Mas Morry, ini salah satu bentuk CDM (Clean Development Mechanism) yang di atur 
protokol Kyoto. Setiap negara yang sudah meratifikasi protokol Kyoto (US belum 
mau teken) memiliki kuota emisi gas rumah kaca. Bagi yang sudah melebihi kuota, 
dapat menambah kuotanya dengan 'membayar' setiap pengurangan jumlah emisi gas 
rumah kaca yang dilakukan oleh negara lain. Setiap usaha pengurangan emisi 
karbon/gas rumah kaca akan dihitung jumlah carbon credit-nya (jumlah tonase gas 
rumah kaca yang dapat dikurangi) dan dapat dijual ke negara lain yang 
membutuhkan penambahan kuota emisi gas rumah kaca. Harga per carbon credit 
berkisar 10-12 euro tergantung negosiasinya. CMIIW.
 
Pertamina juga sekarang lagi mendaftarkan beberapa inovasi/modifikasi/investasi 
yang telah/akan dilakukan yang berkaitan dengan pengurangan emisi gas rumah 
kaca dari kegiatan operasional kilang. Dan memang benar ada euro yang bisa 
didapat disana....
 
Arafat Bayu Nugroho

________________________________

From: [email protected] on behalf of Morry Infra
Sent: Thu 28/08/2008 11:21
To: 'sma1bks'; Serba_KL Serba_KL; iatmi-saudi
Subject: [sma1bks] FW: Sampah Mendulang Euro (??)



Pak Bapak dan Bu Ibu,
 
Baca artikel Kompas hari ini....
Soal Sampah di Bekasi.
 
Jadi gas Metananya akan dibakar... yang menghasilkan CO2...
Jumlah CO2-nya akan dilaporkan secara rutin ke Bank Dunia untuk memperoleh 
sertifikat pengolahan yang kemudian dijual ke negara-negara industri maju 
(Annex 1).
Selanjutnya CO2 hasil pembakaran itu dijual ke Netherland Clean Development 
Mechanism Facility.
Walau potensialnya Pemda Bekasi cuma akan dapat 4.2 milyar pertahun.... tapi 
PEMDA Bekasi ngiler abis....belum lagi sampah akan berkurang drastis...
 
Saya perlu pencerahan nich.... mungkin ada yang lebih paham mengenai hal ini....
Atau saya silap faham baca artikel ini...
Saya bingung atau karena saya silap faham baca artikel ini...... 
Ini jual CO2 hasil pembakaran Metana? Gimana ngirimnya dan di sana (Belanda) 
mau diapain?
Jangan2 lebih mahal biaya transportasinya ketimbang harga belinya?
Dan kenapa gak yang lebih banyak aja..... Itu gas di Natuna (yg dikelola Exxon) 
yang katanya mentok, karena CO2 terlalu tinggi....sehingga gak ekonomis,
Mungkin bisa jadi ekonomis kalau memang ada buyer.... kenapa gak itu aja yang 
dijual??.....he..h.e.e.e..
Ditunggu dech pencerahannya dari yang ngerti soal ini...
 
Salam,
Morry Infra
+966-533214840
 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/28/01300047/sampah.mendulang.euro 
<http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/28/01300047/sampah.mendulang.euro> 
Sampah Bekasi
Sampah Mendulang Euro
 <http://www.kompas.com/data//photo/2008/08/28/2967721p.jpg>    
KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA / Kompas Images <http://www.kompasimages.com/>  
Bukit sampah di TPA Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa 
Barat, Sabtu (9/8). 
Kamis, 28 Agustus 2008 | 03:00 WIB 

"Teknologi itu tidak membinasakan manusia, tetapi melayaninya" (EF Schumacher, 
"Kecil Itu Indah").

 

Bau busuk sampah adalah berkah. Bukit-bukit sampah menghasilkan rupiah, itu 
hanya bisa terjadi kalau sampah diolah. Bagi Imam Rusyanto (33) dan ratusan 
pemulung, bukit sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sumur Batu, Kecamatan Bantar 
Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, adalah sumber uang.

Paling sepi seminggu dapatnya satu kuintal plastik kresek dan satu kuintal 
botol plastik," kata lelaki asal Banjarnegara, Jawa Tengah, itu. Setelah 
dipilah dan dibersihkan, plastik dan kresek itu dijual dua minggu sekali. Itu 
berarti 42 lembar uang Rp 10.000 akan diperoleh Imam yang sudah empat tahun ini 
memulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu.

Kerja keras sehari-hari yang dilakoni Imam dan ratusan pemulung dengan cara 
mengumpulkan sampah plastik, besi, dan kertas hanya mengurangi tidak lebih dari 
25 persen dari kira-kira 1.700 ton sampah baru yang ditimbun ke TPA Sumur Batu 
setiap harinya.

"Sekitar 70 persen sampah yang dihasilkan dari aktivitas warga perkotaan adalah 
sampah organik," kata Ketua Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat untuk 
Persampahan Nasional Bagong Suyoto ketika ditemui pada Sabtu (9/8).

Sisa sampah organik tersebut tidak dipulung Imam dan kawan-kawannya. 
Sampah-sampah organik itu ditumpuk kemudian ditimbun dengan tanah merah. 
Sanitary landfill atau sistem pengolahan sampah model pengurukan.

Cara tersebut dilakukan di TPA Sumur Batu selama ini. Hasilnya, muncul 
bukit-bukit sampah setinggi 13 meter di lahan seluas kira-kira 10 hektar. 
Sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk. Bau busuknya menyengat dan 
mengundang hadirnya lalat. Di dalam tumpukan sampah busuk yang baunya menyengat 
itu tersimpan gas metana (CH4).

Badan Perserikatan Bangsa- Bangsa untuk Program Lingkungan (UNEP) menyatakan, 
gas metana adalah salah satu jenis gas yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas 
metana 20 kali lipat lebih berpotensi merusak atmosfer dibandingkan dengan gas 
karbon dioksida (CO2).

Bernilai ekonomi

Bau busuk itu yang kini justru diburu oleh Pemerintah Kota Bekasi. Mulai tahun 
2007, Pemkot Bekasi bekerja sama dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia membangun 
fasilitas dan instalasi pengolahan gas metana, landfill gas flaring (LGF), di 
TPA Sumur Batu.

Gikoko menanam modal puluhan miliar rupiah untuk membangun fasilitas dan 
instalasi pembakaran gas metana di lahan penampungan sampah milik Pemkot 
Bekasi. Puluhan ribu ton gas metana yang terkandung di bukit sampah akan 
dibakar. Kegiatan ini bagian mekanisme pembangunan bersih (clean development 
mechanism/CDM) yang dikampanyekan dalam Protokol Kyoto untuk menyelamatkan bumi.

Secara sederhana, prinsip dasar dari proyek CDM di TPA Sumur Batu dengan 
teknologi LGF adalah mengumpulkan gas metana, menyalurkannya ke tungku 
pembakar, dan membakar gas tersebut.

Untuk memaksimalkan pengumpulan gas metana dari tumpukan sampah itu, bukit 
sampah ditutup rapat dengan terpal plastik tebal. Di dalam timbunan sampah atau 
disebut sel dipasangi pipa-pipa berukuran besar yang berfungsi menyalurkan gas 
metana ke tanur.

Gas metana yang akan masuk ke tanur dan gas karbon dioksida yang dihasilkan 
dihitung jumlahnya. Hasil penghitungan tersebut kemudian dilaporkan secara 
rutin ke Bank Dunia untuk memperoleh sertifikat pengolahan yang kemudian dijual 
ke negara-negara industri maju (Annex 1).

Koordinator Sektor Lingkungan Hidup dari Bank Dunia, Josef Leitmann, ketika 
ditemui dalam peresmian proyek LGF di TPA Sumur Batu pada awal Juli mengatakan, 
harga kredit karbon dunia kini paling rendah 10 euro per tonnya.

Hasil pengolahan gas metana di TPA Sumur Batu akan dibeli pihak Netherland 
Clean Development Mechanism Facility, yang diwakili oleh Bank Dunia. Mereka 
sudah meneken kontrak dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia untuk membeli 250.000 
ton CO2 hasil pembakaran gas metana di TPA Sumur Batu sampai tahun 2012.

Dalam kontrak kerja sama Pemkot Bekasi dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia, Pemkot 
Bekasi mendapat bagian 17 persen dari hasil penjualan gas karbon dioksida hasil 
pembakaran gas metana di TPA Sumur Batu.

Timbunan sampah di TPA milik Kota Bekasi itu berpotensi menghasilkan gas metana 
setara 50.000 ton CO2 setiap tahun. Pemkot Bekasi berpeluang memperoleh 
pendapatan kira-kira 85.000 euro, atau lebih dari Rp 4,2 miliar setiap tahun, 
dari tumpukan sampah di TPA Sumur Batu.

Separuh pendapatan itu digunakan untuk membiayai program pemberdayaan 
masyarakat di sekitar TPA Sumur Batu. Sebagian lainnya digunakan Pemkot Bekasi 
untuk memperbaiki sarana pengangkutan dan pengumpulan sampah kota.

"Kami berusaha menangkap semangat dunia melalui pengelolaan sampah di TPA Sumur 
Batu," kata Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Pemkot Bekasi Dudy 
Setiabudhi awal Agustus.

TPA Sumur Batu berlokasi di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang. 
Letaknya berdekatan dengan TPA Sampah Bantar Gebang milik Pemerintah Provinsi 
DKI Jakarta. Selama ini TPA Sumur Batu hanya menampung sampah dari Kota Bekasi.

Dengan penduduk lebih dari dua juta orang, Kota Bekasi menghasilkan 1.700 ton 
sampah setiap hari. Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad mengatakan, apabila 
proyek LGF di TPA Sumur Batu dapat beroperasi tahun ini, Kota Bekasi akan mulai 
kekurangan sampah pada tahun 2009.

"Bekasi siap menampung sampah dari daerah tetangga," kata Mochtar ketika 
ditemui pada Selasa (5/8).

Mochtar menambahkan, Pemkot Bekasi kini sedang menjajaki peluang mengolah 
sampah kota menjadi sumber energi listrik. "Kami memandang sampah bukan lagi 
sebagai masalah, melainkan sebagai sumber ekonomi baru," ujar Mochtar.

Tahap peresmian instalasi dan fasilitas LGF di TPA Sumur Batu sudah dilewati. 
Menurut Dudy, tahap selanjutnya adalah registrasi proyek di Dewan Eksekutif 
Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC).

Dalam sambutan saat meresmikan instalasi Landfill Gas Flaring di TPA Sumur Batu 
awal Juli, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menyatakan 
harapannya agar langkah Pemkot Bekasi juga diikuti pemerintah daerah lainnya, 
misalnya Pemerintah DKI Jakarta dengan TPA Bantar Gebang. (Cokorda Yudistira)

 

<<winmail.dat>>

Kirim email ke