Dari milis sebelah, smeoga manfaat.

 

Suatu hari, Anda sedang menonton TV di ruang keluarga. Tiba-tiba "byar-pet" 
listrik padam seketika. Maka, sensasi yang Anda rasakan adalah kegelapan total. 
Kalau panik, Anda akan berteriak minta senter atau berusaha meraba-raba untuk 
menyalakan lilin. Tapi sebaliknya, kalau tenang, dalam beberapa menit kemudian, 
mata Anda akan menyesuaikan diri dengan kegelapan.

 

Tak lama kemudian, samar-samar Anda bisa melihat suasana sekeliling. Sinar yang 
sangat redup dan lemah, entah itu pantulan cahaya dari mobil yang lewat, sinar 
bulan, atau lampu jalan, akan menjadi berkah dan rahmat dalam situasi kegelapan 
semacam itu. Sebuah pepatah Cina mengatakan, hanya orang-orang buta yang dapat 
menikmati cahaya yang sesungguhnya.

 

Filosofi yang sama diajarkan dosen saya ketika saya kuliah dulu. Beliau 
berkata, kadang untuk bisa peka dan sensitif, kita harus bisa memosisikan diri 
dalam situasi "tidak mampu". Bagi seorang yang menderita tuli, bisa mendengar 
suara air yang menetes saja sudah menjadi musik yang paling indah. Sama pula 
dengan seorang buta yang bisa melihat rembulan. Pasti akan indah luar biasa. 
Tapi, bagi kita yang serba melihat dan mendengar, seringkali hal-hal kecil itu 
lewat begitu saja.

 

Dalam bisnis, situasinya sangat mirip. Peluang-peluang kecil yang ada di 
sekeliling kita seringkali lewat begitu saja. Kita tidak berdaya 
memanfaatkannya. Semata-mata karena kita tidak bisa melihatnya dengan penuh 
kepekaan seperti seorang buta yang melihat cahaya rembulan. Kita tidak pandai 
menyiasati hal-hal yang remeh.

 

Kadang saya melihat usaha-usaha kecil yang mungkin sepele, misalnya rumah makan 
padang, foto studio, bengkel motor, usaha servis AC, salon rambut, dan banyak 
lagi. Bidang itu dikerjakan entrepreneur sejati, dengan tekun dan sepenuh hati. 
Mereka sukses. Nah, kalau kita pelajari otobiografi mereka, satu demi satu 
terlihat bahwa titik awal mereka seringkali mirip dengan "orang buta yang 
memanfaatkan sinar rembulan". Tidak jarang titik awal mereka adalah saat-saat 
ketika mereka sedang tidak berdaya dan mendekati putus asa.

 

Helen Keller, tokoh kemanusiaan yang menderita buta dan tuli, pernah berujar: 
"It is a terrible thing to see and have no vision." Menurut Helen, asal melihat 
dan benar-benar melihat adalah dua hal yang berbeda. Walaupun Helen Keller buta 
dan tuli, beliau berhasil lulus dari Radcliffe College pada 28 Juni 1904, 
sebagai seorang buta tuli pertama yang lulus pendidikan kesarjanaan. Ia 
berhasil menajamkan kepekaannya. Pemikiran dan buah karya tulisnya menjadi 
inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang.

 

Benar-benar melihat dengan tingkat kepekaan tinggi merupakan "skill" yang 
diperlukan untuk bertarung di medan bisnis zaman ini. Skill yang sama bisa 
menjadi motivasi pengembangan seorang eksekutif. Tidak jarang para eksekutif 
menjadi tumpul skill melihatnya hanya gara-gara terbelenggu rutinitas. Gagal 
melihat detail atau petunjuk-petunjuk yang lain.

 

Kolega saya, seorang sales manager di sebuah perusahaan consumer products, 
bercerita bahwa ia selalu membiasakan untuk mengadakan meeting harian tiap hari 
dua kali. Sekali pada pagi hari dan sekali lagi sore hari sebelum pulang. 
Pertemuan itu wajib hukumnya, biarpun cuma singkat 10-15 menit.

 

"Bagi saya, bertemu dengan kru saya sehari dua kali itu penting sekali. Yang 
saya lakukan sederhana, setiap pagi kami bertemu, saya benar-benar berusaha 
menatap mereka langsung di mata mereka. Saya mencari setiap perubahan yang 
terjadi. Entah itu parfum mereka, gaya rambut mereka, cara mereka berpakaian, 
ataupun cuma anting-anting. Sore hari, saya melakukan hal yang sama. Percaya 
atau tidak, dari pandangan itu saya selalu menemukan petunjuk. Entah mereka 
sedang susah, senang dan bahagia, punya pacar baru, atau ribut di rumah. 
Membaca petunjuk itu dengan benar, biasanya kita bisa menghindari tragedi dan 
drama.

 

Pernah, menurut teman saya, ia melihat salah satu salesman mengubah cara 
berpakaian. Tidak banyak. Hanya perubahan-perubahan kecil. Ia mulai curiga. 
Benar saja, sebulan kemudian, sang istri marah-marah datang ke kantor. Rupanya 
sang salesman punya istri muda yang disembunyikan. Kasus lain, pernah ada 
seorang salesman tiba-tiba selalu menghindari tatapan mata teman saya. Kalau 
rapat, pandangannya tidak pernah ke depan. Seolah ada yang mengganggu. Teman 
saya merasakan firasat jelek. Benar saja, ternyata sang salesman gemar berjudi 
dan menyelewengkan sejumlah uang tagihan.

 

Pada tahun 2007, jangan takut menjadi orang buta. Yang penting, Anda harus 
cerdas dan peka memanfaatkan secercah sinar. Tanpa harus peduli betapa lemahnya 
sinar itu sekalipun. Janganlah memandang enteng segala hal yang kelihatan 
remeh, tetapi justru bisa menjadi kunci solusi. Kadang-kadang kita harus tuli 
untuk bisa menikmati sebuah musik yang indah. Selamat tahun baru 2007. Semoga 
tahun baru ini membawa rezeki dan keberuntungan yang berlimpah.

 

Kafi Kurnia <[EMAIL PROTECTED]>

[Intrik, Gatra Nomor 7 Beredar Kamis, 28 Desember 2006] Copyright © 2002-04 
Gatra.com

 

artikel lain tentang Buta:

"Gambar Erotis Membuat Anda Buta?"

mailto:[EMAIL PROTECTED] (blank-email)

 

Hangtuah Digital Library

-

 

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke