Mohon maaf dan mohon izin kepada rekan-rekan sekalian, khususnya redaksi 
tarbawi, untuk berbagi cerita yang menyentuh hati ini.
  Wassalam,
   
  Nugon
  ---------------------
  Merajut Cinta di Bawah Ancaman Kematian 
  Edisi 162 Th. 8/Sa’ban 142811/31 Austus 2007 M
  Tarbawi hal 19 -23
  Dia ramah dan energik. Begitu memasuki ruang cuci darah, ia sibuk menyapa 
perawat dan beberapa pasien. Sepintas, dia Iebih mirip seorang pengantar 
daripada penderita gagal ginjal. Padahal, ia telah memasuki tahun ketujuh, 
menjalani kehidupan yang tergantung pada mesin cuci darah. Selain ceria, secara 
fisik ia juga nampak segar, bahkan kulitnya pun masih kuning langsat. Boleh 
dibilang, kondisi seperti itu langka. Proses cuci darah secara terus menerus 
akan meninggalkan zat-zat tertentu yang menyebabkan kulit menjadi gelap. 
   
  Seperti hampir semua pasien lainnya, ia juga stres berat ketika divonis gagal 
ginjal tujuh tahun silam. “Dua tahun pertama harus cuci darah saya stres, belum 
bisa menerima kenyataan. Dunia terasa gelap, sempit. Tuhan tidak adil. Saya 
punya rencana, semua gagal karena sakit. Saya putus asa,” tutur Roslinawati 
pada Tarbawi. 
   
  Ros yang saat itu tinggal di Kalimantan, akhirnya kembali ke rumah onang 
tuanya di Jakarta untuk berobat. Ibu dan seluruh keluarga merawat Ros yang 
saking parahnya hingga ia tidak bisa berjalan, harus rnemakai oksigen 24  jam, 
dan keluar masuk rumah sakit. Kondisi tak berdaya itu membuat Ros marah pada 
semuanya, termasuk kepada Tuhan. Ia juga tidak mau bergaul, bahkan kesal bila 
melihat orang tertawa. “Saya benci pada din sendiri,” ucapnya. 
   
  Ros mengungkapkan, kemarahan dan penolakan atas penyakit itu malah 
memperburuk kondisiriya. Semakin memberontak, ia semakin sakit bahkan bernafas 
pun menjadi susah. “Saya jenuh, capek dengan pemberontakan yang tidak ada 
hasilnya. Saya berpikir, ya Allah, saya tidak bisa begini terus,” kenangnya. 
   
  Setelah dua tahun dalam peperangan melawan kenyataan, akhirnya Roslinawati 
sampal pada tahap penerimaan. Shalat tahajud dan membaca Al Qur’an menjadi 
kalalisator kesadarannya. Pada Al Qur’an a menemukan ayat yang menyatakan, 
Allah tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan. Pada shalat Tahajud 
ia menemukan ketenangan dan keyakinan, Allah yang paling tahu apa yang terbaik 
bagi umat-Nya, meski di mata manusia itu terlihat buruk. “Saya berusaha ikhlas. 
Sernakin jauh dan Allah, saya makin tersiksa. Ketika sudah pasrah ternyata saya 
menjadi tenang,” ujar-nya. 
   
  Kepasrahan itu kemudian membuka kesadaran-kesadaran lanjutan dalam diri 
Roslinawati. Ia merasa tidak enak telah merepotkan seluruh keluarga terutama 
ibunya. Apalagi adiknya menceritakan, ibunya sering menangis tanpa 
sepengetahuan Ros, sebab bila ia tahu, ibunya takut Ros menjadi makin sedih. 
Semua itu membuat Ros merasa bersalah. “Saya minta maaf dan bertanya, apa yang 
bisa membahagiakan Ibu. Saya sakit, tidak bisa memberi apa-apa lagi. lbu 
bilang, yang bisa membahagiakan Ibu kalau kamu sehat Itu saja,” kenangnya. 
   
  Sejak itu Roslinawati berjuang untuk sehat. Sempat juga Ia shock ketika 
pertama kali bercerrnin setelah dua tahun tidak berdandan. Di cermin itu, ia 
melihat badannya begitu kurus, kering, dan tua bagaikan nenek-nenek, hingga Ia 
sendiri pun menjerit kaget. Lagi-lagi, sang Ibu yang begitu tegar dan penuh 
cinta
  meyakinkannya. Tidak apa-apa, asal pikiran sehat, badan juga akan sehat. 
   
  Langkah pertama berjuang untuk sehat dan mandiri Ia wujudkan dengan berangkat 
ke tempat cuci darah sendirian. Ros yang semula harus diantar mobil bahkan 
digotong kini memilih naik ojek. “Saya yakin kalau berjalan untuk kebaikan 
pasti Tuhan mehndungi. Di jalan istighfar terus, alhamdulillah sampai tujuan,” 
ujarnya.
  Ros yang absen cukup lama dan kantornya pun kembali bekerja. Saking takutnya 
kalau sakit dan jatuh di jalanan, awalnya Ros membawa pembantu yang disuruhnya 
menunggu di lobby hingga saat pulang tiba. Pelan-pelan, semangat hidup mulai 
tumbuh, dan seiring dengan itu, tubuhnya makin sehat. Hati dan jiwanya mulai 
dipenuhi penerimaan dan keikhlasan, termasuk kesabaran melepas suami untuk 
wanita lain, karena lelaki yang telah memberinya dua putra itu tidak tahan 
hidup bersama istn yang sakit-sakitan.
   
  Sejak itu, Ros mulai menata hidup dalam kesendinan dan tak sedetik pun 
terpikir untuk menikah lagi. Ia membangun ketenangan, selain dengan mendekatkan 
diri pada Allah, juga dengan melepaskan ambisi dan target yang dulu memenuhi 
angannya. Ia sadar, kini ia hidup dalam keterbatasan.
   
  Satu-satunya target yang masih tersisa hanyalah menjalani hidup tanpa 
menyusahkan orang lain dan sebisa mungkin berguna di dunia ini. “Saya ingin di 
sisa hidup ini mendapatkan ketenangan lahir batin. Yang saya pikirkan hanya 
yang saya butuhkan. Selama Tuhan masih membeni nafas, saya harus tetap hidup 
yang sehidup-hidupnya, bukan hidup tapi mati. Hidup yang bermakna. Saya sakit 
tapi jiwa saya sehat,” tuturnya.
   
  Acara. rutin cuci darah akhimya menjadi medan pertemuan Ros dengan Sigit 
Wismonugroho, lelaki yang kini menjadi suaminya. “Saya kenal karena cuci darah, 
sening bertemu. Tapi berpikir ke arah menikah awalnya merasa tidak mungkin 
karena kami sama-sama sakit. Orang sakit seperti saya, apa ada yang mau,” 
ujarnya.
   
  Pertemuan demi pertemuan lama-lama mendekatkan keduanya. Mulai dan pertemuan 
di tempat cuci darah, ketika tanpa sengaja mereka mendapat tempat cuci darah 
yang bersebelahan, ikut seminar tentang ginjal, hingga menghadiri pernikahan 
suster yang merawat pasien gagal ginjal. Kedekatan kian erat ketika Sigit 
dirawat di rumah sakit dan Ros menengoknya. Sigit yang sendiriari karena baru 
saja ditinggal ibunya meninggal, mengundang iba dan sayang di hati Ros.
   
  Saling berbagi cerita, akhimya kedua insan yang sama-sama pernah ditinggalkan 
pasangannya yang sehat ketika mereka divonis gagal ginjal itu merasa ingin 
membina hubungan lebih serius. Ros mengakui, awalnya belum saling jatuh cinta. 
Yang ada hanya rasa saling membutuhkan teman hidup. “Kalau Tuhan memberikan 
jodoh, tolong berikan yang terbaik. Saya tidak memilih, pokoknya yang terbaik 
di mata Allah,” ujarnya.
   
  Niat kedua sejoli yang sama-sama sakit itu awalnya menimbulkan penolakan 
keluanga. “Orang sudah sakit, mengurus diri sendiri saja susah apalagi harus 
mengurus pasangannya, begitu kata keluarga saya,” uiar Ros. Di pihak keluarga 
Sigit pun, penolakan keluarga atas rencana pernikahan itu juga cukup serius. 
Sesungguhnya tidak masalah bila Sigit yang menduda itu ingin menikah, tapi 
mereka ingin Sigit mendapatkan mempelai yang sehat sehingga mampu merawat 
dirinya kelak. “Sigit
  bilang, orang sehat tidak ada yang mau sama dia. Justru karena sama-sama 
sakit, kami berdua saling mengerti,” paparnya.
   
  Baik Ros maupun Sigit menyatakan, mereka berdua justru takut membina cinta 
dengan orang sehat. Rasa sakit ketika suami meninggalkan Ros dan pedih ketika 
istri meninggalkan Sigit masih segar dalam ingatan hingga keduanya khawatir, 
jangan-jangan orang sehat akan kernbali menyakiti hati mereka. Penolakan tak 
menghentikan langkah Sigit dan Ros menuju pelaminan. “Kalau memang dia jodoh 
saya, pasti perkawinan itu akan ada. Saya bilang, saya punya Tuhan yang akan 
melindungi asal niatnya karena Allah bukan karena nafsu saja. Saya tidak takut, 
saya jalani saja. Niat saya ibadah. Saya menolong suami yang sakit, suami bisa 
menolong saya yang sakitt tandas Ros. 
   
  Bagaimana pun, bila Tuhan berkehendak tak seorang pun dapat menahannya. 
Pemikahan yang awalnya mustahil bagi keduanya, akhirnya terlaksana, Ros 
menyatakan, ia bangga menikah dengan Sigit, lelaki yang menurut Ros sangat 
tabah menjalani cuci darah selama 14 tahun. “Yang paling saya cintai dan dia, 
semangat hidupnya, kesabarannya. Dia sakit, ditinggalkan istri, namun dia tetap 
bisa hidup mandiri, tetap bekerja, bahkan mampu merawat ibunya hingga meninggal 
dunia. Dia pasrah dan tenang menghadapi semuanya” ujar Ros.
   
  Sigit mengakui, boleh dibilang keputusannya untuk menikahi Ros memang 
tindakan gila. “Kakak saya tidak setuju. Nanti kalau dua-duanya sakit 
bagaimana,” ujamya. Ia menceritakan, vonis gagal ginjal diterimanya ketika 
pernikahan dengan istn pertama baru sekitar empat bulan.
   
  Seperti Ros, Ia pun sempat stres berat saat divonis harus cuci darah seumur 
hidup. “Saya belum bisa menerima. Setelah diberitahu, saya pulang. Cuaca sedang 
panas terik. Tapi saya kedinginan. Gemetar. Hidup sedang di puncak semangat. 
Baru saja menikah. Cita-cita sedang tinggi. Ketika divonis semua angan ambruk,” 
kenangnya.
   
  Ketika sikap istrinya lama-lama berubah, dan akhirnya minta cerai, Sigit 
segera menyetujuinya karena sadar, sejak sakit memang ia tidak bisa mengimbangi 
keinginan istri. “Perawat bilang istri datang membawa laki-laki. Saya tanya, 
katanya tidak ada apa-apa. Tiga tahun kemudian dia minta cerai. Danipada saya 
dibohongin sakit hati, lebih cerai, jadi tidak kepikiran,” ucap-nya.
   
  Sejak itu, Sigit mengerahkan segala daya untuk hidup mandiri, tentu dengan 
keterbatasan. Menikah lagi sama sekali tidak ada dalam benaknya. Saat itu, 
mengenang pernikahan identik dengan mengenang rasa disakiti orang yang 
dicintainya. Tapi Sigit tidak bisa mengelak dan kenormalannya sebagai lelaki. 
Sakit tidak mengikis habis kebutuhan untuk merniliki teman hidup, teman berbagi 
rasa.
   
  Karenanya ia masih berharap, kalau ada orang mencintainya dia akan membalas 
cinta itu. “Temyata yang datang dalam hidup saya dia,” tutumya sambil menunjuk 
Ros.
   
  Sigit yang fungsi ginjalnya tinggal sembilan persen itu mengenang, awalnya 
dia hanya merasa kasihan melihat Ros yang di awal pertemuan di tempat cuci 
darah terlihat kurus dan sakit parah. “Tahu-tahu bersebelahan waktu cuci darah. 
Tapi cuma sebentar. Terus seminar. Selesai acara, dia tidak langsung tapi ikut 
seminar sebuah MLM. Saya bilang, “ngapain sih, sudah mau mati masih ikut MLM. 
Itu hanya untuk orang sehat. Dia marah-marah” kata Sigit sambil tertawa 
terbahak-bahak.
   
  Wajahnya terlihat bersinar dan geli ketika menceritakan Ros yang seolah tidak 
mau pulang kalau sedang menjenguknya di rumah sakit. Usut punya usut, temyata 
selain menengok karena simpati, Ros juga gencar memasarkan produk MLM yang 
diikutinya. ‘Saya dirayu beli produk pelembab kaki. Katanya, orang cuci darah 
kan kulitnya akan menghitam, makanya pakai produk jualannya supaya putih. Saya 
beli karena kasihan. Padahal dia sendiri pakai produk lain yang lebih murah,” 
tutur Sigit. lagi-lagi dengan tawa berderai.
   
  Percaya diri dan gencar menawarkan dagangan, Ros yang di mata Sigit tergolong 
perempuan bernyali besar dan bermental baja itu, ketika hendak pulang mengaku 
tidak punya uang. Sambil tertawa, Sigit mengatakan Ia sering memberikan Ros 
ongkos untuk pulang.
   
  Sigit mengungkapkan, ia menikah karena ingin hidup secara normal. Menurutnya, 
hidup sendiri itu tidak enak. Meski setelah menikah tanggungjawabnya lebih 
besar, karena kini ada seorang istri yang harus dilindungi serta frekuensi 
sakit yang kian sering karena keduanya bergantian diopname, tapi bagaimana pun 
Sigit merasa, pernikahan membuat hidupnya jauh lebih bahagia dan penuh warna. 
Kehadiran istri menjadi karunia besar dalam hidupnya. “Kalau sakit ada tempat 
mengeluh. Sekadar begitu saja sudah sangat membahagiakan,” uarnya.
   
  Meski sesungguhnya ada juga keinginan di hati.Sigit untuk memiliki keturunan 
dan darah dagingnya sendiri, tapi ia sadar, memiliki anak dalam kondisi seperti 
Ini tidak rasional karena kehamilan akan memperburuk kesehatan Ros.
   
  Sadar hidup tak akan lama, Sigit yang fungsi jantungnya 70 persen dan Ros 
yang fungsi jantungnya tinggal 54 persen berkomitmen untuk tidak bertengkar 
karena hal itu hanya akan menyakiti dan membebani hidup yang mungkin tinggal 
sebentar saja.
   
  Sigit dan Ros merasakan, betapa jauh lebih bahagianya pemikahan saat ini 
dibanding yang sebelumnya. Kondisi tubuh yang menurut perhitungan medis memang 
akan terus melemah justru memacu rnereka untuk memanfaatkan waktu 
sebaik-baiknya dan seindah-indahnya. Berusaha menyempatkan waktu untuk selalu 
berduaan, bahkan saat cuci darah pun rnereka berusaha mendapat tempat tidur 
berdampingan. Sigit mengatakan, tiap han mereka seperti orang berpacaran. 
Menjalani hidup tanpa pertengkaran, saling cinta, saling merawat, dan lebih dan 
itu, mereka tidak lagi memiliki ambisi dan keinginan muluk, selain hanya ingin 
menyelesaikan hidup di dunia tanpa menyusahkan orang lain.
   
  “Setelah menikah, tidak pernah berpikir soal rencana ke depan karena sadar 
umur kami tidak akan lama. Cuma kita tidak tahu kapan tapi pasti tidak lama,” 
ujar Sigit yang kini jari-jari tangannya mulai melemah, tulang mulai kaku 
sehingga kalau shalat terpaksa harus duduk.
   
  Membicarakan kernatian, bagi pasangan ini bukan hal tabu. Ros berkali-kali 
mengucapkan, meski dia hampir terbiasa melihat pasien gagal ginjal meninggal 
dunia, tapi ia merasa tidak bisa hidup lagi kalau tiba giliran Sigit untuk 
menghadap Yang Maha Kuasa. Namun Sigit yang nampak lebih rasional mengatakan, 
hidup harus terus dijalani, meski tentu sangat berat, kalau Ros yang pergi 
mendahuluinya. Bagaimana pun, toh Ia tidak bisa rneminta atau menunda kematian.
   
  Kesadaran akan kian melemahnya tubuh, dan ancaman kematian yang terus 
membayangi hidup tak berarti mereka bercucuran air mata setiap waktu Bagi Ros, 
mencintai suami memberikannya kekuatan, memberinya kepercayaan. “Saya harus 
kuat karena saya cinta dia, saya ingin menolong dia. Ketika saya lemah saya 
merasa dicintai dan itu membuat saya percaya diri. Kami mencintai kelemahan 
masing-masing. Jadi tidak ada saling menyalahkan atau penyesalan. Yang timbul 
hanya rasa kasih dan sayang,” tutur Ros.
   
  Kini Ros dan Sigit terus berusaha menjalani hidupnya dalam ketenangan. 
Pernikahan yang diterima sebagai karunia besar, berusaha mereka nikmati dan 
syukuri. Mereka saling mencintai nyaris tanpa tuntutan, ambisi, atau angan yang 
muluk, yang biasanya menjadi milik orang yang sehat dan juga menjadi sumber 
kegelisahan hidup. 
   
  Setengah bercanda, Sigit menyatakan. kini ia dan istnnya hanya ingin 
bersenang-senang. Menikmati honey moon di Bali atau Yogyakarta adalah 
satu-satunya keinginan yang masih ada dl hatinya, namun ia tidak tahu kapan 
terlaksana. “Hidup bersama dia sangat nyaman,” ucap Sigit lirih.
   
  Kesadaran Sigit dan Ros menyongsong kematian, justru menyebabkan mereka 
sungguh-sungguh menghargai waktu, kehidupan, dan cinta kasih pasangan. 
Mencurahkan kasih dan perhatian selagi bisa, serta masih diberi kesempatan, 
dengan kualitas maksimal serta melepaskan hal sia-sia yang merusak ketenangan 
jiwa. 
   
  Gagal ginjal yang telah bertahun-tahun diderita bagaikan alarm yang terus 
menerus mendentangkan peringatan akan dekatnya kematian. Dan sepasang kekasih 
itu saling mengikatkan hati untuk menantinya dengan segenap doa dan keikhlasan.


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
       
---------------------------------
Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV.  Watch previews, get listings, 
and more!

Kirim email ke