Sebelumnya mohon maaf bagi Alumni SMA 1 Bekasi yang bukan beragama Islam,

Sekedar share saat saat Ramadhan tinggal 10 hari lagi...

Mohon maaf bagi yang tak berkenan.

Salam,
Morry Infra
+966-533214840

---------- Forwarded message ----------
From: Aboe Hanifa <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 20, 2008 2:07 PM
Subject: Petunjuk Nabi dalam I'tikaf, Zakat Fithroh, dan Berhari Raya




   Petunjuk Nabi dalam I'tikaf, Zakat Fithroh, dan Berhari
Raya<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya.html>Kategori:
Fiqh dan Muamalah <http://muslim.or.id/category/fiqh-dan-muamalah>

Kaum muslimin dalam bulan Romadhon diberikan media dan sarana oleh Allah
untuk bertakwa. Kemudahan-kemudahan yang ada disana membuat kaum muslimin
menanti dan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar dapat mencapai apa
yang dicita-citakannya dari pengampunan dan keridhoan Allah. Oleh karena
sudah menjadi satu kewajiban bagi kita semua untuk mempersiapkan dan
membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan tentang amalan yang dapat
dilakukan di bulan tersebut. Tentunya semua itu dengan dasar ikhlas dan
mengikuti contoh Rasulullah, karena tanpa keduanya amalan kita hanya sekedar
isapan jempol saja tidak ada artinya.

Diantara amalan tersebut adalah I'tikaf, Zakat Fithroh dan Hari Raya
(Ied)<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/petunjuk-nabi-dalam-itikaf-zakat-fithroh-dan-berhari-raya.html>sebagai
amalan di penghujung jumpa kita dengan bulan Romadhon yang penuh
barokah. Mudah-mudahan penjabaran dua masalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

*I'TIKAF*

*Makna I'tikaf*

I'tikaf berasal dari bahasa Arab yang bermakna berdiam diri pada sesuatu.
Kata ini dipakai juga untuk ibadah dengan tinggal dan menetap di masjid
untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pelaku ibadah ini
dinamakan Mu'takif atau 'Aakif.

*Hikmah I'tikaf*

Adapun hikmahnya berkata ibnul Qayim: Ketika perbaikan dan keistiqomahan
hati dalam berjalan menuju Allah tergantung konsentrasinya terhadap Allah
dan kesatuan kekuatannya dalam menghadap Allah secara penuh. Lalu jika hati
terpecah tidak dapat disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah,
padahal kelebihan makan dan minum, kelebihan bergaul dengan manusia, banyak
ngomong dan tidur menambah hati berantakan dan memporak porandakannya serta
memutus atau melemahkan atau mengganggu dan menghentikan hati dari jalan
kepada Allah. Maka rahmat Allah kepada hambaNya menuntut disyariatkan puasa
untuk mereka. Puasa yang dapat menghilangkan kelebihan makan dan minum dan
mengosongkan hati dari campuran syahwatyang menghalangi jalan kepada Allah.
Allah mensyariatkannya sesuai dengan kemaslahatan yang dapat bermanfaat bagi
hamba didunia dan akheratnya. Tentunya hal ini tidak merugikan dan memutus
kemaslahatan dunia dan akheratnya seorang hamba. Kemudian mensyariatkan
mereka I'tikaf yang tujuan dan intinya adalah hati tinggal menghadap Allah,
menyatukan kekuatannya, berkholwat dengan Nya, menghilangkan kesibukan
dengan makhluk dan hanya sibuk menghadap Allah saja.

*Pensyariatannya*

I'tikaf disyariatkan Allah dalam firmanNya:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ
لِبَاسُُ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسُُ لَّهُنَّ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ
تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْئَانَ
بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَاكَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ
وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ
تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ
يَتَّقُونَ

*"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari shiyam bercampur dengan isteri-isteri
kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.
Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu
Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah
mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Kemudian sempurnakanlah shiyam itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu
campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan
Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa."* (QS. Al Baqoroh:
187)

Demikian juga hal ini diolakukan Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa
sallam*sebagaimana dikisahkan oleh hadits di bawah ini.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ
الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ
اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

*"Nabi beri'tikaf di sepuluh akhir dari romadhon sampai wafat kemudian
istri-istri beliau beri'tikaf setelahnya."* (Bukhori 1886)

I'tikaf adalah ibadah yang disunnahkan untuk dilakukan pada bulan Romadhon
dan selainnya, baik didahului dengan puasa atau tidak, akan tetapi yang
paling utama di bulan Ramadhon dan disepuluh hari terakhir sebagaimama
dijelaskan hadits-hadits berikut ini.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي
الْعَشْرِ الْأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ فَاعْتَكَفَ عَامًا حَتَّى إِذَا كَانَ
لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يَخْرُجُ مِنْ
صَبِيحَتِهَا مِنْ اعْتِكَافِهِ قَالَ مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي
فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

*"Sesungguhnya Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam telah beri'tikaf
disepuluh hari pertengahanromadhon lalu I'tikaf pada tahun tersebut sampai
pada malam keduapuluh satu yaitu malam beliau keluar I'tikaf dipaginya
beliau berkata barang siapa yang beri'tikaf bersamaku maka hendaklah
beri'tikaf di sepuluh terakhir."* (Bukhori 1887) dan perintah dan
persetujuan beliau kepada Umar dalam hadits:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَوْفِ نَذْرَكَ فَاعْتَكَفَ لَيْلَةً

*"Dari Umar bin Khothab beliau berkata: Wahai Rasululloh saya pernah
bernazar di zaman jahiliyah untuk I'tikaf satu malam di masjid haram. Lalu
beliau menjawab: Tunaikan nazarmu. Lalu Umar beri'tikaf semalam."*

*Syarat dan Tempatnya*

I'tikaf hanya boleh dilakukan di masjid dan tidak keluar darinya kecuali
hajat dan darurat. Tidak boleh dilakukan pada selain masjid. Sebagaimana
firman Allah:

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

*"Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.
Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya."* (QS. Al Baqoroh:
187)

*Hal-Hal yang Diperbolehkan Dalam I'tikaf*

1. Boleh keluar masjid karena hajat dan boleh juga mengeluarkan kepalanya
keluar masjid untuk dicuci atau disisiri. Aisyah berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي
إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا
لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

*"Nabi jika beri'tikaf mengeluarkan kepalanya kepada saya lalu saya sisiri,
dan beliau tidak keluar kecuali untuk hajat (kebutuhan)."* (Muslim)

2. Dibolehkan berwudhu di masjid.

3. Boleh membuat kemah kecil atau kamar kecil dengan kain di bagian belakang
masjid sebagai tempat beri'tikaf, sebagaimana Aisyah membuat kemah kecil
untuk Nabi beri'tikaf.

4. Dibolehkan meletakkan kasur atau dipan dalam I'tikaf, sebagaimana
diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi, bahwa beliau jika beri'tikaf
disiapkan atau diletakkan kasur atau dipan di belakang tiang taubah. (Hadits
ini sanadnya hasan, diriwayatkan Ibnu najah dalam *Zawaaid Sunan*-nya)

5. Boleh mengantar istrinya yang mengunjunginya di masjid sampai pintu
masjid. Dengan dalil:

أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ
الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ
تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا
يَقْلِبُهَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ بَابَ الْمَسْجِدِ عِنْدَ بَابِ أُمِّ
سَلَمَةَ مَرَّ رَجُلَانِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ
فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَبُرَ عَلَيْهِمَا

*Shofiyah berkata bahwa beliau datang menziarahi nabi dalam I'tikaf beliau
di sepuluh akhir romadhon lalu berbincang-bincang dengan beliau beberapa
saat, kemudian bangkit pulang. Rasulullah pun bangkit bersamanya mengantar
sampai ketika di pintu masjid di dekat pintu rumah Ummu Salamah, lewatlah
dua orang Anshor, lalu keduanya memberi salam kepada Nabi dan beliau berkata
kepada keduanya: "Perlahan, sesungguhnya dia adalah Shofiyah bintu Huyaiy.
Lalu keduanya berkata: "Subhanallah, wahai Rasululloh" dan keduanya
menganggap hal yang besar.* (Bukhori)

6. Wanita boleh beri'tikaf dimasjid selama aman dari fitnah, dengan dalil:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ
الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ
اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

*"Nabi beri'tikaf di sepuluh akhir dari romadhon sampai wafat kemudian
istri-istri beliau beri'tikaf setelahnya."* (Bukhori 1886)

Demikianlah sedikit pembahasan tentang I'tikaf yang dilakukan pada sepuluh
hari terakhir dari romadhon.

*ZAKAT FITHROH*

Zakat fithroh merupakan zakat yang disyari'atkan dalam islam berupa satu
sho' dari makanan yang dikeluarkan seorang muslim di akhir Romadhon, dalam
rangka menampakkan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah dalam berbuka dari
Romadhon dan penyempurnaannya, oleh karena itu dinamakan shodaqoh fithroh
atau zakat fithroh. (lihat *Fatawa Romadhon*, 2/901)

*Hukumnya*

Zakat fiithroh merupakan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang dibebani
kepada kaum muslimin dan diwajbkan untuk dikeluarkan oleh seorang muslim
baik laki-laki atau perempuan, besar, kecil, budak atau merdeka.

Dalilnya adalah:

a. Hadits Ibnu Umar:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ
صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ
وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

*"Rasulullah telah mewajibkan zakat fithroh satu sho' dari korma atau satu
sho' dari gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, perempuan, laki-laki dan
anak kecil dan besar, dan memerintahkan untuk menunaikannya sebelum
keluarnya manusia menuju sholat."*

b. Hadits Abi Said Al Khudry:

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ
شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ
زَبِيبٍ

*"Kami dahulu pada zaman Nabi memberikanya (zakat fithroh) satu sho' dari
makanan atau satu sho' dari gandum atau satu sho' korma atau satu sho' dari
tepung atau kismis (anggur kering)."*

c. Perkataan Said bin Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz dalam menafsirkan
firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

*"Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya."* (QS. Al A'la:14) dengan
zakat fithroh.

e. Ijma' yang dinukil Ibnbu Qudamah dari Ibnul Munzir, beliau berkata: *"Telah
bersepakat setiap ahli ilmu bahwa zakat fithroh adalah wajib."* (lihat *Al
Mughny* 3/80)

*Hikmahnya*

Zakat fithroh memiliki hikmah yang banyak, diantaranya:

   1. Dia merupakan zakat untuk tubuh yang telah diberikan kehidupan tahun
   tersebut.
   2. Terdapat padanya kemudahan-kemudahan terhadap kaum muslimin baik yang
   kaya maupun yang miskin.
   3. Dia merupakan ungkapan syukur atas nikmat Allah yang dilimpahkan
   kepada orang yang berpuasa.
   4. Dengannya sempurna kebahagiaan kaum muslimin pada hari ied dan dapat
   menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bulan Romadhon.
   5. Dia menjadi makanan bagi para fakir miskin, dan pembersih bagi orang
   yang berpuasa dari hal-hal yang mengurangi kesempurnaannya pada bulan
   Romadhon. (lihat *Fatawa Romadhon* 2/909-911) dengan dalil sabda
   Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam*:
   فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
   الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً
   لِلْمَسَاكِينِ.

   *"Rasulullah telah mewajibkan zakat fithroh sebagai pembersih orang yang
   berpuasa dari kesia-siaan dan kejelekan serta memberi makan orang yang
   miskin."* (HR Abu Daud,Ibnu Majah, Ad Daruquthny, Al Hakim dan Al
   Baihaqy, dan dishasankan oleh Imam An Nawawy dalam *Al Majmu'* (6/126),
   Ibnu Qudamah dalam *Al Mughny* (3/50) dan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al
   Albany dalam *Irwa' Al Gholil* (3/333))

*Jenis yang Boleh Dikeluarkan untuk Zakat Fithroh dan yang Berhak Menerima*

Jenis yang dibolehkan dalam pengeluaran zakat fithroh adalah semua makanan
pokok penduduk negeri tersebut dengan kesepakatan para ulama pada
jenis-jenis yang ada dalam Nash hadits, dan yang berhak menerima adalah
fakir miskin saja.

Berkata Ibnu Taimiyah: *"Sesungguhnya asal dalam shodaqoh, bahwasanya
diwajibkan atas dasar persamaan terhadap para orang faqir, sebagaimana
firman Allah:*

مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ أَهْلِيْكُمْ

*"Dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu."* (5: 89)

*Dan Nabi telah mewajibkan zakat fithroh satu sho' dari korma atau gandum,
karena itulah makanan pokok penduduk Madinah, dan seandainya itu bukan
makanan pokoknya, bahkan makan makanan pokok yang lainnya, maka beliau tidak
membebani mereka untuk mengeluarkan dari makanan yang bukan merupakan
makanan pokok mereka, sebagaimana tidak memerintahkan dengan hal itu dalan
kafarot. Dan shodaqoh fithroh termasuk dari jenis kafarot, karena hal ini
(zakat fithroh) berhubungan dengan badan dan ini (kafarot) juga berhubungan
dengan badan, berbeda dengan shodaqoh harta (mal), karena dia diwajibkan
dengan sebab harta dari jenis yang Allah telah berikan."*

*Ukuran Zakat Fithroh*

Sebagaimana ada dalam hadits-hadits terdahulu bahwa ukuran yang dikeluarkan
adalah 1 sho' yang setara kurang lebih 3 kg beras, menurut hitungan Syeikh
Ibnu Baz dan dipakai dalam Lajnah Daimah (lihat *Fatawa Romadhon* 2:915 dan
2 :926) (Lihat juga fatwa lajnah daimah no. 12572). Sedangkan menurut
sebagian ulama setara dengan 2.275 Kg dan di Indonesia berlaku 2,5 kg.

*Waktu Mengeluarkannya*

Waktu mengeluarkannya yang utama adalah sebelum manusia keluar menuju sholat
Ied dan boleh dipercepat satu atau dua hari sebelumnya sebagaimana yang
dilakukan Ibnu Umar, dan tidak boleh setelah sholat Ied, dengan dalil hadits
Ibnu Abbas (marfu'):

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا
بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ.

*"Maka barang siapa yang menunaikannya sebelum keluar manusia menuju sholat
maka zakat terserbut diterima, dan barang siapa yang menunaikan setelah
sholat maka dia adalah shodaqoh dari shodaqoh-shodaqoh."* (HR. Abi Daud)

*IED (HARI RAYA)*

*Hal-Hal yang Berhubungan Dengan Ied (Hari Raya)*

Setelah selesai bulan Romadhon dan selesailah puasa kaum muslimin, maka
Allah tetapkan untuk kita semua satu hari raya. Hari raya kebahagian kaum
muslimin setelah mengerahkan segala kekuatan dalam menunaikan ibadah puasa
dan mengisi Romadhon dengan amalan ibadah yang sangat banyak. Agar kita
semua dapat mensyukuri nikmat Allah. Sehingga Allah firmankan:

*"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur."* (QS. 2:185)

Demikianlah pada hari itu kita mengagungkan Allah dengan takbir dan tahmid.
Akan tetapi banyak kaum muslimin yang belum mengerti hakikat pengagungan
Allah tersebut. Sehingga mereka meramaikannya dengan menyulut mercon dan
petasan.

*Takbir Ied, Waktu dan Lafadznya*

Dengan firman Allah diatas, disyariatkan kita bertakbir yang dikeraskan, akan
tetapi *tidak* dengan berjamaah, seperti kita lihat di kebanyakan daerah di
negeri kita.

Takbir Ied Fitri diawali ketika keluar ke Mushola (lapangan tempat sholat
ied) sampai selesai sholat, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى
وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضِيَ الصَّلاَةَ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

*"Beliau keluar pada hari raya fitri lalu bertakbir sampai ke Mushola dan
sampai menunaikan sholat. Setelah beliau sholat beliau menghentiikan
takbirnya."* (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan dihasankan Al Albani
dalam *Silsilah Ahadits Shohihah* no. 170)

Belum didapatkan lafadz takbir dalam sunnah Rasululloh, akan tetapi terdapat
lafadz takbir yang digunakan para sahabat dalam ied, yaitu:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لا َإِلَهَ إِلاَّ الله وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ اللهُ
أَكْبَرُ وَأَجَلُ الله أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Demikianlah makalah ini dibuat mudah-mudahan bermanfaat.
.


Kirim email ke