*Mari kita dukung Kampanye Bersama*
* *
*"BERLEBARAN BERSAMA"** .*


Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
serambi masjid. Saya diajak duduk
bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi. Rupanya mereka sudah mulai
terlibat dalam suatu pembicaraan dan
saya diminta bergabung.


''Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,'' kata
Fadli setelah saya duduk.
''Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama, sekitab suci, senabi;
tapi nanti kita akan berlebaran
pada hari yang berbeda. Di kampung ini sebagian akan berlebaran hari
Senin, sebagian lagi hari
Selasa. Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?''


Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan
itu memang terasa tidak bermutu,
bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang merasa pakar di bidang agama.
Oleh para alim, pertanyaan Kang
Ngalwi pasti akan digilas dengan jawaban: ''Sudahlah, pokoknya kita
hormati keyakinan masing-masing.
Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun Selasa, semua baik-baik
saja karena keduanya berpegang
dengan keyakinan masing-masing, dan keduanya punya dalil segudang
untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.''


Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat
Islam. Namun sebenarnya kearifan
tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak nyaman dalam kenyataan
hidup sehari-hari, terutama di
lapisan bawah. Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada,
bahkan mungkin mewakili perasaan
umum masyarakat awam.


Jelasnya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
berbeda hari.


Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah
sudah bertakbir dan masjid kita
masih melakukan shalat Tarawih.


Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah
menyantap gulai kambing, berpakaian
bagus, bergembira ria karena hari Lebaran sudah tiba tetapi tetangga
masih berpuasa.


Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
diterima oleh teman yang Lebarannya
baru besok hari.


''Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah
merenung,'' Fadli mengingatkan saya.


''Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
sering mendengar ceramah yang
menyinggung masalah perbedaan hari Lebaran,'' jawab saya.


''Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
lebih suka Lebaran bareng atau
Lebaran sendiri-sendiri?'' kejar Fadli.


''Saya lebih suka Lebaran bareng.''
''Kenapa?''
''Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
masih ada di tengah kita, saya
yakin beliau tidak berkenan dengan Lebaran yang tidak kompak ini.''


''Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa
kompak dalam menentukan hari
Lebaran?''


Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
ditertawakan oleh para alim.
Maka saya senang ketika Uun mengambil alih dan mencoba menjawab
pertanyaan Fadli.


''Begini, Fad,'' kata Uun. ''Perbedaan keyakinan di antara para
pemimpin memang punya dasar berupa
dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira, adalah sikap memutlakkan
keyakinan masing-masing.''


''Memutlakkan bagaimana?''
''Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh
Islam yang amat menjunjung tinggi
kebersamaan. Dan membuat umat di bawah menjadi tidak nyaman.''
''Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
adalah rahmat.''
''Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
Dan saya sangat yakin Kanjeng
Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari Lebaran ini.''
''Kalau begitu kamu punya gasasan apa?''


''Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
Fad, kamu jangan kaget: Mari
kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui keputusan politik. Ada
beberapa opsi yang ingin saya
tawarkan, tapi saya kemukakan satu saja yang paling sederhana.''
''Lebaran dengan keputusan politik?'' tanya Fadli dengan mata melebar.
Terus terang saya dan yang
lain juga terkejut.


''Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
pernah mengambil keputusan
politik untuk mengatur suatu ritus ibadah, dalam hal ini adalah shalat
Tarawih. Bukankan shalat
Tarawih berjamaah dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan
Umar bin Khatab? Apakah itu bukan
keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam waktu itu
melaksanakan shalat Tarawih
sendiri-sendiri sehingga di mata beliau kurang enak dipandang?''


Kecuali Uun yang tertawa-tawa, selainnya jadi memasang wajah serius
karena merasa tersodok oleh
pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan, masih dengan
tertawa-tawa, Uun melanjutkan
omongannya.


''Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
kompak saja makmum ke Makkah?
Maka kita akan melaksanakan shalat Id bareng pada hari yang sama
dengan orang Makkah, hanya
pelaksanaannya kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada
orang yang mengaku paling jago
dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal. Dan yang
penting kita jadi lebih patut
karena sebagai umat yang mengaku paling baik, bisa berlebaran bareng.''


Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar.
Dan Kang Ngalwi amat-sangat
setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu tadi, STAIN saja tidak
tamat. (Harian republika. Tgl
9/10/2006 / http://www.mualaf.com )


Redaksi Mualaf Center Online : Kami mengajak anda berkampanye Bersama
BerLebaran Bersama kini dan
seterusnya, dengan mengirimkan topik ini ke Sepuluh Rekan Anda dengan
email, dengan harapan semoga
Iedul Fitri tahun 1427 H ini tidak ada perbedaan harinya. Jika dapat
cc kan juga ke DPP Muhammadiyah
dan DPP NU.
Kirim ke Sepuluh teman anda untuk Kampanye "Bersama Berlebaran Bersama
kini dan seterusnya ! "


Wassalam,
__._,_.___

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS
School education Pre school education Classmate search
Classmate finder High school classmate

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke