Kopi Asin dan Pahitnya Isi Ampela

Sebuah siang delapan tahun silam. Mentari panas. Angin
kering. Udara meresahkan. Suasana makin resah setelah
beberapa kali kucoba membuat rak buku, beberapa kali
pula gagal. Rak itu bukannya berdiri dengan tegap.
Malah, doyong dan, pasti, ambruk bila diisi buku. Huh,
berulang kali kucoba, berulangkali pula tidak jadi.
Menyesal mulai menyelimuti. Seandainya saja Aku dulu
belajar hal-hal yang teknis seperti ini, mungkin
keadaannya akan jauh berbeda dengan saat ini. Sebagai
aktivis, aku cenderung meremehkan pekerjaan itu. Aku
lebih suka melahap waktu berjam-jam di depan buku. 

Persoalan muncul setelah menikah. Aku dipaksa keadaan
untuk membuka sebuah toko buku. Jadilah kemudian, aku
mulai mengecat dan membuat rak buku. Begitulah
jadinya. Cat hasil polesanku warnanya tak karuan. Dan,
rak buku? Tak kunjung jadi!

Peluh mulai membasahi. Dengan punggung tanganku
kuusap. Kutarik nafas sebentar  memandangi tumpukan
kayu. Tiba-tiba, “Assalamu’alaium.” Seorang gadis
manis datang: kamu, istriku.

Kedatanganmu mengusir semua resah. Maklumlah,
pengantin baru. Kira-kira baru sebulan kita menikah.
Seperti biasa, kamu datang membawakan makan siang
untukku.

“Walaikum salam.” Aku menyambutmu dengan uluran
tangan. Kau sambut dengan mencium punggung tanganku.
Ah, kamu. Aku tersenyum sumringah. Begitu juga kamu.
Pernikahan kita yang tanpa diawali pacaran membuat
beda.                                                 
                                                      
                                                      
                                                      
                                                      
                                                      
                                                   
Masih serasa seperti pacaran. Pun, hingga delapan
tahun berselang. 

“Gimana Bang? Beres?” 
“Yah, beginilah. Aktivis yang biasa ngisi training,
bingung ketika disuruh bikin rak.” Aku membereskan
kayu-kayu yang berserakan. Mempersilahkanmu menggelar
rantang berisi makan siang. Indahnya momentum itu.
Dan, sayangnya tak pernah terulang. Apalagi, setelah
kapal rumahtangga kita berlabuh berjalin tahun.
Kesibukanku akhirnya membunuh terciptanya momen-moemn
indah saat kita bersama. 

Dari kresek hitam, rantang putih dikeluarkan.
Bersamaan dengan itu, dua buah plastik putih berisi
lauk. Yang pertama, warnanya hijau dan, bisa ditebak,
sayur bayam. Yang kedua agak gelap. Nampak seperti
rendang daging agak kecoklatan. 

Kamu mengeluarkan tutup baskom yang kemudian digunakan
sebagai piring. Dengan sendok, kamu keluarkan segumpal
dua nasi ke tutup baskom. Sesuatu yang kukira daging
tadi kamu keluarkan, dan langsung menempatkannya di
atas nasi putih. Ternyata bukan daging. Terakhir,
wadah itu disiram sayur bayam. 

“wuih, nampaknya enak. Apaan nih?” Aku menerima
hidangan makan siangku bersamaan dengan dorongan air
liur dan perut yang memang tak berpenghuni sejak pagi.
Keroncongan.

Ternyata bukan daging. “Itu ampela bang,” katamu
singkat sembari merapikan nasi yang masih tersisa di
baskom.

Aku perhatikan sebentar. Agak aneh. Ampela itu masih
bulat. Persis seperti segumpal batu berwarna
kecoklatan. Tapi, rasa laparku menepis keraguan itu.
Berdoa sebentar. Tanganku langsung menyambar nasi.
Dilanjutkan dengan menggigit sedikit ‘ampela’ itu.
Anehnya, bekas gigitan itu nampak seperti bumbu. Agak
kehitaman. Lalu, rasanya koq aneh. Agak pahit. Tidak
seperti daging ayam pada umumnya.

“Ini apaan ‘Nda?” Aku menghentikan kunyahan dan
memandang ‘ampela’ yang sudah tergores.  Kamu pun
memandang serupa. 

“Iya yah, apaan tuh.” Kamu malah balik bertanya lagi.
Kamu terlihat sedikit grogi.

Aku jadi nggak tega. Ah, sudahlah, untuk tidak
menyakiti perasaanmu aku melanjutkan makan siangku.

“Bumbu kali.” Katamu memberikanku semangat untuk
melanjutkan santap siangku. Walau, rasanya aneh.

Terlihat sekali kamu bingung. Tak mengerti. Aneh juga
yah, kamu yang masak. Tapi, kamu juga tak mengerti.
Aku pun mulai ragu. Kunyahanku melambat. 

Kamu segera mencubit bagian dalam ‘ampela’ itu. Dan,
mencicipinya. Kamu langsung berlari keluar dan muntah.

Aku berlari mengejarmu. Memegang lehermu. “Kenapa
Nda?” 

Dengan mata berair, kamu memandangku dan berkata,” Itu
bukan bumbu bang….!
  

Astagfirulllah, Aku terkejut bukan kepalang. Ups, aku
baru sadar bahwa di dalam ampela ayam itu bukan bumbu
tapi……kotorannya. Tapi, satu suapan sudah melewati
kerongkongan. Aku langsung berlari meraih gelas dan
berkumur-kumur. 

Aku lihat, kamu memandangku dengan perasaan bersalah
sembari menutup mulut. “Maaf” terdengar kamu berdesis.
Kita bertatapan. Ada embung bening terlukis di matamu.


Aku bukannya marah. Malah, tertawa terpingkal-pingkal.
MasyaAllah, seumur hidup baru kali ini aku mengalami
makan kotoran ayam.

“Memangnya kamu nggak bongkar dulu?”
“Aku nggak tahu.”

“Dasar anak kuliahan. Bisanya masak air dan mie
rebus.” Aku memegang kepalamu.

Kenangan manis yang selalu menyibak tawa saat
kukenang. 


Sayang, aku pun teringat forward seorang teman. Begini
ceritanya : 


Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis
yang menakjubkan.
Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia
sendiri hanya seorang
laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya.
Saat pesta telah
usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi
bersamanya. Walaupun
terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak
mau
mengecewakannya.

Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman.
Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu,
sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. 

"Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang
gadis dalam hatinya. Tiba-tiba si laki-laki berkata
pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin
membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang
dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi
merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam
dalam kopi serta meminum kopinya. 

Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu
kepadanya, 

"Kebiasaanmu kok sangat aneh?". 

"Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku
sangat suka
bermain-main di laut, di mana aku bisa merasakan
laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi
ini",jawab si laki-laki. "Sekarang, tiap kali aku
minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku,
tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung
halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal
di sana", lanjutnya dengan mata berlinang. Sang gadis
begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati.
Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang
mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia
pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan
rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa
tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang
gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang
tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya,
keluarganya...

Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua.
Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah
cinta mereka. Mereka terus menjalin hubungan. Sang
gadis menyadari bahwa ia adalah laki-laki idaman
baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh
perhatian...pokoknya ia adalah pria baik yang hampir
saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin
!

Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah:
sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka
hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan suaminya
secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam
didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.

Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal
dunia. Ia meninggalkan
sepucuk surat bagi istrinya:"Sayangku, maafkanlah aku.
Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang
hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku
padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita
pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu.
Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku
malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin
membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan
saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu
malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba
untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah
mencobanya beberapa kali dalam hidupku,  tapi aku
begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah
berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu...
Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat
aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu:
Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku
mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin
sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas
semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah
menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah
kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya
kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku
tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu
istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi."

Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu
hari seseorang
menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab,
"Rasanya begitu
manis."

Yah, antara kopi asin dan pahitnya isi ampela.
Keduanya terasa beda ketika cinta sudah melekat.  I
love you just the way you are. Aku mencintaimu apa
adanya. Walaupun aku tahu bahwa kamu memang
benar-benar ‘anak sekolahan’ yang terbilang cuek untuk
urusan dapur. Persis dengan tahunya kamu bahwa aku
memang tak bisa mengerjakan hal-hal teknis kecil
seperti membuat rak buku atau mengecat.

Dan, setelah peristiwa itu kamu pun berusaha
memperbaiki. Paling tidak mengoleksi resep makanan
dari sejumlah majalah. Sayangnya, kamu kerap lupa
meletakan resep-resep itu sehingga bila aku ingin
makanan yang sama, kamu harus bongkar arsip resepmu.
Kamu masih ingatkan ketika kamu bingung harus membuat
masakan serupa sementara ‘buku resep’ kamu hilang
entah di mana. 

Cinta memang harus menerima apa adanya orang yang kita
cintai.[]



(dikutip dari buku SEKUNTUM CINTA UNTUK ISTRIKU
(GIP)kalo mau cerita lain yang lebih seru silahkan ke
gramedia)

NB.
Pelajaran buat semuanya untuk belajar masak. Jangan
bisanya masak mie, masak air dan telor ciplok. Buat
Angkatan 93, sorry. Judul Cuma buat penarik. Gue yakin
gak semuanya gapmas (gagap masak).paling-paling
Cuma….yah 99 –ersen! He..he.

anyway, SALAM HORMAT UNTUK SEMUA ISTRI YANG SETIA!


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke