Dari milis sebelah...

 

----- Original Message ----
From: Cardiyan HIS <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:cardiyan_his%40yahoo.com> >
To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ia-itb%40yahoogroups.com> 
Sent: Friday, February 22, 2008 8:06:54 PM
Subject: [IA-ITB] Pewaris Sejati Pemikiran Soekarno: Siti Fadilah Supari

Meruntuhkan Arogansi Amerika Serikat, Memenangi Peradaban Manusia
Pewaris Sejati Pemikiran Bung Karno: Siti Fadilah Supari
Saatnya Dunia Berubah. Neo-kolonialisme, neo-imperialisme,
neo-kapitalisme, neo-feodalisme yang mewarnai perjalanan Republik
Indonesia dan
dunia saat ini harus ditumbangkan ---seperti puluhan tahun yang lalu
digaungkan oleh Bung Karno--- secara cerdik, jujur dan berani. Dunia
pendidikan sangat diharapkan menjadi pilar mendidik anak bangsa sebagai
calon pemimpin yang cerdas tapi berhati nurani. Pendidikan yang
berkarakter akan menghasilkan manusia yang berkarakter! 

Oleh: Cardiyan HIS

Presiden RI, DR. Susilo Bambang Yudhoyono menjuluki Siti Fadilah Supari,
Menteri Kesehatan RI sebagai "Menteri Maju Tak Gentar". Ini barangkali
buah sukses perjuangan panjang, Siti Fadilah Supari di forum dunia
sidang WHO (World Health Organization) , di Jenewa, dalam melawan
ketidak-adilan badan kesehatan dunia ini terhadap negara-negara yang
sedang berkembang yang umumnya negara miskin yang justru menderita sakit
berbagai penyakit antara lain Flu Burung. Sebagai catatan, setiap negara
yang terkena penyakit Flu Burung harus menyerahkan seed virus-nya ke
WHO, tetapi tanpa diimbangi WHO dengan keterbukaan, kemana virus itu
dimanfaatkan. Ujung-ujungnya sudah menjadi vaksin yang ditawar-tawarkan
industri farmasi negara maju kepada negara-negara yang terkena Flu
Burung yang nota bene negara-negara miskin.
Siti Fadilah Supari menengarai ada sesuatu yang ditutupi soal ini.
Dengan sangat cerdas dan sangat berani Menkes RI untuk pertama kalinya
tidak mau mengirimkan seed virus Flu Burung strain Indonesia ke WHO,
kecuali harus ada "Material Transfer Agreement" (MTA) antara WHO dengan
Pemerintah RI sebagai pemilik, sebagai negara yang Merdeka dan Berdaulat
terlebih dulu. WHO mengancam dan juga Amerika Serikat melalui Secretary
of Health and Human Services of the USA, Mr. Michael O. Leavitt, menemui
langsung Menteri kesehatan RI di sela-sela sidang WHO, ikut-ikutan
menekan bahwa tindakan Indonesia ini bisa mengancam terjadinya pandemi
Flu Burung di dunia. Siti Fadilah bergeming. Ia hanya akan mengirim seed
virus Flu Burung bila WHO menjelaskan mekanisme pengiriman dan
pemanfaatan seed virus-nya secara transparan. 
Dunia geger. Ilmuwan di dunia kaget dan sangat senang. Karena selama 50
tahun terakhir ini WHO hanya dikangkangi oleh ilmuwan eksklusif, yakni
15 orang saja, yang semuanya tidak merupakan ilmuwan independen tetapi
adalah "antek" kepentingan negara tertentu dan atau perusahaan industri
farmasi tertentu. Ini memang "very very big business" dengan nilai
ratusan milyar dollar Amerika Serikat. Keberanian Siti Fadilah Supari
boleh jadi sangat mengusik dan sangat berpotensi mengancam kepentingan
bisnis mereka.
Media dunia bahkan media Barat sangat mendukung tindakan Menteri
Kesehatan RI ini. Majalah bergengsi the Economist (UK), 10 Agustus 2006
menulisnya dalam headline news: "For the sake of basic human interest,
the Indonesia government declares that genomic data on bird-flu viruses
can be accessed by anyone. With those words, spoken on August
3rd, Siti Fadilah Supari started a revolution that could yet save the
world from the ravages of a pandemic disease. That is because
Indonesia's health minister has chosen weapon that may prove more useful
than todays best vaccines in tackling such emerging threats as avian
flu: transparency". 

Pewaris Sejati Pemikiran Bung Karno
Megawati pasti adalah pewaris darah Ir. Soekarno karena ia adalah anak
kandung pasangan Ir. Soekarno-Fatmawati, tetapi ia belum tentu pewaris
pemikiran nyata Ir. Soekarno dalam praktek bernegara ketika ia menjadi
Presiden RI ke 5. Tetapi Siti Fadilah Supari dipastikan pewaris sejati
pemikiran Bung Karno. Saya kutipkan kalimat dari buku tulisannya: "I
told my self, How cruel it is when the suffering of some people being
exploited and made into commodity by other people without ethics and
without conscience. Moreover, the practice involving a world
organization expected to do the duty of promoting global health. The
wound in my heart split again, exerting an irresistible pain to the
whole of my bodies and mind. This is the second time since the incident
of Tamiflu in the beginning of the endemic. Unconsciously, my tears
roled down my cheek and dropped
to the surface of the desk of the front of me, the desk of Minister of
Health of the Republic of Indonesia. How useless I am behind this
official desk if I let the inequity keeping on ripping the right of
living equally in the same world. Is it the neocolonialism, which was
often mentioned by Soekarno? Is it exploitation de l'home par l'home? Is
it neocapitalism? Or, is it imperialism? Should I ignore the situation
by presuming that it is none of my business? Or, should I do something
to stop it? But who am I? Oh, my GOD, am I just a Minister of Health of
the Republic of Indonesia, who for more than three decades has been
wellknown as country with no courage to stand against the establishment,
except under the administration of Soekarno?".
Negara-negara di dunia berkat kepeloporan Indonesia akan memulai babak
baru dimana "charity" yang selama ini selalu melekat pada negara miskin
manakala menghadapi WHO, mulai berubah menjadi "empowering" dalam
mekanisme seed virus di WHO. Negara-negara miskin menemukan jati dirinya
kembali menjadi bangsa yang bermartabat, yang berhak memiliki seed virus
yang memang miliknya sendiri dan mengolahnya menjadi vaksin kalau memang
mampu; sementara mekanisme di WHO menjadi transparan!

Bisa Menjadi Model Pengelolaan SDA dan SDH 
Keberhasilan Siti Fadilah Supari mensiasati "bargaining power"
kepemilikan seed virus strain Indonesia terhadap negara adidaya yang
memiliki modal dan teknologi, sebenarnya bisa dijadikan model untuk
berbagai sektor industri di Indonesia. Model pengelolaan sumberdaya alam
(SDA) dan sumberdaya hayati (SDH), dalam empat dekade terakhir selalu
menempatkan Indonesia merasa inferior di mata adidaya, yang memiliki
uang dan teknologi. Padahal Indonesia yang memiliki kekayaan SDA dan SDH
yang termasuk terkaya di dunia sebenarnya memiliki "bargaining power"
ini. 
Mental "rendah diri" inilah yang harus di kubur dari diri para birokrat
dan legislator di Indonesia dalam menyikapi kekayaan Indonesia tadi.
Mereka selalu berkilah "Sekali kita membatalkan perjanjian dengan
investor, maka akan larilah investor selamanya dari bumi Indonesia.
Padahal mencari dana itu sangatlah sulit". Mengapa tidak dibalik;
"Amandemen perjanjian adalah dimungkinkan demi suatu keadilan nyata
untuk mensejahterakan rakyat dan lagi pula tidak dimaksudkan meniadakan
keuntungan investor tetapi hanya menempatkannya kepada memperoleh
keuntungan yang wajar dan fair. Dana itu akan mudah disiasati kalau
potensi SDA dan SDH memang sangat atraktif karena telah terbukti di
lapangan". 
Kalau Presiden Venezuela, Hugo Chavez dan Presiden Bolivia, Evo Morales
sudah mengadopsi pemikiran besar Ir. Soekarno dalam pengelolaan
sumberdaya alamnya. Maka, mengapa Indonesia yang menjadi tempat lahirnya
pemikiran Ir. Soekarno, ---yang selalu mendahului jamannya--- malah
tidak dipraktekkan. Ir. Soekarno selalu bilang; "We are owner" SDA dan
SDH, dan para kapitalis Barat adalah "You are contractor". Lupakan dana
yang kapitalistik imperialistik karena sumber dana masih berserakan di
pelosok dunia karena Indonesia kaya raya SDA dan SDH. Barangkali kalau
masih ada "kemiskinan" adalah kemiskinan rohani birokrat dan legislator
yang masih juga korup dan tidak produktif dan efektif dalam kinerjanya.
Dan ini harus dibenahi melalui investasi pendidikan sumberdaya manusia
yang mendasar dan berjangka-panjang, yang berkarakter. 
Saatnya dunia berubah. Mari kita para insinyur dan ilmuwan belajar dari
seorang Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP. Ia semula adalah seorang
dokter peneliti tetapi karena memiliki kesempatan mendapat amanah rakyat
sebagai Menteri Kesehatan RI dan pribadinya memiliki hati nurani untuk
selalu berada pada keberpihakan kepada rakyat; ia telah membawa
Indonesia mendapatkan martabatnya kembali sebagai Bangsa yang Merdeka,
Bangsa Berdaulat, Bangsa Besar di peta bangsa-bangsa di dunia! 
REFERENSI:
Dr. Siti Fadilah Supari, PhD (Editor: Cardiyan HIS); "It's Time for the
World to Change. Divine Hand Behind Avian Influenza", Publisher: PT.
Sulaksana Watinsa Indonesia (SWI), Jakarta, 2008. 

Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try
it now.



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke