PROLOG
Sejak 3 bulan ini saya kalau kebetulan di Jakarta mulai menggunakan 
motor ke kantor (masih keluar keringat besar-besar).Semoga tulisan 
forward ini membuat kita makin berhati-hati dalam berkendaraan roda 
dua. DO NOT KILL YOUR SKILL!

TIGA TIPE PENGENDARA

Lupakan jalan yang makin menyempit. Lupakan kemacetan yang makin 
menyebalkan dan menjadi-jadi. Toh menyesali kondisi jalanan yang 
tidak nyaman tak ada gunanya juga. Bikers bisa berbuat sesuatu untuk 
sedikit mengurangi keruwetan lalu lintas di jalan, yakni sikap 
berkendara. Sikap berkendara ini cermin dari tipe atau karakter 
pengendara, jelas Ridwan Z. Syaaf, Dosen Fakultas Kesehatan 
Masyarakat, Universitas Indonesia. Menurut Jusri Pulubuhu, Training 
Director JDDC Jakarta, ada tiga tipe pengendara. Pertama pengendara 
Defensive, pengendara aktif dan terakhir pengendara pasif.

Tipe pengendara defensive punya kecenderungan pro aktif. Selalu bisa 
membaca situasi. Tidak suka menduga-duga terhadap kemungkinan yang 
bakal terjadi, jelasnya.

Contoh karakter ini bisa dilihat dari cara berkendara. Ia selalu 
waspada, jika di depan ada kendaraan pelan. Pengendara defensive akan 
memberikan tanda agar pengendara lain tahu keberadaannya. Bisa dengan 
memberikan klakson, ungkap pria yang mangkal di bilangan Pondok Indah.

Pengendara defensive mampu melakukan penyesuaian terhadap berbagai 
kemungkinan yang terjadi. Jika dilihat jalan tidak memungkin ngebut 
tentu dia akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Tipe kedua pengendara aktif. Ridwan Z syaaf menyebutnya dengan 
tindakan agresif. Tidak peduli terhadap aturan lalu lintas. Egonya 
sangat tinggi. Tujuannya agar cepat sampai tanpa memperhatikan kaidah 
yang berlaku.

Tipe inilah yang kerap menimbulkan potensi kecelakaan di jalan raya. 
Munculnya sikap agresif atau aktif ini bisa karena lingkungan. 
Kemacetan misalnya, orang ingin cepat sampai maka dilakukan segala 
cara, tambah jusri lagi. Terobos lampu merah atau naik trotoar salah 
satu contoh konkret tipe agresif ini.

Terakhir adalah tipe pasif. Karakternya pengendara jenis ini memiliki 
kecenderungan acuh beibeh. Tipe ini tidak sadah bahwa jalanan 
merupakan killing field. Mereka menganggap bahwa berkendara adalah 
sesuatu yang biasa-biasa saja. Tidak memiliki potensi bahaya, papar 
Jusri.

Dalam pengamatan Jusri, pengendara wanita sebagian besar masuk dalam 
tipe ini. Pengendara cewek cenderung tidak curiga. Jarang 
memperkirakan hal yang buruk. Orang lain diharapkan yang mengerti 
kita. Bukan kita yang mencoba mengerti orang lain, katanya lagi.

Dalam kaitan itu, pengalaman berkendara saat mudik lebaran bisa 
dijadikan contoh pengendara pasif. Yakni masih banyak pengendara yang 
cuek terhadap bahayanya turing lebaran dengan membawa anak-anak dan 
bagasi berlebih. Jelas ini sikap prilaku yang cuek beibeh.

Menurut Jusri agar terhindar dari keruwetan sikap defensive seluruh 
pengendaralah yang harus diutamakan. Itu jika kita mau berkendara 
secara aman, tuturnya.


Sumber MotorPlus No. 452/VIII 

Kirim email ke