..........."Belajarlah yang rajin dan sungguh-sungguh, agar kelak menjadi anak
yang berguna bagi bangsa dan negara" begitu pesan Pak Presiden.... (G.
Dwipayana)
Surat berkop kesekretariatan negara, dengan logo burung garuda
berwarna kuning emas itu sekarang entah ada di mana. Surat itu saya
terima pertengahan era 80an, saat saya masih duduk di sekolah dasar.
Merupakan surat balasan, dari surat yang pernah saya kirim ke Pak Presiden
hampir setahun sebelumnya. Saking lamanya, saya sampai lupa dan
surprise begitu memperoleh balasannya.
Pak Pos sepertinya heran sekaligus penasaran begitu tahu penerima
Surat resmi Tercatat berlogo burung garuda dari kesekretariatan negara
itu seorang anak kecil. Orang rumah juga surprise karena sebelumnya
saya tidak pernah bilang telah mengirim surat ke Bapak Pembangunan
itu. Lama kami memandangi foto berwarna Pak Harto dan Bu Tien
berukuran folio/kwarto (yang sekarang entah terselip di mana) yang
dikirim bersama dengan surat balasannya (tentunya lengkap dengan
senyuman Sang Jenderal).
Ada suatu masa saya kagum dengan sosoknya, dan
menghapal hampir semua sepak terjangnya (soalnya sering jadi bahan
pelajaran IPS tuh). Saya suka dengan sepak terjangnya. Keliatannya
keren. Sementara teman-teman cowok lebih senang berdiskusi soal NATO,
Soviet dan berbagai perang di masa itu. Saya suka dengan KTT Non Blok,
pasukan Garuda dan ASEAN (hehe, cewek banget :). Sebagai anak daerah
(dan dari Yogya pula), kami begitu menyanjung keheroikan Pak Harto
saat beraksi di Serangan Fajar, merebut Yogyakarta. Pokoknya, Pak
Harto adalah Pahlawan (selain Sri Sultan tentunya).
Ketika masa reformasi dulu, itu kali terakhir saya mengingat
keheroikan dan kekaguman masa kecil saya dengan Pak Harto. Saya bilang
ke temen-temen di kampus, "eh tau nggak, gue dulu saking kagumnya
sampe pernah ngirim surat 'cinta' lho....." Tapi meski itu semua sudah
berlalu, saya seolah memiliki kenangan manis dengannya (karena Ia
membalas surat saya, walau lewat 'sekretaris'nya :). Meski pada saat
itu mahasiswa marah dan memintanya turun. Meski kemudian Pak Harto
seperti berubah menjadi musuh yang begitu ingin dikalahkan. Meski
seribu satu pro dan kontra sejarah Indonesia....
Kalau saya memejamkan mata, dan mengingat kembali masa SD dulu,
senyuman Pak Harto dan rasa kagum itu bisa saya rasakan. Demikian juga
ketika di televisi diputar kembali tayangan saat Pak Harto masih
menjadi presiden. Dan tiba-tiba saja saya ingin mencari selembar surat
berkop sekretariatan negara, berlogo burung garuda berwarna emas yang
entah sekarang terselip di mana. Saya sudah melupakannya selama
belasan tahun. Tapi saya masih mengingat sebait kutipan di atas dan
tanda tangan panjang atas nama Presiden Suharto: G. Dwipayana.
Selamat Jalan Pak Harto!
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.