Dari milis sebelah

 

Menjelang akhir tahun, saya bertemu dengan Mama Loren, peramal kondang. 
Penasaran, saya bertanya, apakah duet SBY-JK akan bertambah akur dan damai atau 
malah sebaliknya. Mama Loren menjawab diplomatis bahwa memang dari perhitungan 
zodiak dan shio, keduanya memiliki sifat-sifat yang berbeda. Jadi, agak sulit 
kalau selama dua tahun terakhir ini media sudah meributkan bahwa keduanya tidak 
kompak, dan tiba-tiba tahun 2007 secara ajaib SBY dan JK akan berubah menjadi 
pasangan harmonis.

 

Saya juga bertemu dengan kolega yang berprofesi sebagai penasihat perkawinan. 
Sudah 25 tahun beliau menjalani profesinya. Sudah cukup makan asam-garam. Dan 
entah sudah berapa ratus pasangan suami-istri yang berkonsultasi. Dalam sebuah 
obrolan panjang, beliau menuturkan bahwa pergerakan zaman sudah mengubah nilai 
tatanan. Dua puluh lima tahun lalu, banyak pasangan menikah dengan nilai bahwa 
perkawinan ibarat perjalanan dengan satu tiket. Hanya untuk pergi. Tidak ada 
untuk pulang. Perceraian adalah sesuatu yang tabu.

 

Menyebut kata "cerai" saja sudah dianggap murtad, apalagi berani 
mendiskusikannya. Saat itu, kalau ada perkawinan yang kurang kompak, serasi, 
dan harmonis, kedua pasangan harus belajar mengalah dan kompromi. Kalaupun 
salah satu pasangan ngotot tidak mau mengalah, jalan keluar terakhir adalah 
pasangan yang tersisa yang akan mengalah total. Di sinilah letak bedanya. 
Mengalah total masih dianggap sebagai pengabdian yang memerlukan ketulusan luar 
biasa.

 

Zaman sekarang sangat beda. Mengalah dan kompromi berbalik menjadi tabu. Kalau 
tidak cocok, solusinya mudah: cerai. Perkawinan pun menjadi jalur "busway", 
jalur cepat untuk mondar-mandir.

 

Di dalam bisnis, situasinya juga sama. Ayah saya pernah bercerita, zaman dulu, 
para pebisnis saling kawin dan membentuk "kongsi" atau joint-venture 
semata-mata lebih didasari semangat kebersamaan dan upaya membentuk jaringan 
bisnis atau network yang lebih luas.

 

Kenyataannya, dalam setiap "kongsi" belum tentu semua partner saling cocok dan 
harmonis. Namun jarang sekali para pengusaha itu cekcok atau ribut besar hanya 
karena merasa tidak cocok satu sama lain. Kalau terjadi percekcokan, akan 
diselesaikan dengan baik. Mirip perkawinan, beberapa partner akan mengalah 
total, lalu menjual sebagian besar sahamnya. Biasanya saham tidak dijual semua. 
Semata-mata untuk "memberikan muka" terhadap partner yang lain.

 

Tak mengherankan apabila dalam banyak kasus bisnis entrepreneur, kita juga 
melihat pasangan suami-istri berduet dalam manajemen. Biasanya sang suami yang 
menjalankan operasi sehari-hari dan istri yang memegang kemudi keuangan.

 

Dalam tradisi bisnis entrepreneur yang lebih besar, tidak jarang kita menemukan 
network keluarga yang lebih rumit dan kompleks. Misalnya, berbagai jabatan 
manajer yang penting selalu dijabat anggota keluarga, entah itu putra dan 
putri, menantu, keponakan, ataupun kakak/adik. Praktek ini seringkali diprotes 
karena dianggap menyalahi pakem profesionalisme. Yaitu seringkali terjadi 
penempatan sumber daya manusia yang tidak memenuhi syarat, sehingga melemahkan 
koordinasi manajemen.

 

Namun pelaku-pelaku bisnis keluarga seringkali mengaku kepada saya bahwa 
penempatan anggota keluarga kerap didasari pertimbangan untuk menghindari 
cekcok. Suasana akur bersatu yang lebih harmonis lebih mudah diciptakan kalau 
pelakunya sesama anggota keluarga. Di samping tentunya berbagai faktor 
kepercayaan lain.

 

Kata Mpu Peniti, ibarat perkawinan, kalau SBY dan JK mau rukun-rukun dalam sisa 
masa pemerintahan mereka, keduanya harus bisa kawin dengan posisinya 
masing-masing. Ibaratnya SBY itu sang suami, maka ia perlu menjadi suami yang 
arif bijaksana untuk memimpin kendali negara. Dan JK harus rela menjadi istri 
yang mau mengabdi dan mengalah total. Apa pun situasinya.

 

Hanya dengan cara ini, hubungan yang harmonis akan tercipta. Kabinet akan 
menyatu dan bekerja dengan tenteram. Kadang di dalam keluarga, ayah dan ibu 
punya anak favorit masing-masing. Sehingga ada istilah "anak mami" dan "anak 
papi". Anak yang tidak puas dengan keputusan sang papi akan lari mengadu ke 
sang mami. Dan sebaliknya. Adu domba tak akan terelakkan.

 

Desmond Tutu, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1984, mengatakan: "We must 
embrace our differences, even celebrate our diversity." Barangkali inilah 
kuncinya bagaimana dua orang yang sangat berbeda bisa berduet untuk melakukan 
satu tugas yang sama. Yaitu masing-masing menjadi cermin sang partner.

 

Seorang wanita pengusaha yang berduet dalam menjalankan perusahaan bersama 
suaminya mengaku: "Suami saya orangnya kalem dan konservatif. Saya justru 
sangat agresif. Maunya serba cepat dan tuntas. Kami sangat berbeda. Tetapi, 
selama 10 tahun berbisnis, saya melihat bagaimana suami saya dengan sabar 
selalu berbaik hati menyelesaikan masalah-masalah yang timbul karena 
ketidaksabaran saya. Ia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia selalu 
menyelamatkan saya. Dan barulah setelah 10 tahun, saya akhirnya bisa belajar 
kalem mengikuti suami saya. Kini kami berdua saling menjaga satu sama lain. 
Barangkali itulah rahasia keberhasilan duet manajemen kami."

 

Kafi Kurnia <[EMAIL PROTECTED]>

[Intrik, Gatra Nomor 8 Beredar Kamis, 4 Januari 2007] Copyright © 2002-04 
Gatra.com Hangtuah Digital Library

-

 

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke