aku mulai merasa sendirian, ditinggal,
digeliati rasa sepi, dan kehilangan harapan, kemudian
sebuah payung tiba-tiba menaungiku, menghentikan
hujaman air yang menyakiti. Dan saat aku mendongak,
mataku tertumbuk pada sepasang mata teduh yang memberi
rasa aman. Seluruh penglihatanku seolah-olah hanya
tertuju padanya, pada seraut wajah yang sepertinya tak
asing dan penuh kehangatan. Dan tanpa bersuara, dia
memberitahuku bahwa dia tidak akan melukaiku, tidak
akan menyerah untuk meyakinkan aku, membelaku,
membantuku, membimbingku, dan menyayangiku tanpa batas
waktu. Dan dengan pengertiannya, dia menegaskan
kepadaku bahwa cinta sejati sungguh-sungguh ada, bukan
sebatas mitos atau dongeng sebelum tidur yang
dibacakan orangtua kita semasa kita masih kecil dulu.
Di saat itulah, ketika ragu terkikis, air mata bening
menitik, karang es yang telah lama mengeras dan
menguras energi di hati luluh dan menghilang, hanya di
saat itulah aku akan tahu bahwa aku telah
menemukannya, separuh jiwa yang telah lama kucari. 

(Nadiah Abidin, 20 September 2005, pukul 07.37) 

PS: buat kakakku di LN yang sedang menanti momongan
pertamanya, aku doakan bayinya terlahir sehat; buat
teman-teman yang lagi cari kerja, mudah-mudahan cepat
dapat dengan gaji yang sepadan dan lingkungan kerja
yang nyaman; buat sobat-sobat yang masih jomblo, sabar
aja guys; buat teman-teman yang baru merit (Sri
Wahyuni, Irep, Ratno&Nina) and yang lagi plan merit,
selamat menempuh hidup baru.



                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/G7lQgA/FpQLAA/HwKMAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke