Didi Budiarso NSI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: "Didi Budiarso NSI" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 19 May 2006 11:25:41 +0700
Subject: [Oil&Gas] OOT : Majalah Playboy dan Teori Jendela Pecah

Artikel cukup panjang tetapi sangat menarik... 


  http://sepia.blogsome.com/2006/03/06/playboy-dan-teori-jendela-pecah/

Playboy dan Teori Jendela Pecah

Empat orang pemuda ditembak dalam kereta api bawah tanah. Si penembak
yang menyerahkan diri seminggu kemudian dielu-elukan masyarakat
sebagai pahlawan mereka. Goetz, si penembak itu, dijuluki
tabloid-tabloid sebagai "Pengawal Kereta Bawah Tanah" dan "Malaikat
Maut Bagi Penjahat". Memang para pemuda yang ditembak itu adalah
kelompok berandal pemeras yang sering melakukan kejahatan di kereta
api bawah tanah. Tetap saja si penembak tadi dihukum karena melakukan
main hakim sendiri. Rakyat marah, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Hukum adalah hukum. Si penembak harus meringkuk dalam penjara.
Beberapa tahun kemudian terbukti para pemuda yang ditembak tersebut
adalah para pelaku kejahatan mulai dari pencurian, perampokan, hingga
penganiayaan. Salah seorang diantaranya yang bernama Ramseur, dua
tahun setelah penembakan tersebut dijatuhi vonis 25 tahun penjara
karena pemerkosaan, perampokan, sodomi, pelecehan seksual,
penganiayaan, kejahatan bersenjata api, dan pemilikan barang curian.
Sulit menerima bahwa yang dulu dianggap korban kekerasan ini ternyata
juga pelaku kekerasan. Demikianlah potret buram fasilitas subway di
New York tahun 1984. Masyarakat takut menggunakan kereta bawah tanah
yang suram penuh coretan grafiti, kotor, dan banyak banditnya.
Masyarakat dan pemerintah sama frustasinya dengan kondisi buruk itu.
Selama tahun 80-an kriminalitas di New York City mencapai rata-rata
lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindak kekerasan serius dalam
setahun.

Namun secara mendadak situasi tersebut berubah drastis di awal tahun
90-an. Di tahun 1996 kejahatan menurun drastis menjadi sepertiga.
Kekerasan di kereta bawah tanah bahkan turun sebanyak 75 persen.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jendela Pecah

Untuk kasus kereta bawah tanah penurunan ini dimulai dari penerapan
teori Jendela Pecah (Broken Windows) yang digagas oleh kriminolog
James Q. Wilson dan George Kelling. Wilson dan Kelling berpendapat
bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari
ketidakteraturan. Jika sebuah jendela rumah pecah dan dibiarkan saja,
siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada
yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu
singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang
anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang
remeh seperti coret-coret, ketidakteraturan, dan pemalakan, kata
kriminolog itu, semua setara dengan jendela pecah, yaitu ajakan untuk
berbuat kejahatan lebih serius.

Pemalak dan penodong, entah amatiran atau profesional, percaya bahwa
peluang mereka untuk tertangkap atau diadukan ketika beroperasi di
jalanan berkurang bila mereka memberikan ancaman yang cukup kepada
calon korban. Jika masyarakat di suatu tempat tidak mampu mengatasi
pemalak yang beroperasi di jalanan, pencuri dan perampok pun akan
berkesimpulan bahwa orang di situ tidak akan langsung menghubungi
polisi atau mengadukan mereka andaikata kejahatan itu mereka
laksanakan.

Ini sebuah teori epidemi untuk kejahatan. Menurut teori ini kejahatan
bersifat menular - persis seperti trend mode pakaian - sehingga dengan
awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca jendela, perbuatan yang
sama segera menyebar ke seluruh wilayah.

Pada pertengahan 80-an, kriminolog George Kelling disewa oleh New York
Transit Authority sebagai konsultan, maka ia meminta jawatan itu untuk
menerapkan teori Broken Windows di jaringan kereta bawah tanah.
Direktur baru yang ditunjuk mengurus hal itu, David Gunn, menerapkan
teori tersebut dengan fokus melawan grafiti di kereta bawah tanah.
Banyak pejabat di direktorat kereta bawah tanah yang menganjurkan agar
dia lebih memusatkan perhatian kepada kejahatan yang lebih serius
daripada mengurus masalah corat-coret. Gunn tetap bertahan,
"Coret-coret ini merupakan simbol keambrukan sistem ini," katanya.

Maka Gunn melancarkan aksi melawan corat-coret. Dia tahu bahwa remaja
yang melakukan grafiti memerlukan 3 hari untuk memoles dinding gerbong
dengan cat putih, menunggu kering, dan menggambarnya di hari ketiga.
"Begitu mereka selesai menggambar, malamnya kami cat lagi gerbong
tersebut sehingga keesokan harinya tak ada yang sempat melihat karya
mereka," demikian kata Gunn. Ketika sebuah gerbong dicorat-coret, maka
corat-coret itu dihilangkan selama masa istirahat, atau gerbong itu
tidak dioperasikan dulu. Gagasan di balik kebijakan itu adalah
menyampaikan pesan yang gamblang kepada para vandal, bahwa mereka
tidak disukai.

Program pembersihan grafiti oleh Gunn sudah berlangsung sejak 1984
hingga 1990 saat Transit Authority mengangkat William Bratton sebagai
komandan polisi kereta bawah tanah yang baru. Seperti halnya Gunn,
Bratton juga penganut teori Broken Windows. Alih-alih fokus pada
kejahatan serius, dia justru fokus untuk membasmi kebiasaan remeh
yaitu naik kereta tanpa karcis. Menurutnya, naik kereta tanpa karcis
juga merupakan simbol ketidakteraturan yang menjadi pangkal
pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius. Hasilnya luar biasa.
Penjagaan pada gerbang tiket menghasilkan penangkapan-penangkapan yang
tak diduga sebelumnya. Setiap penangkapan ibarat membuka kotak hadiah
yang penuh kejutan. Mainan apa yang didapat hari ini? Senjata api?
Pisau? Karcis palsu? Uang palsu? Bahkan kadang-kadang ada tersangka
pembunuhan. Tak lama kemudian orang-orang jahat mulai berpikir lebih
panjang, setidaknya meninggalkan senjatanya dan membayar karcis ketika
naik kereta.

Tahun 1994 Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisisan New York City
oleh walikota yang baru Rudolph Giuliani. Bratton tetap melakukan
strategi yang sama, memberantas perbuatan-perbuatan kecil yang
mengganggu ketentraman, termasuk bahkan menangkap para tukang lap kaca
mobil di perempatan jalan yang kemudian meminta uang jasa ke
pengendara. "Kami mulai menegakkan hukum dalam kasus-kasus ringan
seperti mabuk-mabukan di tempat umum, buang air kecil sembarangan,
termasuk membuang botol di jalanan," demikian kata Bratton. Ketika
kriminalitas mulai menurun di kota itu, secepat penurunan di kereta
bawah tanah, Bratton dan Giuliani menunjuk ke sebab yang sama.
Kejahatan-kejahatan kecil, pelanggaran-pelanggaran remeh, yang
lazimnya dianggap tidak signifikan, kata mereka, merupakan titik
lenting (tipping point) menuju kejahatan-kejahatan besar. Demikianlah
seperti dikutip dari buku Tipping Point tulisan Malcolm Gladwell.

Playboy sebagai simbol

Seperti yang dikatakan Gunn dan Bratton, corat-coret dan pelanggaran
tiket walaupun tampak kecil dan remeh sebenarnya adalah 'simbol'
keambrukan sistem. Bagaimana dengan kasus yang sedang marak tentang
ijin majalah Playboy Indonesia?

Yang menjadi masalah utama dengan Playboy bukan sekedar 'keberanian'
gambarnya. Kata pihak Playboy, ada majalah yang lebih vulgar dari
mereka toh juga diijinkan? Ya, boleh jadi ada majalah lain yang lebih
vulgar daripada Playboy, namun yang menjadi esensi keberatan
masyarakat luas sebenarnya dipicu oleh posisi Playboy sebagai simbol.
Playboy adalah 'simbol dunia' majalah erotisme (dan memang itulah yang
diinginkan pendirinya). Brand name Playboy identik dengan erotisme,
apapun isi di dalamnya apakah mungkin teknologi, tips kesehatan, atau
apapun yang saya tidak tahu. Begitu disebut Playboy, maka yang
tergambar dalam benak masyarakat luas adalah kontes aurat dan
erotisme.

Playboy adalah simbol budaya erotisme. Mengijinkan Playboy versi
Indonesia - walaupun misalnya hanya untuk kalangan terbatas - sama
halnya mengesahkan simbol budaya erotisme itu untuk menjadi budaya sah
bangsa Indonesia. Dengan kata lain, bila Playboy diijinkan maka secara
sah kita mengakui bahwa nilai luhur bangsa ini bukan lagi agama,
karena tak ada agama yang mengesahkan erotisme sebagai suatu nilai
luhur. Ada sementara pihak yang berlindung dengan dalih nilai seni.
Dalam hal ini kita perlu tegas bahwa nilai seni erotisme bukanlah
nilai luhur agama. Selama nilai seni tidak bertentangan dengan agama
maka nilai tersebut sah-sah saja sebagai nilai luhur bangsa. Namun
'nilai seni erotisme' jelas bertentangan dengan nilai luhur agama.
Selain itu, menyamakan nilai seni erotisme dengan seni yang lain sama
saja dengan merendahkan masyarakat seni.

Mengapa kita menjunjung nilai luhur agama sebagai nilai bangsa? Karena
inilah dasar hukum utama negara kita yang dituangkan lewat Pancasila
sila pertama. Semua hukum di Indonesia harus tunduk kepada nilai hukum
dasar negara ini.

Apa akibatnya bila Playboy Indonesia diijinkan? Kembali ke teori
Broken Windows, hal remeh ini akan menjadi awal uji kasus untuk
memberi toleransi kepada bisnis dan budaya erotisme yang lebih dahsyat
karena Playboy adalah simbol utama erotisme. Boleh jadi nantinya akan
terjadi tuntutan hak oleh sebagian kalangan (dengan dalih hak asasi)
untuk membuka klub striptease dan semacamnya yang jelas-jelas semakin
merusak moral bangsa kita ini. Ijin Playboy Indonesia bisa menjadi
tipping point keruntuhan moral bangsa.

Tapi, bukannya Playboy ini direncanakan hanya beredar di kalangan
terbatas? Kita harus kembali ingat teori Broken Windows bahwa menurut
teori ini kejahatan bersifat menular - persis seperti trend mode
pakaian - sehingga dengan awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca
jendela, perbuatan yang sama segera menyebar ke seluruh wilayah.
Playboy ibarat kaca pecah. Sangat mungkin dengan diijinkannya Playboy
akan merembet ke seluruh lapisan masyarakat sebagai pembenaran
kolektif bahwa nilai erotisme sudah diterima sebagai nilai luhur
budaya bangsa ini. Yang terbatas awalnya hanya pembacanya, padahal di
balik itu ada percetakan, model, agency, penulis, distribusi, dan
berkali lipat orang lainnya yang terlibat. Bagaimana halnya dengan
majalah Palyboy bekas? Bagaimana dengan para pengantarnya? Bagaimana
dengan para pedagangnya? Yang dianggap terbatas itu hanyalah puncak
gunung es dari komunitas yang jauh lebih besar. Kelompok khusus
penikmat erotisme ini sebenarnya tak perlu dikasihani. Selama ini
mereka sudah mencarinya dengan berbagai cara, sama sekali tak perlu
dikasihani dengan majalah erotis versi resmi Indonesia.

Belum Mampu Tak Berarti Setuju

Seringkali ketidakmampuan sistem dimanfaatkan sebagian pihak sebagai
dalih hukum. Misalnya, karena tidak mampu menanggulangi prostitusi,
maka dilegalkan saja menjadi lokalisasi. Demikian pula ketidakmampuan
sistem saat ini untuk menanggulangi majalah kuning dan tayangan erotis
di televisi digunakan sebagian pihak menjadi dalih kelayakan Playboy
dan majalah semacamnya.

Harus terus kita ingat bahwa tidak mampu bukan berarti setuju! Selama
ribuan tahun telah terjadi prostitusi, tapi bukan berarti kita berhak
melegalkan prostitusi. Selama ribuan tahun terjadi kejahatan, bukan
berarti lalu kita legalkan kejahatan. Dan kini kita belum mampu
menanggulangi gelombang budaya erotisme, bukan berarti lalu kita
melegalkannya. Hukum harus tegas dan punya acuan dasar yang jelas. Di
negeri ini kita bisa merujuk dasar negara dan undang-undang dasar
sebagai acuan nilai, jika pun kita ragu dengan universalitas nilai
luhur agama. Bagi orang dengan kecerdasan spiritual (SQ) tinggi,
ditinjau dari dasar-dasar hukum itu sudah jelas bahwa erotisme tak
layak menjadi nilai luhur bangsa ini. Nilainya sama halnya dengan
penyalahgunaan narkotika yang selamanya tak akan diakui agama sebagai
nilai luhur.

Dengan tulisan ini kiranya wakil rakyat di DPR dan juga pemerintah
menjadi semakin yakin untuk lebih tegas menolak ijin Playboy tersebut.
Ini bukan masalah remeh karena bisa memicu bencana moral yang besar.
Bangsa ini sudah kehilangan banyak hal untuk dibanggakan, semoga tidak
dibuat semakin kehilangan jati diri.

[Non-text portions of this message have been removed]






SPONSORED LINKS
Petroleum engineering software Petroleum engineering Petroleum engineering jobs
Petroleum engineering jobs



Giri Wahyu Alam
Senior Staff
Aluminum Production
PT Tembaga Mulia Semanan, Tbk
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Office Phone:
     +62-021-6190128
Office Facs:
     +62-021-5401885
Mobilephone:
     +62-08881815404
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone calls to 30+ countries for just 2ยข/min with Yahoo! Messenger with Voice.

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Secondary school education Graduate school education Home school education
Graduate school education online High school education Middle school education


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke