“Jadi di sini Vircaquarta sering ngumpul waktu SMP?” tanya Nurul penasaran waktu kami duduk santai di ruang perpustakaan dengan beralaskan dua kasur tebal yang kami gotong dari kamar. “Yup,” jawabku sambil mengangguk pelan seraya mengambil chips lagi dari bungkus potato yang dipegang Eksi. “Kita dulu suka ngerjain PR bareng, nonton film-film jadul,  ngomongin soal NKOTB – gimana kerennya mereka et ce te ra - dan apa lagi kalau bukan soal masa depan dan cowok...” Aku pun jadi menceritakan sedikit tentang rapat dan acara pertemuan yang sering diadakan di rumahku. “Pernah tuh anak-anak angkatan atas nginep di sini. Wah seru banget. Saking banyaknya orang, setiap jengkal ruangan penuh dari depan ke belakang. Kita menjelang tidur jadi membagi rumah menjadi dua: lantai bawah area kekuasaan cowok, lantai atas areanya cewek. Terus pas pergantian tahun 98, gue ngadain barbekyu party bareng sejumlah teman. Kita manggang ayam, bikin burger, terus makan sekenyang-kenyangnya sambil ngobrolin apa yang bakal kita lakukan sebagai anak kuliahan nanti...”
Cerita ini jadi mengingatkan aku pada Wiwin alias Tweety, teman baik kecilku, yang langkah-langkahnya ringan seperti bulu dan terbiasa bicara tak henti-henti tentang apa yang dia alami dan apa yang ingin dia ketahui dariku setiap kali kami bertemu. Aku pikir tak ada orang lain seperti dia. Sayang sejak malam barbekyu itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan dia. Kabarnya dia pindah ke Jember, tapi tak seorangpun dari orang-orang baru yang menempati rumahnya bisa memberiku alamat jelas dan nomor teleponnya, sehingga aku kehilangan kontak. Padahal aku merindukannya.
Apapun, sekadar duduk bersama, membicarakan tentang banyak hal bersama teman-teman rasanya sangat menyenangkan. Seperti malam minggu ini. Aku jadi tahu nih kalau Eksi ternyata sama penakutnya denganku: kalau malam-malam sebetulnya nggak berani masuk WC, tapi maksain diri sembari terus komat-komit “Ya Tuhan Yang Maha Tahu lagi Maha Penyayang, tolong lindungilah aku”. Padahal ada apa coba di WC? Kalau takut setan, setan kan ada setiap saat dan di mana-mana. Sekarang saja selagi aku mengetik semua ini, dia sudah pasti ada dengan mungkin menguap dan memasang tampang jemu membaca kekonyolan yang sedang berusaha aku uraikan ini. Tapi namanya juga persoalan psikologis, susah mengontrolnya. Pernah Naila kasih tips: “Seandainya elo ngeliat ada yang aneh-aneh, anggap saja dia nggak ada. Kalaupun tetap ada, pikirkan yang mirip sama dia. Maksudnya begini: Andai dia bertanduk, ingat-ingat saja kambing-kambing yang suka merumput di halaman depan rumah elo. Kalau matanya merah, kelinci juga punya mata merah dan dia lucu kan. Berbulu? Kita kan juga berbulu. Lebih lebat lagi? yah samain deh dia sama monyet!”  
 
Perumpamaan yang masuk akal. Cuma masalahnya di WC, andai manusia beneran sekalipun yang masuk, itu tempat terakhir kita mau bertemu orang atau sesuatu. Privasi, man! Semua tentu butuh privasi selagi memenuhi panggilan alam.
 
Tapi ngomong-ngomong kok jadi melantur soal setan dan WC yah?
 
Balik ke topik, jika dikilas balik aku baru beberapa bulan belakangan ini akrab lagi dengan Eksi. Kontak-kontakan dengan Nurul bahkan mungkin baru hitungan minggu. Karena sekalipun kami satu angkatan di SMA – bahkan di SMP –  kami memiliki lingkungan pergaulan yang berbeda. Aku tahu Nurul salah seorang teman dekat Dian Ambar, anggota gank termudaku, tapi kami belum pernah berkesempatan mengobrol banyak, hanya bertukar senyum dan kata: “Hai!”. Adapun Eksi dulu pernah dekat denganku usai pesantren kilat. Tapi kami melewati masa kulliah tanpa tahu kabar masing-masing sampai suatu hari aku tergerak mengangkat gagang telepon dan mendial nomornya, sama seperti waktu aku spontan mendial nomor Nurina dan Naila yang ujung-ujungnya semua menjadi sahabat-sahabat terbaikku, teman jatuh-bangun bahkan babak belur bersama.    
 
Dan kini disela segala kesibukan dan pertambahan usia, berakhirnya masa indah di bangku perkuliahan dan banyaknya teman lama yang telah melanjutkan ke jenjang pernikahan,  menemukan sekelompok orang yang bisa diajak menghabiskan akhir pekan tanpa perlu menarik urat atau memikirkan hal-hal berat yang membebani otak terasa begitu krusial. Meskipun ada organisasi-organisasi yang bisa diikuti, rasanya tetap beda dibandingkan memiliki teman-teman sekota yang cukuplah sama-sama hadir memotivasi dan memberikan inspirasi agar langkah tidak tersendat di tengah jalannya.
 
Beruntung teknologi mempermudah jalinan komunikasi. Handphone, telepon biasa, dan internet menjadi alternatif pilihan yang memuluskan akses informasi, salah satunya melalui jasa miling list atau biasa disebut milis. Disadari atau tidak milis acapkali jadi gerbang terdepan dari hubungan yang bersifat lebih personal. Paling tidak itulah yang aku rasakan. Ketika ilusi pertama kali muncul, aku semula berpikir: Baik, aku ikut, sekadar sebagai pengamat. Nyatanya sulit untuk sebatas diam dan memperhatikan. Aku mulai dengan menulis sebuah email, kemudian sebuah email lagi, mula-mula singkat perlahan bertambah panjang. Yang paling menarik adalah feed back yang diperoleh, terutama ketika aku mengirimkan cerpen. Sebagian besar bersikap suportif dan menyemangatiku untuk menjadi penulis. Alhasil bergabunglah aku dengan sederet makhluk-makhluk kreatif yang tergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan ternama. Belum banyak yang berhasil kubuat memang, tapi paling tidak hidupku jadi lebih berwarna.
 
Satu hal mengarah ke hal yang lain, benang merah yang satu menautkan dengan benang merah yang lain. Jika bukan karena spirit pertemuan, teknologi dan silaturahmi, aku mungkin takkan pernah kenal kakak-kakak kelasku yang super baik, adik-adik kelasku yang penuh semangat, dan teman-teman seangkatan yang fun habis. Jika bukan karena spirit pertemuan, teknologi dan silaturahmi, jalan-jalan ke Dufan, bantuan memperbaiki laptop dan mengerjakan tesis, surf website gratis, tips-tips hidup, koneksi, kost bagus, comblangin teman, pekerjaan tambahan, diskusi motivatif dan ratusan hal lain lagi takkan pernah terjadi, kudapatkan atau kulakukan. Dan jika bukan karena spirit pertemuan, teknologi dan silaturahmi, aku barangkali masih sekian tahun lagi bertandang ke SMA dan menyimak apa yang dinamakan futsal.
 
Bicara soal futsal, aku punya kisah baru yang ingin kubagi. Tapi sepertinya aku perlu menelan dulu chips dalam mulutku sebelum tersedak dan dan buru-buru ambil chips baru sebelum keburu dihabiskan Nurul dan Eksi :D Serbu!
 
(Nadiah Abidin, 20 Februari 2006, pukul 09.18)
 


Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Secondary school education Graduate school education Home school education
Graduate school education online High school education Middle school education


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke