Dari blog sebelah

=================

By : kafi Kurnia

 

Ingat film "Star Wars" ?  Pendekar Jedi, Obi-Wan membisiki murid
belia-nya Luke Skywalker - "Luke, .... feel the force..." Instruksinya
sederhana sekali. Rasakan medan enerji disekeliling kita. Rasakan
getaran dan vibrasinya. Maka enerji itu akan menyatu dengan diri kita.
Ini adalah perumpamaan populer yang sering saya manfaatkan juga untuk
menjelaskan proses membaca trend dalam pemasaran.  Bagi pemasar sendiri
trend ibarat mercu suar atau senter yang memberikan kita petunjuk
tentang arah didepan. Begitu pentingnya trend, hingga kadang perusahaan
merasa perlu membayar konsultan untuk memprediksi trend musiman dan
tahunan. Beberapa media juga rajin menginterview saya diakhir tahun,
dengan satu pertanyaan klasik : "Bisnis apa yang bakal nge-trend tahun
depan ?"

 

Trend juga menunjukan posisi kepemimpinan di pasar. Seorang pengusaha
plastik, yang membuat aneka produk rumah tangga dari plastik bercerita
bahwa ia umumnya emoh untuk mengikuti trend. Karena hal itu         akan
memposisikan dirinya cuma sebagai pengekor atau 'follower'. Ia cenderung
membalik situasi dengan menjadi pencipta trend atau 'trendsetter'. Untuk
itu selama setahun ia rajin berkeliling dunia. Ke China, Jepang, Taiwan,
dan Korea untuk melihat trend-trend yang sedang marak. Lalu
membandingkan-nya dengan trend-trend yang berbeda di pasar Australia,
Amerika dan Eropa. Dengan mengurut sejumlah trend yang sedang
digandrungi pasar, ia mencoba menciptakan trend baru. Sang pengusaha
bercerita, ibaratnya nonton sebuah sinetron berseri. Ia mencoba menebak
cerita episode mendatang. Baginya mekanisme dan proses ini mirip dengan
latihan melatih intuisinya. Kadang ada tebakan yang manjur dan sukses.
Tapi seringkali tebakan itu juga berakhir ngaco dan ngawur. Setelah
menajamkan intuisinya untuk menebak trend berikutnya selama
bertahun-tahun, dan membandingkan trend-trend sebelumnya, kini intuisi
itu telah berubah menjadi ilmu yang mirip matematika. Ia mulai bisa
menghitung trend !

 

Dalam praktek, walaupun kita berusaha terus menerus memantau trend dan
mengikuti trend, banyak pemasar yang merasakan kalah cepat atau kalah
sigap. Seolah mengejar trend adalah lomba maraton yang melelahkan. Trend
pada intinya adalah konsumen yang berubah terus menerus. Berubah gaya
hidupnya. Dan sekaligus berubah juga seleranya. Mirip evolusi yang
bergerak. Tidak pernah berhenti. Itu sebabnya belajar dari pengusaha di
plastik dan cerita Star Wars, 'trend' adalah perubahan yang perlu
diantisipasi. Market Leader tidak akan pernah berada dibelakang 'trend'.
Tetapi selalu selangkah lebih awal didepan 'trend'.

 

Henrik Vejlgaard, seorang pengamat 'trend' yang menjadi pionir dalam
'trend sociology' yaitu sebuah studi tentang proses terciptanya 'trend',
menulis didalam bukunya "ANATOMY OF A TREND", beberapa nasehat untuk
mengantisipasi 'trend'. Terciptanya sebuah 'trend' menurut Henrik, tidak
akan pernah tiba-tiba. Tetapi lebih mirip dengan menggodok jamu, yaitu
mendidih pelan-pelan. Pelakunya selalu manusia dan dipicu oleh media
atau gossip di kalangan tertentu. Kadang 'trend' juga adalah reaksi
balik dari sebuah kejenuhan di 'mainstream'. Jadi menurut Henrik,
'trend' bisa dicermati, disimak, dan diobservasi sejak awal. Triknya
adalah merasakan getaran dan vibrasinya.

 

Henrik membagi sejumlah sub-kultur yang berpengaruh menjadi
kelompok-kelompok yang harus di observasi, misalnya kelompok anak muda,
socialite, selebriti, desainer, artis, dan juga kaum gay. Kelompok
inilah yang lewat interaksi dan persaingan group, berusaha beda dan
menciptakan indentitas dan kepribadian yang baru dan beda. Mereka
memiliki nafsu dan gairah untuk menjadi 'trendsetter'. Kelompok ini pula
yang selalu diliput media. Dan menjadi pusat perhatian.

 

Henrik juga menyebutkan bahwa kota-kota di dunia menjadi sumber 'trend',
seperti Paris, Milan, London, Tokyo, Shanghai dan New York untuk fashion
dunia. Kota inilah yang dijadikan tolok ukur. Untuk elektronik lain
lagi, kota-kota seperti Hong Kong, Seoul, Tokyo dan Taipeh justru
menjadi pusat enerji 'trend'. Itu sebabnya kita sering mendengar
ucapan-ucapan : "Eh, di Bali lagi ngetrend apa sih ? Resto yang lagi
'in' apa aje ?"

 

'Trend' juga memiliki siklus. Dengan mengamati kisaran waktu sebuah
'trend' anda bisa memprediksi terjadi sebuah trend berikutnya. Henrik
menciptakan sebuah model yang menyebutkan bahwa kisaran cepatnya sebuah
'trend' beredar dari 'trendsetter' ke 'mainstream' berbeda-beda.
Kosmetik 1-2 tahun, fashion 2-3 tahun, asesoris 2-3 tahun, alat olahraga
6-8 tahun. Akhir kata Henrik menutup, bahwa 'trend' bukanlah ilmu nujum
tentang masa depan. Karena memang prosesnya berbeda. Tetapi dengan
mengerti dan memahami proses terjadinya sebuah 'trend' sedikit banyak
kita bisa mengintip ke masa depan. Hal ini merupakan sebuah kemewahan
yang langka !

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke