hm....penjelasan yang amat berarti. thanks vik anda vi.....
.......jangan-jangan disana juga banyak yang mengagunkan rumahnya sendiri
untuk main di saham dan danareksa. Pas, anjlok ancur. Sahamnya kini hanya
selembar kertas tak berharga. Akhirnya uangnya amblas. Rumahnya gak kuat
diangsur.
....kalo gue liat sementara seh lom ada pengaruhnya sama kita yah. Apalagi
buat pak Haji Morry Infra.....he..he..he..
eh, tapi kalo ada diforward juga, artinya kalo vik and vi punya antisipasi
khusus  kayaknya bagus buat dikasih misalnya perlukah memperketat kredit.
Artinya yang bisa ditutup, tutuplah sekarang. yang masih nyicil rumah,
misalnya. Atau yang kredit pake bunga yang tidak fixed rate, ini juga perlu
dihati-hatiin. Kuatir bunganya melayang tinggi ke angkasa. gak ku..ku..!

hal lain, kalo amerika sekarat gue pikir kuwalat sama orang irak. kan
kabarnya ongkosnya ampe $3 trilyun......plus juga sistem bunga berbunga jadi
nyekek diri sendiri....lebih enak sistem syariah atau bagi hasil.......

ata komen lain?


On 3/31/08, vivi fajar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   good explanation bung Opik...tambahan pandangan ini
> mungkin bisa lebih memperjelas...(sebagian gw ambil
> dari salah satu tulisan di Tempo...akhir 2007
> lalu...):
>
> Yang dikenal dengan istilah subprime mortgage
> sebenarnya adalah kredit perumahan berbunga tinggi
> yang berisiko tinggi akibat rendahnya aset dari
> peminjam rumah. Dalam tiga tahun terakhir mengalami
> jenis fasilitas kredit ini mengalami kemerosotan
> kualitas pembayaran utang.
>
> Kemerosotan itu selama ini bisa dikompensasi oleh
> kegiatan yang dikenal sebagai securitization. Hal itu
> merupakan upaya lembaga keuangan, termasuk hedge fund,
> yang mencari laba dengan menggabungkan surat-surat
> berharga seperti surat utang rumah subprime, dengan
> surat berharga yang rating-nya lebih tinggi.
> Lembaga keuangan dan hedge fund itu merestrukturisasi
> utang dengan "mencampur" pinjaman yang lancar (prime
> loan) dan pinjaman yang kurang lancar (subprime) dan
> menciptakan ranking dari AAA hingga BB. Bagaimana ra
> ting dilakukan adalah hal yang lazim dikerjakan oleh
> lembaga rating seperti Moody's.
>
> Gejala sekuritisasi ini di Amerika berkembang sangat
> cepat karena ia memberi kesan "aman" lantaran sejumlah
> hedge fund mengelola dana itu berdasar model
> matematika. Mereka dikenal sebagai quant fund. Quant
> fund inilah yang mengelola aktivitas sekuritisasi,
> yang ikut memperluas pasar produk sekuritisasi hingga
> mencapai hampir US$ 2 trili un di sektor kredit.
>
> Sepuluh tahun lalu, produk yang berkaitan dengan
> kredit rumah ini belum dikenal dalam sekuritisasi.
> Kini terjadi guncangan ketika ternyata subprime
> mortgage yang merupakan bagian yang cukup signifikan
> dalam sekuritisasi mengalami "kerusakan" akibat makin
> banyaknya pengutang rumah yang tidak mampu membayar
> cicilan dan bunga.
>
> Yang menyulitkan kita memahami tingkat kerusakan pa
> sar kredit akibat kegagalan peminjam subprime ini
> adalah perkembangan dari quant fund itu sendiri.
> Quant fund adalah hedge fund yang dijalankan dengan
> model-model komputer. Perdagangan dilakukan berbasis
> program yang memberikan order jual dan beli.
>
> Parameternya didasarkan pada tolok ukur yang dikenal
> di bursa seperti price earning ratio, price book
> value, dan EBITDA (Earning Before Interest, Tax,
> Depreciation and Amortization). Quant fund ini pada
> umumnya dikelola doktor-doktor ekonomi yang biasanya
> membeli berbagai tipe surat berharga (utang, saham,
> komoditas, uang) yang mere ka kategorikan sebagai over
> valued atau under valued.
>
> Mereka kemudian melakukan peminjaman berlipat kali
> banyaknya dan para pemberi pinjaman tidak berkeberatan
> karena mereka melihat quant fund ini dapat dipercaya
> lantaran model matematis dan kesan "ilmiah" yang ada
> pada mereka.
>
> Yang kemudian terjadi adalah, akibat tekanan di pasar
> utang gara-gara keguncangan subprime, muncullah
> kepanik an di pasar saham. Ini makin dipertajam oleh
> berita bahwa banyak perusahaan (yang terkait dengan
> industri perumah an) dilanda kekurangan likuiditas.
> Para doktor yang menggunakan program komputer itu
> kemudian dipaksa menjual aset mereka (securities)
> untuk mengambil posisi kepemilikan uang tunai.
>
> Tetapi, karena sebagian besar dari mereka mempunyai
> model yang mirip, terjadilah ketidakseimbangan
> permintaan dan penawaran. Ini menimbulkan herd effect,
> yang menciptakan volatilitas di bursa dunia, termasuk
> Indonesia.
>
> Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa gejolak
> bursa adalah mata rantai aktivitas sebagai berikut:
> Kredit perumahan subprime berubah akibat naiknya gagal
> bayar debitor rumah. Sementara itu, securitization
> kian dirasuki oleh pasar kredit perumahan dan pada
> gilirannya membuat pasar dipertanyakan
> kredibilitasnya. Kepanikan di sana-sini tidak dapat
> dicegah, sementara penjualan quant fund membuat
> terjadinya penilaian ulang atas harga saham, komoditas
> dan pasar mata uang.
>
> Yang lebih penting buat kita barangkali apakah
> gejolak subprime ini mempunyai efek yang bisa besar,
> sehingga bisa menimbulkan krisis yang parah pada
> ekonomi kita?
>
> Yang biasanya langsung berpengaruh pada bursa di
> Indonesia (dan bursa2 laen didunia---termasuk gerakan
> di pasar valas kita) adalah bila Fed di amrik sana
> membuat 'gerakan'. Krisis yang dipicu oleh subprime
> mortgage memberikan tekanan pada Fed untuk menurunkan
> suku bunga (Fed rate) padahal mereka juga telah
> mengintervensi bursa senilai US$ 130 miliar, sehingga
> akses pada likuiditas sebetulnya telah dipermudah.
> Bukan itu saja, dibuka pula discount window yang
> memungkinkan akses pada likuiditas untuk kondisi
> tertentu. Buat Indonesia, penurunan Fed rate ini
> lebih membawa pengaruh..yang jelas suku bunga kredit
> dalam negeri dan suku bunga investasi/simpanan bakalan
> mengikuti gerakan suku bunga Fed. Rentan? jelas...nota
> bene hitung2an finansial qta banyak berkaitan dengan
> si suku bunga ini.. jika suku bunga kredit menurun
> mestinya lebih banyak kredit yang dikucurkan...(kredit
> investasi is preferable)...sehingga bisa memicu
> gerakan sektor riil ...mestinya...tp kaya'nya disini
> nggak begitu...(itu yang bisa menngiring ekonomi kita
> ikutan terimbas krisis)...ketika suku bunga kredit
> ikutan turun,,yg lebih banyak dicairkan justru kredit
> konsumsi yg memiliki potensi macet lebih besar ...(cek
> deh NPL bank2 itu...apa yg membuat NPL mreka
> belakangan naek pesat?)...
>
> menurut Syahrir (Tempo, Sept 2007) Hal-hal yang bisa
> menguatkan kita bila terjadi keguncangan di AS:
>
> Berkaitan dengan Bursa saham kita,pertama-tama kita
> butuh emiten baru. Privatisasi BUMN yang selama
> kepemimpinan Menteri Negara BUMN sebelumnya tidak
> menjadi prioritas, kini harus diutamakan. Dan
> tampaknya memang sudah dicanangkan Menteri Negara BUMN
> yang baru. Kita harus melihat fakta bahwa kenaikan
> IHSG yang juga meningkatkan kapitalisasi pasar tidak
> sejalan dengan peningkatan jumlah emiten.
> (Misalnya: Dari 2002 hingga September 2007,
> kapitalisasi pasar Bursa Jakarta melonjak dari Rp
> 268,4 triliun menjadi Rp 1.561,7 triliun. Namun jumlah
> emiten hanya naik dari 331 menjadi 349.)
>
> Kinerja bank-bank di bursa yang dianggap baik
> sesungguhnya bukan karena kualitas bank itu meningkat.
> Mandiri dan BNI misalnya banyak menikmati keuntungan
> dari SBI dan SUN. Dan itu tidak ada kaitannya dengan
> peningkatan kredit—yang seharusnya dilakukan.
>
> Untuk itu, perlu diberi insentif agar perusahaan
> privat listing di BEI. Pemerintah sedang
> mempertimbangkan adanya pengurangan pajak bagi
> perusahaan publik, maka itu menjadi "a necessary but
> not sufficient condition". Kondisi lain yang
> dibutuhkan tak lain adalah sektor riil yang
> bergerak—yang hingga kini dirasakan masih
> tersendat-sendat.
>
> Intinya,.. aman ato nggaknya perekonomian qta
> tergantung kekuatan fundamental ekonomi qta sendiri...
> Paling nggak kita bisa mengaca pada Cina. Gejolak
> subprime tidak mempengaruhi Cina karena sektor riilnya
> tumbuh amat cepat. Itu pula yang membuat bursa Cina
> lebih tahan
>
>
> --- OpiK <[EMAIL PROTECTED] <miliscampurcampur%40gmail.com>>
> wrote:
>
> > Krisis finansial yg terjadi di amrik atau yg dikenal
> > dengan sebutan subprime
> > mortgage terjadi karena adanya kompetisi yang sangat
> > ketat dalam hal
> > penyaluran kredit perumahan (KPR). Industri properti
> > di sono booming selama
> > tahun 2002-2005 (cmiiw). minan orang sono buat beli
> > properti sangat tinggi.
> > nah, karena yg memasarkan KPR ada banyak perusahaan,
> > maka terjadilah
> > persaingan diantara merek untuk bisa mendapatkan
> > debitur sebanyak mungkin
> > tanpa mempertimbangkan resiko yg ada.
> >
> > sekedar buat pengetahuan (ini berdasarkan pengalaman
> > waktu gue sma disono,
> > hehehe), disono, utk mendapat kredit, orang akan
> > mendapat credit score yang
> > dikeluarkan oleh lembaga credit scoring. semakin
> > rendah nilainya, maka
> > semakin tidak layak org tersebut mendapat kredit.
> > tapi karena persaingan,
> > akhirnya kredit score ini diabaikan. pokoke siapa
> > ajah yg ngajuin kredit
> > disetujuin.
> >
> > yang jadi masalah adalah, kredit yg disalurkan tsb
> > menggunakan sistem bunga
> > seperti yg sekarang banyak ditawarkan oleh bank2 di
> > indon.. yaitu satu tahun
> > pertama dengan fix rate, selanjutnya floating rate.
> > biasanya, memasuki tahun
> > kedua, maka jumlah cicilan meningkat secara
> > signifikan sehingga banyak
> > debitur yg gagal bayar. kondisi ini diperburuk
> > dengan menurunnya sektor
> > properti disono.. harga rumah turun dan suku bunga
> > naik. karena buanyak
> > buangat yg macet, terjadilah krisis finansial disono
> > yg disebut dengan subprime
> > mortgage, sesuai dengan namanya, subprime mortgage
> > loan.
> >
> > nah, di indon, hal yg sama juga sangat mungkin
> > terjadi.. ambil contoh di
> > kredit motor. hanya dg 200K (bahkan ada yg gratis)
> > bisa bawa pulang motor.
> > coba ajah cek ke sekeliling rumah, ada brapa banyak
> > tetangga anda yg ngambil
> > kredit motor? apakah menurut anda mereka sumua
> > sanggup membayar cicilan
> > dengan baik? coba juga cek di depan tol bekasi
> > timur? ada brapa banyak
> > tukang ojeknya? hampir semua motor yg dgunakan
> > adalah motor yang masih
> > kredit? (tanpa bermaksud merendahkan) apa mereka
> > semua itu pasti bisa
> > membayar cicilannya? coba cek di ruko robinson. ada
> > brapa banyak motor yg
> > ditarik kembali oleh fif krn debiturnya gak bisa
> > bayar? coba juga cek harga
> > motor second. apakah harganya naik?
> >
> > kira2 kek gitu bro yg ane tau.. mungkin ada yg lbh
> > menguasai, monggo.....
> >
> >
> > On 3/31/08, komarudin ibnu mikam
> > <[EMAIL PROTECTED] <komaribnumikam%40gmail.com>> wrote:
> > >
> > > brother Opik,
> > >
> > > tolong dun loe jelasin apa yang terjadi dengan USA
> > dengan krisis
> > > financialnya. Gimana dengan kita?
> > >
> > > thanks bro!
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
> > --
> > OpiK
> > http://taufiek.wordpress.com
> >
>
> __________________________________________________________
> Special deal for Yahoo! users & friends - No Cost. Get a month of
> Blockbuster Total Access now
> http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text3.com
>
>  
>



-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014

karya-karya ;
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)

Kirim email ke