| Homeschooling, Tak Sekadar Belajar di Rumah Hot Topic Fri, 15 Dec 2006 16:01:00 WIB
Homeschooling dipilih sebagai alternatif pendidikan karena dinilai memiliki kelebihan-kelebihan berikut: Efisien Homeschooling jauh lebih efektif karena anak bisa memiliki waktu lebih banyak untuk belajar dan mengerjakan sesuatu dibandingkan di sekolah. Dengan belajar di rumah anak tak perlu lagi menghabiskan waktu yang tak efektif untuk perjalanan menuju ke dan kembali dari sekolah dan melakukan persiapan-persiapan rutin lainnya. Dengan ekstra waktu anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengekplorasi hal-hal edukatif lain yang sesuai dengan minatnya. Mencegah pelajaran berulang Yayah Komariah SPd, Ketua Komunitas Homeschooling wilayah Pasar Minggu Berkemas, mengemukakan, dalam kurikulum sekolah konvensional, seringkali anak-anak dihadapkan pada bahan pelajaran yang disampaikan berulang-ulang dalam waktu cukup lama. “Pada mata pelajaran PPKn, sebenarnya isinya telah disampaikan sejak anak duduk di bangku awal SD. Tetapi, terus saja diulang hingga anak duduk di bangku kelas IV SD dengan tema sedikit berbeda namun sama esensinya. Misalnya, mengenai Ketuhanan YME, gotong-royong dan lain sebagainya.” Kesempatan memperoleh perhatian yang lebih personal. Dengan homeschooling orangtua dapat mudah memberikan bantuan lebih personal pada anak-anaknya, misalnya dengan memberikan perhatian lebih pada mata pelajaran yang masih sulit untuk dikuasai dan mengurangi waktu untuk mempelajari hal-hal yang sudah dikuasai dengan baik oleh anak. Walaupun memiliki banyak kelebihan, lingkungan homeschooling yang mengambil tempat belajar di rumah sering menimbulkan kekhawatiran orangtua pada kemampuan anak bersosialisasi. Mengenai hal ini Utami menegaskan, “Anak tidak hanya bisa bersosialisasi di sekolah. Ada kesempatan lain bagi anak untuk berinteraksi dan belajar dari lingkungan masyarakat dengan berbagai latar belakang usia, gender, dan minat.” Selain itu, Utami menambahkan, anak juga mempunyai banyak waktu luang untuk ikut serta dalam aktivitas dan berinteraksi di luar rumah dengan mengikuti kursus musik, ikut klub olahraga, aktif di kegiatan ibadah, dan lain sebagainya. Lagipula, tambahnya,”Dari penelitian terbukti bahwa anak dengan program HS lebih percaya diri dan kurang bergantung pada orang lain dibandingkan dengan anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah umum.” Model homeschooling Model Sekolah di Rumah (school-at-home). “Model ini merupakan metode yang paling mahal dan mempunyai tingkat kegagalan yang paling tingg,” papar Utami. Peserta program membeli suatu set kurikulum dengan buku-buku, jadwal belajar, tingkatan kelas beserta cara evaluasinya. Mereka juga akan berhubungan dengan penyedia kurikulum untuk menyerahkan tugas-tugas yang dimuat untuk dinilai dan dievaluasi. Peserta yang memakai model ini juga bisa membuat rencana dan materi pembelajaran sendiri. Keuntungan model ini adalah, peserta tahu dengan pasti apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya. Sebaliknya kerugiannya adalah, model ini memerlukan pekerjaan dan perhatian yang lebih banyak dari orangtua/pengajar. Selain itu, besar kemungkinan pelajaran yang diberikan tidak terlalu menyenangkan bagi anak-anak. Model Unit Pengajaran (Unit Studies). Model ini memakai minat masing-masing anak dalam suatu subyek dan kemudian menyatukannya dalam bidang-bidang lain seperti matematika, bahasa pengetahuan umum, sejarah, dan sebagainya. Misalnya, bila anak berminat mempelajari negara Mesir, maka ia akan belajar mengenai sejarah Mesir, membaca buku tentang Mesir, menulis karangan tentang Mesir, membuat art project tentang piramida sekaligus meneliti benda-benda kuno di Mesir dan sebagainya. Model ini dapat menjadi metode pembelajaran yang santai sambil bereksplorasi berdsarkan minat melalui suatu obyek atau pendekatan alamiah yang terdapat dalam paket unit pengajaran. Keuntungan model ini terletak pada minat anak. Pada kenyataannya, anak akan belajar lebih baik bila ia memiliki minat pada topik itu. Kekurangannya, menurut Utami, kadang-kadang orangtua terlalu bersemangat dan berlebihan dalam membahas subyek ini. Akibatnya, anak menjadi takut membicarakan subyek lain yang ia minati. Model Ekletik merupakan metode homeschooling yang santai dan paling banyak digunakan. “Pada dasarnya model ini menggunakan sedikit perlengkapan juga bahasa dan pendekatan yang bebas,” kata Utami. Dengan metode ini orangtua dapat merasakan subyek-subyek apa yang menurutnya paling penting secara keseluruhan. Peserta dapat memilih buku-buku membuat karya wisata dan ikut serta dalam kelas-kelas yang cocok dengan keperluan dan minatnya. Model Unschooling dikenal sebagai metode pembelajaran alami yang praktiknya dilakukan berdasarkan minat dan keingintahuan anak. Peserta belajar dari pengalaman sehari-hari dan tidak menggunakan jadwal sekolah atau kurikulum formal. Dengan demikian, anak-anak mempunyai cukup waktu dan kemampuan dalam meneliti sehingga mereka akan menjadi ahli dalam bidang yang ia minati. Namun model ini juga memiliki kerugian karena sulit bagi mereka dalam mengikuti penyetaraan tingkatan/kelas apabila ingin memasuki kembali sistem sekolah umum. Kurikulum Homeschooling Orangtua yang ingin menyelenggarakan HS bagi anaknya dapat menggunakan sumber-sumber apapun yang ada dekat dengan lingkungannya. Di AS dikenal istilah All-in-one Curricula atau yang lebih dikenal dengan School in a Box yang isinya paket pelajaran lengkap dengan buku tulis dan pensil untuk setahun penuh. Materi yang diberikan dikembangkan untuk lingkungan sekolah, namun dapat dipakai dalam lingkup rumah. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu ingin pindah ke sekolah formal, transisi akan mudah dilakukan. Cara ini mungkin paling mahal namun paling mudah diterapkan dan tidak banyak persiapan apapun. Di samping itu program ini juga meliputi tes yang standar sehingga anak akan memperoleh ijasah yang terakreditasi. Yayah sendiri yang menyertakan kelima anaknya pada program HS yang ia tangani secara langsung, menggunakan kurikulum Diknas sebagai acuan. Umumnya anak-anaknya bisa menyelesaikan kurikulum satu semester dengan jangka waktu tiga bulan saja. “Dengan kurikulum Diknas, anak-anak saya pun dengan mudah dapat mengikuti ujian standarisasi pemerintah,” ungkapnya. Untuk mengatasi berbagai kendala yang dialami selama menjalankan program HS, Yayah mengatasinya dengan bergabung dengan suatu komunitas homeschooling. Sehingga para homeschooler dapat saling berbagi dan mendukung dalam menjalankan program pilihannya. Dan yang terpenting, tambahnya, “Komunitas tersebut dapat menjadi perantara para homeschooler dengan pemerintah dalam mengurus masalah kesetaraan anak-anak HS.” Jika Anda tertarik melakukan homeschooling bagi anak, berikut tahap yang perlu dilalui: Tahap awal
Tahap selanjutnya Mengambil keputusan
www.howstuffworks.com www.homeschoolzone.com www.homeschoollearning.com www.homeschoolmath.net http://homeschooling.gomilpitas.com http://www.austega.com/gifted/index.htm http://www.nationalgeographic.com/kids/ http://www.kidsolr.com |
Sumber: Majalah Inspire Kids |
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
| School education | Pre school education | Classmate search |
| Classmate finder | Classmate online |
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
