cuma ngeforward - smoga bermanfaat..
 
=========================================
 

Selasa, 08 Agt 2006,
Nadine, Yonathan, dan Anggun

Oleh Ario Djatmiko

Penampilan Anggun C. Sasmi, penyanyi kelas dunia yang
pribumi itu,
membuat
Jakarta bergetar. Memang berbeda! Vokalnya yang khas
dan mantap rasanya
tidak perlu komentar. Kostum longgar dan rambut hitam
yang dibiarkan
terurai
membuat Anggun tampil bebas tanpa belenggu, panggung
itu sepenuhnya
miliknya. Penonton berhasil menikmati Anggun yang utuh
dan berkarakter.

Saya pernah dibingungkan oleh Tamam Hoesin AFI.
Masalahnya, dia mencoba
menerangkan perbedaan arti memberi ekspresi pada lagu
dan memaknai
lagu.
Memberi ekspresi pada lagu adalah fake, mengapa? Kita
membawakan lagu
dengan
menambahkan gaya dan mimik yang diusahakan sesuai
teksnya agar lagu itu
terlihat pas. Sedangkan memaknai lagu, berbeda! Si
penyanyi harus bisa
merasakan suasana batin si pencipta. Di sini perlu hal
yang lebih
dalam.
Harus ada rasa dan jelas perlu kadar intelektual
tertentu untuk
memahami roh
sebuah lagu.

Setelah melihat penampilan Anggun, kebingungan saya
sirna. Tidak ada
fake
dan terasa Anggun ada dalam lagu itu, utuh. Tamam
benar, seorang
penyanyi
yang baik tidak cukup hanya bermodal suara bagus dan
tubuh cantik.
Lebih
dari itu, diperlukan kapasitas intelektual serta tentu
karakter yang
kuat.

Perjalanan sang Legenda

Wawancara Anggun di TV nasional terasa santai apa
adanya. Tidak sok
intelek!
Tak pernah sekalipun si artis global tersebut
menyelipkan kata-kata
asing,
Inggris atau Prancis yang sangat dikuasai. Tampak
Indonesia banget,
tampil
seadanya. Rambut tetap hitam asli tanpa cat, sportif,
serta tidak
menggurui.
Ringan, tapi jelas tersirat pesan Anggun pada bangsa
ini. Bangsa yang
telah
kehilangan identitas.

Perjalanan menembus batas dunia diawali dengan
kepergian yang sepi
berita
dan bukan sebagai siapa-siapa ke kota dunia, Paris.
Tidak ada yang
mudah,
negeri yang begitu asing, kendala bahasa dan warna
kulit tidak membuat
dia
menyerah.

Anggun berkisah, untuk memperlancar bahasa, setiap
ketemu orang di
jalan,
dia menyapa dan mengajak bicara. Semua orang di TV
tertawa, ah itu
bukan
lelucon! Perjuangan dahsyat seorang perempuan dalam
kesendirian di
negeri
orang, tegar diterjang arus global yang ganas.

Beberapa tahun lalu, saya terpana melihat acara TV
Internasional.
Sepenggal
liputan konser tunggal Anggun di Paris! Di tempat yang
tampak
prestisius,
penonton rapi berjas tampil relaks dengan bahasa
Prancis yang fasih.
Anggun
menjadi magnet, memukau dan aplaus panjang.

Tampaknya, jaringan entertain global telah menambah
satu artis kelas
dunia
lagi, Anggun. Memegang paspor Indonesia di luar negeri
adalah masalah
besar,
Anggun tidak mobile! Padahal, jadwal konser yang padat
menuntut dia
harus
mampu berada di negara mana saja sesuai jadwal.

Akhirnya, dia melepas kewarganegaraan Indonesianya.
Mengapa? Menjadi
warga
negara Prancis berarti memegang paspor global. Lantas,
apakah Anggun
murtad
kepada negaranya? Eh nanti dulu! Jelas Anggun
menyatakan, Kedutaan RI
di
Paris tidak membantu apa-apa.

Dia harus mengatasi semua masalah sendiri. Artinya,
pemerintah
Indonesia
tidak berperan apa-apa dalam perjalanan karir warganya
di luar negeri.

Bangsa yang Simbolistis

Cara pendek untuk mendapatkan tepuk tangan adalah
melahirkan bintang
yang
diadu di arena kecil dengan membawa nama bangsa.
Jujur, kita patut
bangga,
Yonathan dkk meraih medali emas Olimpiade Fisika.

Yonathan terkejut melihat sambutan media yang begitu
besar.
Mengharumkan
nama bangsa dan diundang SBY ke Istana Negara. Tidak
ada yang salah
dengan
tepuk tangan. Yang menjadi pertanyaan, apakah tepuk
tangan tersebut
bisa
mendongkrak rating manusia Indonesia di Human
Development Index?
Faktanya,
peringkat Indonesia di HDI tetap di papan terbawah dan
terus anjlok.

Fakta lain, banyak negara tanpa medali, namun
rating-nya jauh di atas
Indonesa. Rasanya, ungkapan quality without quantity
is nothing layak
dipertimbangkan. Seharusnya kita sadar, olimpiade itu
hanya arena tepuk
tangan semata. Tidak berarti apa-apa dalam perjalanan
bangsa ini.
Pasar-lah
yang sebenar-benarnya menjadi arena pertarungan
hidup-mati itu. Tepuk
tangan
yang salah arah malah menyesatkan!

Kita terjebak melakukan usaha untuk terus mengejar
tepuk tangan. Dan,
meninggalkan usaha yang sepi tepuk tangan, tapi
sebenarnya signifikan
menaikkan derajat bangsa ini. Opportunity lost harus
kita bayar mahal.

Lelucon lain, Nadine! Berbeda dari Anggun,
keberangkatan Nadine ke
arena adu
cantik dunia diiringi heboh berita. Segala alasan
dibuat. Pokoknya,
Nadine
berangkat untuk mengharumkan nama bangsa. Tak peduli
negeri ini sedang
menitikkan air mata darah, Nadine tetap berangkat.
Begitu pentingkah
arti
tepuk tangan untuk bangsa yang sudah ambruk ini?

Kulit dan Isi

Seandainya Oprah Winfrey berbangsa Indonesia, hiburan
bermutu tersebut
tidak
akan pernah lahir. Mengapa? Andalan utama dunia
hiburan di negeri ini
sebatas kulit, wajah Indo-bule. Tampaknya, bangsa ini
tidak pernah
mampu
menangkap isi. Wajah pribumi semakin tersingkir saja
di media cetak,
kaca,
atau iklan, kecuali lawak serta peran pelayan.

Itulah gambaran ke depan bangsa ini. Faktanya, yang
terpilih mewakili
ibu
pertiwi di arena adu cantik dunia justru Nadine yang
berwajah total
bule.
Sudahlah, bukan salah Nadine! Panitia seharusnya tahu
bahwa kriteria
beauty,
brain, and behavior tak lengkap pada Nadine. Interview
Nadine Indonesia
is
my city jelas tidak mungkin mengundang tepuk tangan.

New York adalah puncak dunia! Pada 2000, di Time
Square, saya terhenyak
di
depan toko musik Virgin. Di deretan CD lagu-lagu top
saat itu, Santana,
Cisco, dan Toni Braxton, terlihat CD dengan sampul
berwajah dan nama
yang
pribumi banget, Anggun.

Sungguh fenomenal! Di tengah nihilnya nilai manusia
Indonesia -di
segala
bidang- di arena global, bocah yang dulu tampil di
Ancol dengan bayaran
Rp
40 ribu itu muncul menembus pasar dunia.

Adi, pemuda Indonesia yang bermukim di New York,
bercerita dengan
bangga.
Saat nonton konser Anggun, sang bintang menyapa, "Are
you Indonesian?"
Gelagapan Adi menjawab "Yes"! Ramah Anggun meneruskan
dalam bahasa
Indonesia¡Ä. "Saya orang Indonesia."

Ah, paspor Prancis itu tidak pernah mengubah hatinya,
Anggun tetap
mencintai
negeri ini.

Ario Djatmiko, staf pengajar Fakultas Kedokteran
Unair, Surabaya

 

 

__._,_.___

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS
Secondary school education Graduate school education Home school education
Graduate school education online High school education


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke