hiks indah banget ceritanya...
wong tresno jalalaran songko kulino...
tiap hari ketemu di masa SMA... jd menimbulkan benih-benih cinta... (sama gak 
.. :D )



----- Original Message ----
From: QiDHiR Abdul Salam <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, August 1, 2008 11:35:06 PM
Subject: [sma1bks] Kejujuran Membawa Berkah


Kejujuran Membawa Berkah        
   
Di sebuah wilayah kerajaan nun jauh di sana. Hiduplah dua orang yang saling 
bersahabat sejak lama. Mereka adalah Abdullah dan Abdurrahman. Abdullah seorang 
petani yang telah terbiasa bekerja keras. Sedangkan Abdurrahman seorang 
pedagang yang rajin. Jika Abdullah  sedang dalam kesulitan, Abdurrahman selalu 
membantunya. Begitupula sebaliknya, jika Abdurrahman sedang mendapat masalah, 
Abdullah pasti akan membantu. Kedua sahabat itu sangat rukun.

Abdullah mempunyai seorang anak perempuan bernama Siti. Anak perempuannya itu 
senang membantu pekerjaan sang ayah. Selain itu ia juga rajin dan taat 
beribadah. Sedangkan Abdurrahman memiliki anak laki-laki bernama Naufal, yang 
juga rajin membantu ayahnya berdagang. Sebagai sahabat karib, keduanya 
seringkali berkunjung satu sama lain dengan mengajak anak-anak mereka.  

 
 
 Pada suatu hari Abdullah berkunjung ke rumah Abdurrahman. Ia berniat ingin 
memperluas lahan pertaniannya. Disampaikanlah niat itu kepada sahabatnya
“Abdurrahman sahabatku.. Aku baru saja selesai panen dan Alhamdulillah aku 
mendapat keuntungan yang sangat besar dari hasil panenku. Sekarang aku berniat 
untuk menambah lagi lahan pertanianku. Apakah kau punya pandangan lahan yang 
dijual di daerah sekitar sini?” 
Abdurrahman diam sejenak. Ia berpikir.. “Hmm.. Abdullah adalah sahabatku, ini 
adalah kesempatan untuk membantunya” 
“Abdullah.. Bagaimana jika lahanku saja.. Kebetulan aku ada sedikit lahan 
peninggalan orang tua. Lagipula lahan itu tidak ada yang mengelola karena aku 
sibuk berdagang. Kau bisa membelinya dengan harga yang pantas”.
“Ohya? Alhamdulillah. . Kau baik sekali, sahabatku. Namun tentunya aku ingin 
melihatnya lebih dulu, kalau cocok barulah kita bicarakan soal harga”.

Kemudian mereka bersama-sama menuju ke tempat lahan Abdurrahman yang akan 
dijual.
“Abdullah.. Inilah lahan yang aku maksud”
“Wah! Lahan ini bagus sekali untuk pertanian. Apakah kau akan menjualnya 
semua?”.
“Aku akan jual semua untukmu, Abdullah”
“Baiklah, kalau begitu aku akan bayar sesuai dengan harga yang kau minta”

Abdullah pulang dengan hati gembira karena telah mendapatkan lahan pertanian 
yang baru. Sesampai di rumah ia pun bercerita kepada Siti, anak perempuannya, 
bahwa ia baru saja membeli lahan yang bagus dari sahabatnya. 
“Anakku.. Ayo kita pergi ke kota untuk mencari bibit tanaman dan beberapa alat 
pertanian. Sebagian alat-alat pertanian kita sudah waktunya diganti yang baru”. 
“Baik ayah.. Aku bersiap-siap dulu” 

Keesokan harinya mulailah Abdullah dan Siti menggarap lahan yang baru itu. 
Mereka bekerja keras tak kenal lelah. Abdullah terus mencangkul tanah dari 
ujung batas lahan sebelah barat sampai ujung batas sebelah timur. Sementara 
Siti membantu mencabuti rumput dan menyiapkan makanan untuk ayahnya.  

Pada saat Abdullah asyik mengayunkan cangkulnya, tiba-tiba TING!! Terdengar 
suara nyaring dari ujung cangkulnya. Ia coba sekali lagi mengayunkan 
cangkulnya, dan.. TING!!, kembali cangkulnya menatap sebuah benda keras. 
“Hai! Siti! Coba kemari.. Ayah menemukan sesuatu!” 
Siti datang menghampiri ayahnya.
“Ayah! Ayo kita lihat. Benda apa yang ada di bawah sana”
Mereka bersama-sama menggali tanah. Dan.. Betapa kaget mereka demi melihat apa 
yang mereka temukan. 
“Hahh?! Bokor emas!!” teriak mereka serentak.
Mereka menemukan sebuah bokor emas sebesar buah kelapa dengan cahaya berkilauan.



Siti memungut benda itu dan membersihkannya dari tanah yang masih melekat.
“Waah… Indah sekali Ayah. Pasti harganya sangat mahal! Kita beruntung, Ayah!”
“Tidak! Tidak Anakku! Benda itu bukan milik kita. Kita tidak berhak 
memilikinya. Ayah hanya membeli lahan ini, bukan isinya. Ayah harus 
mengembalikan benda ini kepada pemiliknya, Abdurrahman sahabat Ayah” 

Abdullah pun bergegas pergi ke rumah sahabatnya dengan membawa bokor emas yang 
baru saja ia temukan. Sesampai di rumah Abdurrahman. .
“Abdurrahman sahabatku, aku temukan benda ini di dalam lahan yang aku beli 
darimu. Aku tidak berhak memilikinya. Karena aku membayarmu hanya untuk 
sebidang lahan dan bukan isinya”
“Maaf Abdullah, aku tidak bisa menerima ini. Karena aku menjual lahan itu, 
tentu saja beserta isinya, jadi itu jelas bukan milikku. Tetapi milikmu”.
“Aku juga tidak bisa menerima ini, Abdurrahman. Aku takut kepada Allah jika 
mengambil sesuatu yang bukan hakku..” 
“Aku pun demikian, Abdullah. Celakalah diriku jika memiliki sesuatu yang bukan 
hakku” 

Mereka bingung harus bagaimana. Sesaat mereka terdiam, lalu salah satu diantara 
mereka mengusulkan,
“Bagaimana kalau persoalan ini kita laporkan kepada pak Kyai? Agar beliau yang 
memutuskan semuanya. Dan… Apapun keputusan beliau kita harus menerimanya” 
Keduanya sepakat dan sama-sama berangkat menuju rumah pak Kyai.

Sesampai di rumah pak Kyai kedua sahabat itu menyampaikan permasalahan mereka. 
Pak Kyai berpikir sejenak, lalu mengajukan pertanyaan kepada mereka.
“Abdurrahman. .. Apakah kau mempunyai seorang anak?”
“Iya pak Kyai. Saya punya seorang anak laki-laki”.
“Hmm… Baik. Apakah anakmu itu sudah cukup dewasa untuk menikah? 
“Sudah pak Kyai. Anak saya berumur 26 tahun”.
“Bagus”

“Tuan Abdullah.. Apakah kau mempunyai seorang anak?”
“Iya pak Kyai. Siti adalah anak perempuan saya satu-satunya”
“Berapa usia anakmu?”
“Emm.. Bulan depan, 21 tahun pak Kyai”
“Baiklah… Abdurrahman dan Abdullah.. Tanyakan kepada anak kalian masing-masing, 
apakah mereka mau dijodohkan. Jika mereka mau, juallah bokor emas itu. Lalu 
uang hasil penjualannya kalian gunakan untuk membiayai pesta pernikahan 
anak-anak kalian. Bagaimana?”.

Abdurrahman dan Abdullah saling pandang dengan wajah berseri-seri. Lalu 
keduanya menganggukkan kepala. Keputusan pak Kyai telah membuat mereka bernafas 
lega.
“Alhamdulillah. . ini adalah keputusan yang sangat adil”
“Iya.. Kita telah mendapatkan jalan keluar atas permasalahan kita”
“Abdurrahman sahabatku.. Kita benar-benar akan menjadi saudara..!”
“Abdullah.. Kau akan menjadi mertua anakku! Hahaha…!
Kedua sahabat karib itu pulang dari rumah pak Kyai dengan perasaan suka cita. 
Namun tiba-tiba keduanya terdiam. Ada sesuatu yang mereka lupakan…
“Abdurrahman. . Kenapa kita terlalu bergembira.. ? Kau kan belum bertanya 
kepada anakmu, apakah dia mau menikah dengan anakku?”
“Benar Abdullah.. Jangan-jangan anakmu juga tidak mau menikah dengan anakku!”
Mereka kembali terdiam. Pikiran mereka berkecamuk. Mereka kuatir anak-anak 
mereka menolak dijodohkan. Kalau sampai itu terjadi berarti persoalan bokor 
emas itu akan muncul kembali. Akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan 
anak-anak mereka dan menyampaikan maksud mereka sesuai dengan petunjuk dan 
nasehat pak Kyai.

Keesokan harinya Abdurrahman mengajak Naufal anaknya berkunjung ke rumah 
Abdullah. Sementara Abdullah dan Siti sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan 
sangat hati-hati mereka menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan mereka hari 
itu. Lalu diakhir kalimat mereka, mereka bertanya kepada anak-anaknya. . 
“Bagaimana anakku? Apakah kalian mau dijodohkan?”
Sejenak Naufal dan Siti saling memandang. Sementara ayah mereka menunggu 
jawaban dengan hati berdebar. Akhirnya dengan serempak Naufal dan Siti 
memberikan jawaban yang mengejutkan.
“Kami memang sudah lama saling mencintai. Tetapi kami takut untuk berterus 
terang kepada Ayah!”
Mengejutkan sekaligus melegakan hati Abdullah dan Abdurrahman. Mereka tidak 
menyadari bahwa kebiasaan mengajak anak-anak mereka saling berkunjung, rupanya 
telah menumbuhkan benih cinta diantara anak-anak mereka.  

Pesta pernikahan Naufal dan Siti pun dilaksanakan dengan sangat meriah dengan 
biaya dari hasil penjualan bokor emas. Sebenarnya, bukanlah nilai bokor emas 
itu yang membuat mereka bahagia, akan tetapi kejujuran dan ketulusan merekalah 
yang menjadikan bokor emas itu membawa berkah untuk mereka dan kedua 
anaknya/***Dave Ariant Yusuf W    

 
 


      

Kirim email ke