http://taufikurahman.wordpress.com









    
            Jluntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat 

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi 



Oleh: Dahlan Iskan 



Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan' '

secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga,

banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya

bukan dokter. Saya coba: 



Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang

di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik

terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu

urusan kiat para CEO dan direkturnya. 



Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu

lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu

adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan

labanya harus terus meningkat.



Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang,

sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.



Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para

pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi

dibanding waktu mereka beli dulu: untung.



Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual

saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian

banyak.



Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik,

terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih,

terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut:

hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan

seterusnya.



Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan

stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi

kadang bisa rugi? 



Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa

disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama,

agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat

bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan

pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan

besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana

bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?



Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti

tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus

berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain.

Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru

ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil?

Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah

populernya hostile take over. 



Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk

bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat

jalan.



Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para

direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.

Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah

happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena

dapat dukungan atau sumber dana.



Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan

rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya.

Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa

membeli barang, ekonomi semakin maju lagi. 



Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa

bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara

lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS

yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2

triliun! 



Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu

dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS

dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.



Tapi, itu belum cukup.



Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak

cukup lagi: harus computerized! 



Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat

harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah

harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.



Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi

perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat,

dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang

kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing

atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.



Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli

rumah?



Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar?

Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan

alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar?

Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa

lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?



Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980,

pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi Kontrol Moneter''.

Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan

menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari

bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua

tahun kemudian.



Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,

asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang

dimanfaatkan perbankan secara nyata. 



Begini ceritanya:



Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam

undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi

syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski

tidak sama). 



Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil

mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan

karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun. 



Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang

terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai

naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat

orang yang bisa mendapat mortgage.



Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk

menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank

bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para

broker dan bisnis lain yang terkait. 



Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka,

ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni,

tahun 1986.



Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya:

pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi

pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli

rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.



Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar

biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau

Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua

keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga

terjamin.



Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis

menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang

disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi

dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat

lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.



Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya:

matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage,

Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan

kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan

Anda belum lunas. 



Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah

itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan

rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu

dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah

tersebut. 



Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman

Brothers?



Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena

fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku

bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan

meningkatkan laba. 



Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas

mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah.

Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.



Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik

rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah

berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan

kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat

ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut

dalam memberi kredit rumah. 



Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam

undang-undang perbankan yang keras. 



Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan. 



Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain''

yang disebut investment banking. 



Apakah investment banking itu bank? 



Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas

daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:

menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang,

meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli

rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan.

Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman

Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.



Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman

tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya

kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:

kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada

orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ''personal banking''.



Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang

menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya

dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak

sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.



Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya

serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka

lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak

menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow. 



Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya

orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang

memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage. 



Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh

besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang

yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang

bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun. 



Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat

mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan

terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan

pengeluaran.



Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,

pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari

mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa

dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah

dipikirkan jangka panjangnya.



Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari

10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita

sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual

rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah

itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang

gagal bayar. 



Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan

rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu

menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang

beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino

yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.



Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum

ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.

Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar,

memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan

masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi? 



Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau

menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak

USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara

Indonesia dijadikan satu. 



Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan

rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang

Indonesia yang ''menabung'' -kan uangnya di lembaga-lembaga investment

banking yang kini lagi pada kesulitan itu. 



Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak

banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura,

Hongkong, atau Tiongkok. 



Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah

satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok

akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang

berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara

besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)



Regard's



Babang Kurnia

PT. Khasanah Timur Indonesia

Ph. 62-21-5205151 ext 3400

Mobile +62-811-92-5553 




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke