waaaahhhhhh, benar2 terharu neeh!! indah sekali kebersamaan 98. Jadi pengen ngikutin jejaknya. salut

Nadiah Abidin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
REUNI 98
 
20 Nopember 2005, pukul 12.15
 
Landcruizer kami belum lagi terparkir dengan benar di pekarangan belakang, ketika aku melompat turun dari mobil dan melesat ke dalam rumah. Setengah berlari, aku menyambar handuk yang tergantung di hak belakang pintu kamarku dan mengambil pakaian ganti. Aku sudah berniat masuk kamar mandi ketika aku teringat sesuatu. Aku mulai menelpon Naila: “Hai La. Ada di mana?EKebetulan. Dia ternyata ada di perapatan Nain, tikungan terkenal dekat rumahku. Maka, dia langsung memutuskan untuk balik arah untuk menemuiku.
            Suasana cukup hektis karena hari ini dijadwalkan reuni akbar di tempat Nurina. Berhubung aku sejak Jumat malam berakhir pekan bersama keluarga di Anyer, urusan persiapan menumpuk pada hari H: menjemput teman-teman di Mc D Hero, mengkonfirmasi kehadiran anak-anak yang mau datang, membeli aqua gelas dan cemilan bersama Naila, menyiapkan mik, membuat dan memasang petunjuk arah, bawa spidol warna-warni, buku absensi dan/ kenang-kenangan berikut membantu keperluan lain dari tuan rumah. Kepalaku sampai terasa berat harus mengingat detail-detail kecil ini. Tanpa catatan, susah mencek segala sesuatu dan memastikan tidak ada yang ketinggalan.
            Bagaimanapun, aku dipenuhi rasa senang. Sudah cukup lama tidak kumpul bareng anak-anak. Seperti apa ya mereka sekarang?
Dilihat-lihat, semuanya sebenarnya berawal dari ide Ririn, Windia, dan Shaula untuk mengadakan buka puasa bersama. Dari semula bertiga, mereka sepakat mengajak teman-teman eks IPS 1 dan 2.1 SMA buat bergabung. Hasilnya bagus. Sebanyak 17 orang hadir, meski tidak seluruhnya berasal dari kelas yang sama. Sebagai follow up, dibuatlah rencana untuk mengadakan reuni akbar. Tempat yang ditetapkan adalah Hartz Chicken Buffet pada tanggal 20 Nopember.
Lima hari sebelum waktu yang ditetapkan, aku dan Nurina mencoba menyampaikan informasi tersebut ke sejumlah teman. Ternyata mereka agak berkeberatan pergi ke HCB mengingat harga masuk sudah melonjak menjadi 43 ribu per kepala.  Cukup mahal untuk sekali makan, terutama menimbang kebutuhan sehari-hari sudah meningkat harganya dan ongkos jalan bertambah. Pertanyaan yang kemudian muncul: Apa yang bisa dilakukan buat mengatasi masalah itu? Apa tidak ada alternatif lain yang lebih ekonomis? Supaya yang bisa bergabung menjadi lebih banyak, waktu yang tersedia lebih panjang, kondisi tempat lebih akrab dan enak buat mengobrol.   
Menginap di rumah Nurina karena kemalaman, aku spontan berkomentar bahwa tempatnya sebetulnya cukup untuk reuni. Ruang tamu bisa memuat sekitar 40 orang. Sebagai pengganti menu HCB, kita bisa memesan makanan cepat saji Mc D di Grand Mall. Biar seru, oke juga tukeran kado seharga 5000, sekadar buat konyol-konyolan. Terus dibikin game. Ditambah masing-masing orang membawa makanan dan minuman apa saja sebagai penambah menu utama. Kedengarannya seperti rencana yang cukup baik, toh masih ada waktu buat ganti plan.
Maka, pada malam yang sama, aku dan Nurina mengontak Ola dan Windia. Pagi sekitar jam 10 kami dapat jawabannya: ayo deh pindah. Dari hasil ini, kami mengambil langkah cepat karena aku akan pergi liburan. Ola bertugas menyebar informasi ke anak-anak yang rutin arisan berikut anak-anak 98 yang dikenalnya. Aku dan Nurina mengganti keterangan di milis angkatan, sma, dan friendster. Selain itu, kami meng-sms dan menelepon beberapa teman perorangan yang kami pikir pentolan kelasnya atau bisa mengontak pentolan kelas agar menggerakkan teman-temannya.
Dalam daftar estimasi, terkumpul sekitar 50 nama. Cukup banyak dan membuat khawatir tentang: apakah tempat parkir mencukupi misalnya. Untung Nurina cepat sigap. Dia meminta ijin pemanfaatan lahan kosong satu blok dari tempatnya, plus memberitahu para tetangga untuk ikut menjaga keamanan kendaraan. Selain itu, dia menyiapkan kue coklat dan pizza.
De factonya, pada hari H depan Mc D Hero yang dijadikan waiting point tampak sepi. Usai memarkir motor di basement, aku menyeka keringatku dan mengambil napas dalam-dalam. Bagaimana ini? Terbayang kue-kue dan minuman yang dengan susah payah dibuat Nurina. Sehari sebelumnya aku sudah melarangnya karena menurutku sudah ada ketentuan tiap orang bawa makanan dan minuman sendiri, berikut niat pemesanan ke Mc D Grand Mall.  Tetapi Nurina bilang tidak masalah. Dia suka memasak. Bikin beberapa kue tidak ada salahnya, begitu tanggapnya.
Nyatanya yang dia maksud dengan beberapa kue, jadi berloyang-loyang yang cukup untuk mengisi perut 70 orang.
Aku terus-menerus memerhatikan jam. Pukul 15.15. Akankah ada yang datang? Sementara tenggat tunggu hanya sampai pukul 15.30. Lebih dari itu, ditinggal dan diminta langsung ke rumah Nurina.
Tersebutlah Sandi, Nico, dan Ambitha tahu-tahu muncul. Wah, aku tidak bisa melukiskan lagi seberapa gembiranya aku melihat mereka. Terima kasih ya Allah. Tapi di sinilah pukulannya. Mereka ke Mc D hanya untuk isi pulsa, buat selanjutnya ke rumah Dewi IPA 4 yang sedang hamil. Menurut keterangan Nico, dia dapat sms reuni di tempat Nurina hari Jumat dan itu sudah terlalu mepet karena ada janji lain yang telah dibuat.
Setelah mereka berlalu, muncul Eksi dan Olina. Alhamdulillah. Mereka langsung aku sarankan ke tempat tujuan. Maka pergilah mereka, tinggal Yuni yang datang belakangan. Dia kelihatan ragu karena tidak ada siapapun selain aku di sana. Tidak lama kemudian memang datang Evi. Tapi lagi-lagi. Dia ke Hero sebatas untuk jalan-jalan bersama calon suaminya. “Januari datang yah ke resepsikuE begitu pintanya setelah menceritakan sedikit detail tentang pertemuannya dengan sang kekasih sebelum memohon maaf karena perlu pergi menemani masnya itu.
Lantas, pelan tapi pasti sms tidak jadi datang mengalir masuk. Lia rupanya keluar kota. Rahma dan Rini DA mendadak ada urusan lain. Fini kedatangan saudara. Icha ke rumah suaminya. Rini I anaknya sakit. Dudung dan Reza ke undangan yang berjauhan letaknya. Yanthi baru pulang dari bepergian. Arlita dan Ardiansyah masih di RS dan dikaruniai putra baru. Yoga dan Rita ke kampus. Naniek, Dian dan Chita kerja. Helmi baru merit. Ita terhalang hujan deras di Depok. Genis masih praktek dokter di Bandung. Gungun acara keluarga. Dan masih banyak lagi. Titik terang hanya datang dari Andre yang katanya mau pergi dan menginformasikan akan hadirnya Luvi dan Tommy, Tedi dan Jeri yang kabarnya sudah di jalan, Tanti yang positif mau jalan, plus Arie yang mau bela-belain nyusul dari Purwakarta, tempat merit Indra CK.  
Frustasi? Aku tidak tahu. Hanya satu yang membuatku gundah: persiapan tuan rumah yang sudah sedemikian baiknya. Bagaimana ini? Sementara keinginan Yuni untuk pulang tampak semakin bertambah, sementara belum ada kabar dari Ola tentang akan datang tidaknya anak-anak arisan.
            Aku lalu menawarkan kepada Yuni untuk paling tidak mampir sebentar buat bersilaturahmi, sebelum diantar pulang.  Syukur dia bersedia. Maka kami bergegas ke sana. 
            Di mulut gang, secara ajaib kami bertemu dengan Jeri dan Tedi yang naik motor dan sedang celingak-celinguk sembari memerhatikan arah jalan yang kupasang di tembok.
Tut tut, aku membunyikan klakson Mio-ku. “Mau ke mana, Bang?Etanyaku sambil nyengir. “Ayo deh, ikutin kita.ETanpa menunggu jawaban, aku melewati mereka dan memimpin jalan. Begitu sampai di depan rumah Nurina, ternyata Eksi dan Olina juga sedari tadi membuntuti kami di belakang. “Loh kok baru sampai?Etanyaku heran. “Bukannya udah pergi dari tadi lo? - “Iya,Etimpal Eksi membenarkan, “masalahnya tadi hujan. Jadinya ganti baju dulu.E
Wuah. Dari yang tiada menjadi ada. Meskipun di Mc D Hero sepi orang, rumah Nurina perlahan dijejali anak-anak 98 yang rupanya hampir semua memilih buat langsung ke tempat tujuan. Semakin malam semakin penuhlah rumah Nurina. Total yang datang akhirnya 28 orang. Suasana sempat kaku dan membingungkan. Tapi beruntunglah ada ice breaker macam Erwin, Yusuf, Eric, Ririn, dan Eksi. Jadinya, percakapan menjadi hangat. Diputuskan kemudian untuk membuat perencanaan reuni yang lebih besar lagi dengan bertempat di rumahku pada tanggal 29 Januari 2006 yang akan datang pukul 13.30. Sebelum itu, masing-masing kelas diharapkan membuat reuni per kelas dan database aktual penghuninya untuk selanjutnya dilaporkan kepada para CP melalui milis khusus 98 dengan moderator mungkin Ola Erwin, Sarwo, Yoga atau aku (atau semuanya), milis yang dimaksudkan sebagai pusat aliran informasi.
Singkatnya, aku berkesimpulan bahwa semuanya bisa berjalan lancar jika kita yakin bisa dan punya semangat buat mewujudkannya. Dan aku berpikir sudah sangat kuno untuk mengkotak-kotakkan diri kita dalam kelompok-kelompok kecil, meskipun tidak ada salahnya punya clique. Ini terbukti pada waktu reuni, bahwa teman-teman dengan beragam latar belakang dan karakter, mulai dari yang ramai sampai pendiam, bisa saling bercakap dan tertawa.
Kita mungkin belum mengenal sebagian besar orang, kita bisa jadi tidak populer waktu SMA, dan kita mungkin sedang berstatus pengangguran, habis bangkrut, jomblo, plus jerawatan (atau seperti aku: kulit terbakar sinar matahari sampai gosong hingga jadi dua warna: putih-hitam kayak dodol). Tapi, so what gitu loh? Siapa yang mau menghakimi kita atas kondisi kita saat ini? Nyatanya tidak ada yang mengolok-olok ketika sebagian teman buka kartu bahwa mereka belum lulus skripsi, sedang cari lowongan, dan nyaris tidak tahu siapapun dalam ruangan.
Indahnya reuni terletak pada jalinan silaturahmi yang bisa dibangun. Sayang sekali jika kita melewatkan kesempatan untuk berkenalan dan menyambung tali persaudaraan hanya didasari rasa tidak PD dan sugesti yang tidak beralasan. Toh, ketika kita mencari kerja, memulai pekerjaan di tempat baru, meneruskan kuliah, dan menjalankan banyak aktifitas lainnya, kita selalu mulai dengan menjadi orang asing terlebih dahulu. Begitu kita berjabat tangan dan saling bertukar identitas, dengan sendirinya kita berubah dari si asing menjadi sang kenalan. Tidak ada kata terlambat. Maka, kenapa tidak kita mulai dari sekarang menambah teman dan saudara?
Maju terus buat angkatan 98. God bless you all. Terima kasih khususnya buat Ola atas usaha kerasnya dalam mengumpulkan anak-anak dan menyatukan kita semua.
 
(Nadiah Abidin, 23 Nopember 2005, 10.39 WIB)       

Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke