Mudik: Keharusan yang Irasional
@Fajar Syuderajat
Neleng neng kung, neleng neng kung
geura gede, geura jangkung,
geura sakola ka Bandung,
geura nyugemakeun
indung.
(Lagu Rakyat Sunda, Anonim)
25 tahun yang lalu, lagu di atas menjadi pengantar tidur. Emak menyanyikannya seraya mengusap punggung saya hingga terlelap. Sepanjang ingatan anak berusia balitawaktu itutiada malam tanpa lagu tersebut; bahkan ketika saya sudah
bersekolah di bangku SD, kadang Emak masih melantunkan lagu itu untuk sayasi bungsu yang sulit tidur.
Entah mengapa menjelang akhir Bulan Ramadhan, lagu pengantar tidur itu seperti sering terdengar mengalun. Senyum Emak dan Bapak sesekali muncul di layar televisi ketika saya menonton acara pengantar sahur serta ketika saya lelah duduk di kursi kerja; dan ketika menghela nafas panjang, saya seperti menghirup udara segar pedesaan. Saya pikir, saya sudah kurang waras.
Hari ini,
saya membaca tulisan di PR (17/10) Pemudik Motor Sudah Terlihat di jalur utama pantura sejak H-8. Tulisan tersebut membuat saya berfikir, mungkin saya telah jenuh pada kota dengan segala kompleksitas dan kontradiksinya. Setelah di rumah, segera saya mencari koper besar bersiap untuk pulang kampung. Mudik euy!
Esensi Mudik
Mudik menjadi ritual pelengkap Bulan Ramadhan. Satu bulan berpuasa tak sempurnarasanyajika kita tidak bersilaturahmi, bermaaf-maafan dengan orang tua dan keluarga besar yang biasanya tinggal di desa. Maka, hal yang mendorong orang untuk melakukan mudik, tak lain ialah silaturahmi dan bermaaf-maafan. Betulkah?
Silaturahmi memiliki dua dimensi realitas personal, yaitu (1) realitas fisik dan (2) realitas metafisik atau realitas mental.
Realitas fisik, dalam konteks mudik ialah berinteraksinya satu individu dengan individu lain. Interaksi dilakukan dapat secara langsung tatap muka, atau melalui media komunikasi misalnya telefon, surat, email, dan sebagainya.
Realitas metafisik atau mental dari mudik, adalah segala motif dan dorongan kenapa seseorang melakukan mudik. Studi psikologi sosial memperkenalkan motif sosiogenetis, yaitu motivasi yang timbul akibat pengaruh belajar sosial dari individu. Di dalam konteks mudik, motif sosiogenetis individu misalnya hormat pada orang tua, berbakti pada keluarga besar, dan menghargai kampung halaman.
Dan dorongan individu kenapa mudik dapat karena self esteem needs atau kebutuhan untuk dihargai. Pada bagian inilah yang sering menyimpang, misalnya ingin pamer kesuksesan dengan merepresentasikan ikon-ikon kekayaan misalnya motor-mobil bagus, pakaian perlente, handphone keluaran terbaru; dan juga tak kalah pentingnya pamer gaya hidup perkotaan, misalnya berbicara dengan bahasa keseharian kota serta menampilkan atribut artifisial kota lainnya.
Realitas metafisik para pemudik sering mengalami distorsi. Karenanya, silaturahmi bermedia atau komunikasi melalui media menjadi terasa tidak cukup. Ada kepuasan yang tidak terpenuhi bila kita
tidak bertemu muka. Tidak melihat langsung ekspresi wajah terpesona dari orang di desa yang kagum pada motor-mobil yang kita bawa, misalnya. Padahal jika kita memiliki motivasi atau niat yang lurus, mudik dapat menjadi semacam perjalanan ibadahbadani dan rohaniyang mampu membersihkan jiwa (spiritual needs).
Lahirnya Kebiasaan Mudik
Belum ada referensipaling tidak yang pernah saya bacasecara pasti menyatakan tahun berapa kebiasaan mudik bermula. Aktivitas mudik adalah sebuah fenomena yang hanya dilakukan oleh kaum urban. Artinya, para pendatang diperkotaanlah yang memulai kebiasaan mudik. Seiring naiknya laju urbanisasi maka makin besarlah jumlah orang-orang yang mudik.
Urbanisasi melahirkan mudik; dan urbanisasi lahir karena pertumbuhan pembangunan kota dengan desa yang tak seimbang. Pola pembangunan yang sentralistik telah membuat disparitas tingkat perekonomian kota dengan desa kian melebar. Ditambah lagi kebijakan perekonomian Indonesia yang tidak berpihak pada industri pertanian dan peternakan yang notabene ada di pedesaan.
Kehidupan di desa kian kehilangan daya tariknya. Lonjakan migrasi penduduk desa ke kotaatau yang lazim disebut urbanisasimulai terasa
pada tahun 60-70an. Pembangunan mendorong pertumbuhan ekonomi diberbagai sektor, mulai dari sektor formal hingga informal. Maka berbondonglah orang desa mengadu nasib ke kota; yang sedikit beruntung melanjutkan pendidikan pada jenjang lebih tinggi di kota. Dan, kala tiba Hari Raya berbondong pulalah kaum urban kembali ke desa asalnya.
Irasionalitas yang Massif
Berikut ini adalah fragmen dari episode mudik: perempuan setengah baya masuk ke dalam gerbong kereta api melalui jendelanya yang setengah terbuka; toilet kereta api yang beralih-fungsi menjadi kabin penumpang; biaya perjalanan yang mencekik leher; kemacetan yang luar biasa; kecelakaan lalu lintas yang meningkat; aksi copet yang merajalela; (dan anda boleh menambahkannya sendiri). Ya, mudik adalah sebuah keputusan yang memiliki resiko tidak kecil.
Keputusan melakukan mudik adalah keputusan yang tidak masuk akal, jika kita membuat pertimbangan untung-rugi. Namun, manakala sebuah fenomena terjadi secara berulang, dilakukan oleh banyak orang maka fenomena yang irasional dapat menjadi realitas rasional karena termassifikasi.
Jumlah pemudik bersepeda motor yang melintas di wilayah hukum Polda Jabar diperkirakan mencapai 3 juta, sedangkan
pemudik yang menggunakan kendaraan roda empat "hanya" 2,3 juta. Jumlah pemudik beroda dua itu meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2005. Sementara jumlah pemudik beroda empat, meningkat sekira 15 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 2,06 juta (PR: 17/10).
Di dalam konteks sosiologi komunikasi, massifikasi atau pe-massal-an dapat ditandai jika sebuah fenomena telah dilansir oleh media massa. Dan jika kita sebagai khalayak penikmat media massa tidak segera memberi respons negatif, maka fenomena tersebut telah dianggap sebagai sebuah kewajaran atau bahkan kebenaran.
Selamat Tinggal Rasionalitas
Selain realitas personal dan sosial, mudik juga memiliki realitas berdimensi ekonomi. Lihat saja jumlah motor dan mobil yang laku terjual pada Bulan Ramadhan yang jelas akan digunakan sebagai
kendaraan untuk mudik. Munculnya asuransi khusus mudik. Paket-paket mudik pulsa telefon selular. Pendapatan daerah yang naik berkat pulang kampungnya para urban, atau karena kiriman THR para TKW. Sebagai contoh menurut PR (17/10), Dalam dua pekan terakhir, pengiriman uang melalui wesel di kantor pos, mengalami lonjakan lebih dari seribu persen. Kantor Pos Karangampel, Indramayu, dalam dua minggu terakhir sudah mencairkan uang lebih dari Rp 200 juta. Dimensi ekonomi tergerak karena ada peluang untuk meningkatkan penjualan produk dan jasa. Produk dan jasa yang menjadi pemuas kebutuhan para pemudik.
Namun, ada kepuasan yang tak terbayar oleh uang, yaitu ketika saya membagi-bagikan hadiah (maaf, tentu saja bukan dalam bentuk parsel) kepada keluarga besar di kampung. Ada kepuasan yang tak ternilai jika Emak menjadi bangga (nyugema) pada sayasi bungsu yang telah berhasil mereguk nikmat surga perkotaan. Jika demikian kondisi sejatinya, maka omong kosong dengan semua rasionalitas!
Emak, bapak, aa, teteh, sareng amang sakulawargi abdi mulih H-3. Ulah hilap pais lauk emas na nyaa...
***
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. __._,_.___
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| School education | Pre school education | Classmate search |
| Classmate finder | High school classmate |
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
