Semoga Bermanfaat !!!
Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya,
sehingga terjadi Utang.
Uang
Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata
teman-temannya. Kok tahu?
Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk
meminjam uang
sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena
setiap bulan dia
meminjam uang.
Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa
hari kemudian
pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa
keberatan. Kalau
sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa
yang dapat
meminjamkan uangnya.
Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya
dari pinjaman
seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya
sudah habis padahal
baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk
naik kereta ke
kantor dan untuk biaya makan.
Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung,
tiba-tiba office boy
menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni
kesulitan.
Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam
uang dari
office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin
membantunya,
sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.
Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu
sekali!. Tapi Deni
terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya
uang. Keesokan
harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan
mengajaknya
berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy
tersebut bisa
punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya
kepada Deni?
Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih
bujangan,
belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa
menyimpan uang
sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa
kuncinya?
Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk
berbincang-bincang dan
bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat
istimewa. Dia paling
rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua
tugasnya. Tidak pernah
terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat
penampilannya sepertinya
biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan,
tapi tidak
terkesan menjilat.
Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni
mulai menggali
kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy
tersebut. "Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai
uang lebih? Gaji
saya selalu habis setelah tengah bulan." Deni membuka
percakapan.
Office boy tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga
begitu, mas.
Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya
saya terpaksa
meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya
gaji saya semakin
tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus
mengembalikan uang
yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji
saya berkurang.
Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja
tidak cukup,
apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya,
semakin berkurang
lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak"
Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi
mengandung
kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. "Jadi
bagaimana
caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" tanya
Deni.
"Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah
pulang kampung
tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya
bertanya kemana gaji
saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil
dan diberi
wejangan oleh beliau." katanya.
Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu
mengalir ke
tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka
air akan
mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung.
Setelah dibendung,
maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai
bertambah banyak."
Hidup prihatin
Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara
membendungnya? " Nenek saya
menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang
lagi."
"Tapi nanti kurang nek."
"Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima
gaji, segera
lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk
sebulan. Jangan utang.
Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu
makan nasi putih
dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup." Lalu
saya diajak
menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk
ongkos, berapa
untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan
lain-lain.
Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin.
Saya tidak
boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan
kaki ke jalan
raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga
tidak naik ojek
karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan
untuk hidup
ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih."
"Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan
hidup seperti itu.
Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang
bisa saya
sisihkan untuk ditabung.
Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi
menjaga kondisi tubuh
saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua
bulan hidup
sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa
lagi. Makanan
saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan.
Saya tidak
pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa
menabung mas.
Sampai sekarang."
Deni bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi
kalau kamu
keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab."
"Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta
rupiah. Saya ingin
menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas."
Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau
ngirit, pasti
bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran
Deni cukup
besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni
cenderung
memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek.
Makan siang selalu
di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan
dari rumah.
Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.
Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah
cara hidupnya.
Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia
takkan
membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera
dibendung. Mulai
kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!
____________________________________________________________________________________
No Cost - Get a month of Blockbuster Total Access now. Sweet deal for Yahoo!
users and friends.
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text1.com