Arti bermain bagi anak
Bermain adalah kegiatan yang sangat dekat dengan dunia
anak. Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan,
maupun berkelompok. Jenis permainan, jumlah peserta
serta lamanya waktu yang dialokasikan untuk bermain,
tergantung pada keingingan serta kesepakatan yang
dibuat oleh para peserta.
Begitu akrabnya kegiatan bermain ini dengan keseharian
kita, sehingga kita kerap menganggapnya sebagai
kegiatan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Namun,
benarkah demikian?

Bermain vs Bekerja
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan semata-mata
untuk menimbulkan kesenangan. Hal ini senada dengan
pendapat Piaget yang menjelaskan bahwa bermain terdiri
atas tanggapan yang diulang semata untuk kesenangan
fungsional. Pengertian ini membedakan antara bermain
dengan bekerja, yang memiliki tujuan tertentu dan
tidak harus menimbulkan kesenangan.
Saat ini, sekolah telah mengakui nilai dan manfaat
bermain yang bersifat edukatif bagi perkembangan para
peserta didik. Hal ini terlihat dengan pencakupan
kegiatan permainan, olahraga, drama, seni dan
sebagainya dalam kurikulum pendidikan formal.

Manfaat bermain bagi perkembangan anak
Sesungguhnya bermain memberi manfaat yang besar bagi
perkembangan anak. Elizabeth B. Hurlock, salah seorang
pakar perkembangan anak, menuliskan dalam buku  “child
development”, setidaknya ada 11 manfaat yang dapat
diraih dari kegiatan bermain bagi anak. Namun saya
hanya akan menguraikan 9 diantaranya, yaitu:
1.      Perkembangan fisik
Ketika seorang anak bermain, misalnya bermain
permainan tradisional “gobak sodor”, maka akan terjadi
koordinasi gerakan otot, terutama otot-otot tungkai
dan otot-otot gerakan bola mata. Sehingga otot-otot
ini terlatih dan berkembang dengan baik.
Selain itu, bermain juga berfungsi untuk menyalurkan
energi yang berlebihan pada anak, yang bila terus
terpendam akan membuat anak tegang, gelisah dan mudah
tersinggung.
2.      Penyaluran bagi energi emosional yang terpendam
Seringkali, seorang anak berhadapan dengan
kenyataan-kenyataan yang tidak menyenangkan, termasuk
pembatasan lingkungan atas perilaku mereka, yang
secara tidak sadar menimbulkan ketegangan dalam
dirinya. Ketegangan  ini berkurang ketika anak
bermain.
Aturan-aturan ketat yang mesti ditaati di rumah,
misalnya jadwal belajar anak, seringkali membuat anak
merasa terkekang. Jika tidak ada komunikasi yang baik
antara anak dan orangtua, maka kondisi ini akan terus
membebani sang anak.
Para orangtua dapat memperbaiki kondisi ini dengan
terus membangun komunikasi yang terbuka dengan
anak-anaknya, mendengarkan keluhan-keluhan mereka,
bukan menceramahi.
Selain itu, anak pun perlu diberikan kesempatan yang
cukup untuk beristirahat (baca: bermain –pen)  pada
waktu yang telah disepakati bersama. Sebab kita
sama-sama mengetahui bahwa terlalu mengekang seorang
anak, sama buruknya dengan memberikan kebebasan yang
tanpa batas.
3.      Dorongan berkomunikasi
Seorang anak memiliki kesempatan berlatih komunikasi
melalui sebuah permainan. Mereka belajar mengungkapkan
ide-ide serta memberikan pemahaman pada teman-teman
sepermainannya tentang aturan dan teknis permainan
yang akan dilakukan, sehingga permainan dapat
berlangsung berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang
dibuat oleh para peserta, melalui penyampaian pesan
yang efektif dan dimengerti antar peserta permainan.
4.      Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan
Ada begitu banyak keingingan dan kebutuhan anak yang
tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali bisa
diwujudkan melalui kegiatan bermain. Seorang anak,
bisa menjadi siapapun yang ia inginkan ketika bermain.
Ia mampu mewujudkan keinginannya menjadi seorang
dokter, tentara maupun seorang pemimpin pasukan
perang-perangan, yang mustahil mereka wujudkan dalam
kehidupan nyata.
5. Sumber belajar
Melalui bermain, seorang anak dapat mempelajari banyak
hal, yang tidak selalu mereka peroleh di institusi
pendidikan formal. Mereka belajar tentang arti
bekerjasama, sportifitas, menyenangkannya sebuah
kemenangan maupun kesedihan ketika mengalami
kekalahan. 
Semakin beragam media permainan serta banyaknya
variasi kegiatan, maka akan semakin bertambah
pengetahuan dan pengalaman baru yang mereka terima.
Hal ini dapat difasilitasi oleh para orang tua dengan
cara memasukkan unsur pengetahuan populer dalam
permaianan anak.
Bermain sambil belajar akan memberikan dua manfaat
sekaligus pada anak; yaitu kesenangan, serta kecintaan
terhadap ilmu pengetahuan sejak dini.

5.      Rangsangan bagi kreatifitas
Ketika anak-anak bermain, mereka kerap merasakan
adanya kejenuhan ataupun rasa bosan. Pada saat seperti
inilah mereka biasanya mencoba melakukan sebuah
variasi permainan.
Disini mereka belajar untuk mengembangkan daya
kreatifitas dan imajinasinya. Ide-ide spontan yang
dikemukakan oleh seorang anak, dan jika kemudian
diterima oleh teman sepermainannya, akan menimbulkan
adanya rasa penghargaan dari lingkungan serta menjadi
motivasi munculnya ide-ide kreatif yang lain.
Permainan pun akan kembali terasa menyenagkan.
6.      Perkembangan wawasan diri
Melalui bermain, seorang anak dapat mengetahui
kemampuan teman-teman sepermainannya, kemudian
membandingkannya dengan kemampuan yang ia miliki. Hal
ini memungkinkan terbangunnya konsep diri yang lebih
jelas dan pasti.
Ia akan berusaha meningkatkan kemampuannya, jika
ternyata ia jauh tertinggal dibandingkan teman-teman
sepermainannya. Hal ini menjadi faktor pendorong yang
sehat dalam pengembangan diri seorang anak.
7.      Belajar bermasyarakat
Bersosialisasi dengan teman-teman sebaya merupakan hal
penting yang perlu dilakukan oleh anak. Kegiatan
bermain menjadikan proses bersosialisai tersebut
terbangun dengan cara yang wajar dan menyenangkan.
Tidak jarang timbul beberapa masalah ketika anak-anak
bermain. Mereka belajar untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan yang timbul dalam sebuah
permainan secara bersama-sama. Disini hubungan sosial
diantara mereka terbangun.


8.      Standar moral
Meskipun dalam lingkungan keluarga maupun sekolah,
anak telah diajarkan tentang hal-hal yang dianggap
baik dan buruk dalam hidup bermasyarakat, namun tiada
standar moral yang lebih teguh selain dalam kelompok
bermain.
Kecurangan dan sikap tidak sportif yang ditunjukkan
oleh seorang anak dalam sebuah permainan, tidak jarang
menyebabkan lahirnya sanksi sosial yang membuatnya
jera. Disini, ia belajar untuk selalu mematuhi standar
moral yang telah disepakati oleh kelompok bermainnya.

Wallahu’alamu bishowab

Genis Ginanjar Wahyu., dr
Dokter umum, tinggal di Bandung

d.a Jalan Sukagalih II no 11
Sukajadi, Bandung
Telp: (022) 2036186 / 0817825212

Bank Muamalat Indonesia Capem Cihampelas, Bandung
Nomor rekening: 103.03470.22
a.n Nugria Fitriana

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Secondary school education Graduate school education Home school education
Graduate school education online High school education Middle school education


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke