Dari blog sebelah:

==================

 

By Kafi Kurnia

 

Suatu hari anda sedang menonton TV di ruang keluarga. Tiba-tiba
"byar-pet" listrik padam seketika. Maka sensasi yang anda rasakan adalah
kegelapan total. Kalau anda panik, maka anda akan berteriak minta senter
atau berusaha meraba-raba untuk menyalakan lilin. Tapi sebaliknya kalau
anda tenang, dalam beberapa menit kemudian, mata anda akan menyesuaikan
diri dengan kegelapan disekeliling anda. Tak lama kemudian, samar-samar
kita bisa melihat suasana disekeliling. Sinar yang sangat redup dan
lemah, entah itu pantulan cahaya dari mobil yang lewat, sinar bulan,
atau lampu jalan akan menjadi berkah dan rahmat dalam situasi kegelapan
semacam itu. Sebuah pepatah Cina mengatakan, bahwa hanya orang-orang
buta yang dapat menikmati cahaya yang sesungguhnya.

Filosofi yang sama diajarkan oleh dosen saya, ketika saya kuliah dulu.
Beliau berkata, bahwa kadang untuk bisa peka dan sensitif kita harus
bisa memposisikan diri kita dalam situasi "tidak mampu". Bagi seorang
yang menderita tuli, bisa mendengar suara air yang menetes saja, sudah
menjadi musik yang paling indah. Sama pula dengan seorang buta, yang
bisa melihat rembulan. Pasti akan indah luar biasa. Tapi bagi kita yang
serba melihat dan mendengar, seringkali hal-hal kecil itu lewat begitu
saja.

Dalam bisnis, situasinya sangat mirip. Peluang-peluang kecil yang ada
disekeliling kita, seringkali lewat begitu saja. Kita tidak berdaya
untuk memanfaatkannya. Semata-mata karena kita tidak bisa melihatnya
dengan penuh kepeka-an seperti seorang buta yang melihat cahaya
rembulan. Kita tidak pandai menyiasati hal-hal yang remeh.

Kadang saya melihat usaha-usaha kecil yang mungkin sepele, misalnya
seperti rumah makan padang, foto studio, bengkel motor, usaha service
AC, salon rambut dan banyak lagi, dikerjakan oleh entrepener sejati,
dengan tekun dan sepenuh hati, bisa sukses dan buka beberapa cabang
hingga menghasilkan penghasilan yang lumayan besar. Uniknya, banyak
biografi para entrepener sukses ini, kalau kita pelajari satu demi satu,
titik awal mereka seringkali mirip dengan "orang buta yang memanfaatkan
sinar rembulan". Tidak jarang titik awal mereka adalah saat-saat dimana
mereka sedang tidak berdaya dan mendekati putus asa.

Helen Keller, tokoh kemanusiaan yang menderita buta dan tuli, pernah
sekali berujar : "It is a terrible thing to see and have no vision."
Menurut Helen, asal melihat dan benar-benar melihat, adalah dua hal yang
berbeda. Walaupun Helen Keller buta dan tuli, tetapi beliau berhasil
lulus dari Radcliffe College pada tanggal 28 June 1904, sebagai seorang
buta tuli pertama yang lulus pendidikan kesarjanaan. Ia berhasil
menajamkan kepekaan-nya. Pemikiran dan buah karya tulisnya menjadi
inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang.

Benar-benar melihat dengan tingkat kepekaan tinggi, merupakan "skills"
yang diperlukan untuk bertarung di medan bisnis jaman ini. "Skills" yang
sama bisa menjadi motivasi pengembangan seorang eksekutif. Tidak jarang
para eskekutif menjadi tumpul "skills" melihatnya hanya gara-gara
terbelenggu dengan rutinitas. Gagal melihat details. Atau
petunjuk-petunjuk yang lain.

Kolega saya, seorang Sales Manager disebuah perusahaan "consumer
products", bercerita bahwa ia selalu membiasakan untuk mengadakan
meeting harian tiap hari 2 kali. Sekali pada pagi hari dan sekali lagi
di sore hari sebelum pulang. Pertemuan itu wajib hukumnya, biarpun cuma
singkat 10-15 menit. "Bagi saya, bertemu dengan crew saya sehari 2 kali
itu penting sekali. Yang saya lakukan sederhana, setiap pagi kami
bertemu, saya benar-benar berusaha menatap mereka langsung dimata
mereka. Saya mencari setiap perubahan yang terjadi. Entah itu, perfume
mereka, gaya rambut mereka, cara mereka berpakaian, ataupun cuma
anting-anting. Sore hari saya melakukan juga hal yang sama. Percaya atau
tidak dari pandangan itu, saya selalu menemukan petunjuk. Entah mereka
sedang susah, senang dan bahagia, punya pacar baru, atau ribut dirumah.
Membaca petunjuk itu dengan benar, biasanya kita bisa menghindari
tragedi dan drama"

Pernah sekali, menurut teman saya, ia melihat salah satu sales-man-nya
merubah cara berpakaian-nya. Tidak banyak. Hanya perubahan-perubahan
kecil. Ia mulai curiga. Benar saja, sebulan kemudian sang isteri
marah-marah datang ke-kantor. Rupanya sang sales-man punya isteri muda
yang disembunyikan. Kasus lain, pernah ada seorang sales-man yang
tiba-tiba selalu menghindari tatapan mata teman saya. Kalau rapat
pandangan-nya tidak pernah kedepan. Seolah ada yang mengganggunya. Teman
saya merasakan firasat jelek. Benar saja, ternyata sang sales-man gemar
berjudi dan menyelewengkan sejumlah uang tagihan.

Di tahun 2007, jangan takut menjadi orang buta. Yang penting anda harus
cerdas dan peka memanfaatkan secercah sinar. Tanpa harus peduli betapa
lemahnya sinar itu sekalipun. Janganlah memandang enteng segala hal yang
kelihatan remeh, tetapi justru bisa menjadi kunci solusi. Kadang-kadang
kita harus tuli, untuk bisa menikmati sebuah musik yang indah. Selamat
tahun baru 2007. Semoga tahun baru ini membawa rejeki dan keberuntungan
yang berlimpah.

 

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke