ARSITEKTUR PEMBANGUNAN BEKASI UTARA (5):
ORIENTASI PEMBANGUNAN BERBASIS MARITIM
Orientasi pembangunan Kabupaten Bekasi yang saat ini tidak melirik
potensi kelautan dan sumber daya pesisir. Padahal, potensi laut dan
garis pantainya luar biasa besar. Tercatat 71 mil bibir pantai
mengular dari perbatasan Jakarta-Bekasi di Marunda hingga perbatasn
Karawang. Coba hitung, bila zone kekuasaan itu 21 mil ke tengah maka
kita punya 71 mil x 21 mil = 1.491 mil. Nah, kalau 1 ml = 1,6 km maka
kita punya 2.385,6 km. Eh, itungan ini salah! Itu hitungan bila
perbatasan laut kita Negara lain. Nah, kalau perbatasan kita adalah
laut Jawa dan Kalimantan. So, asal kuat aza. Kapal nelayan kita bisa
masuk laut lepas dan nangkep Hiu dan Paus…..
Jujur saya, selama ini Pemda Kabupaten Bekasi seakan menutup telinga
dan mata terhadap potensi laut ini. Pembangunan berbasis potensi
sumber daya ruang pesisir seolah dikesampingkan. Entah mengapa.
Mungkin karena kantor Pemdanya yang jauh dari pinggir laut. Apa yang
Anda lihat, itulah yang diperhatikan.
Padahal catatan sejarah berbicara dengan keras bahwa berabad-abad
lamanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban yang berada di
wilayah Nusantara ini memiliki kekuatan ekonomi dan politiknya dengan
berbasis pada sumberdaya kelautan.
Dalam konteks nasional, baru di era reformasilah kesadaran untuk
menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan merupakan arus
utama pembangunan nasional kita. Ini tercermin dari keputusan politik
bangsa sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara
(GBHN) tahun 1999. Keputusan itu kemudian ditindaklanjuti dengan
pembentukan Departemen Kelautan dan Perikanan. Untuk kasus Bekasi,
sayangnya bidang Dinas Teknis Bidang Kelautan dan Perikanan baru
setahun terakhir ada.
Ada sejumlah alasan mengapa kita harus melirik pembangunan berbasis Kelautan.
Pertama, Bekasi itu merupakan negara maritim. Pasti banyak yang kaget.
Karena kebanyakan dari kita berasal dari daratan. Tapi muter-muterlah
di wilayah Bekasi. Niscaya kita akan menyadari bila jumlah sungai
cukup banyak. Mulai dari kali Bekasi, Kali Cikarang, Kali Citarum
hingga anak-anak sungai. Banyak. Ini kan pertanda bahwa Bekasi dulu
menjadikan akses sungai atau transportasi air menjadi alternatif
utama. Lalu, kemana air atau sungai mengalir? Tentu laut. Data ini
diperkuat dengan sejumlah penemuan situs bersejarah di daerah Buni
Bakti, Babelan. Lokasinya kira-kira 5 km dari pinggir laut. Dengan
akses sungai memungkinkan peradaban manusia tercipta di wilayah ini.
Memori sejarah ini mestinya membawa orientasi arah dan pola
pembangunan yang juga memikirkan lut dan potensi pesisir. Sayangnya
itu semua masih dalam khayalan.
Secara nasional, banyak daerah-daerah di dalamnya kaya akan sumber
daya laut dan pesisir. Selain memiliki keanekaragaman hayati
biodiversity laut terbesar di dunia, wilayah pesisir dan lautan di
Indonesia juga kaya akan bahan tambang dan mineral seperti minyak dan
gas, bijih besi, bauksit, dan pasir kwarsa. Semua kekayaan itu
merupakan aset bagi daerah yang mempunyai keunggulan komparatif. Di
Babelan darat, ditemukan sejumlah ladang minyak. Tidak tertutup
kemungkinan 'danau minyak' di perut bumi menjalar ke bawah laut.
Kedua, kenyataan terus meningkatnya jumlah penduduk, sementara
pembangunan hanya terfokus di daratan. Kita seperti berebut kue kecil.
Padahal kalau pembangunan di sebar, tak hanya daratan. Barangkali
kondisinya akan berbeda. Lihat saja, sekarang terjadi pertikaian
masyarakat berebut limbah sisa produksi di wilayah kawasan industry
seperti Lippo, Jababeka atau MM2100. Belum lagi perebutan lowongan
kerja dan pembangunan.
Ketiga, semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia yang disertai pula
dengan semakin meningkatnya kesadaran umat manusia akan signifikansi
produk-produk kelautan dan perikanan bagi kesehatan dan kecerdasan
manusia. Dengan demikian, produk-produk kelautan dan perikanan akan
menjadi primadona di masa depan. Kita bosan dengan makanan-makanan
kaleng dan buatan. Maka, kita bisa beralih dengan makanan-makanan
segar dari nelayan dan petani kita. Persoalannya adalah infrastruktur
dari daerah pesisir tidak terbangun. Sehingga, biaya transportasinya
jadi muaaahaal. Akibatnya, berpulang kepada kita sebagai konsumen.
Harga cumi Rp. 25 ribu per kilo. Bandingkan dengan ikan lele/emas yang
hanya Rp. 14 ribu per kilo. Harga itu dikarenakan biaya transportasi
yang membengkak.
Keempat, di masa mendatang dalam rangka industrialisasi, kawasan
pesisir dan laut akan mendapatkan prioritas utama mengingat pesisir
dan laut tidak saja menyediakan sumber daya alam yang demikian kaya
dan beragam, tetapi juga merupakan potensi tersendiri bagi
pengembangan pembangunan yang non-ekstraktif; seperti pengembangan
kawasan rekreasi dan pariwisata. Saat ini saja, berbondong-bondong
orang datang ke wilayah itu untuk memancing. Wuih…seandainya saja ini
diperhatikan maka bisa jadi akan menjadi sumber alternatif pemasukan
di bidang pariwisata. Otomatis kemudian akan mendorong industri
kreatif baik kerajinan maupun karya seni akan turut hidup dan
berkembang.
Sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya yang senantiasa dapat
diperbarui renewable resources sehingga mempunyai keunggulan
komparatif dan kompetitif. Di samping itu industri yang berbasis
sumberdaya kelautan memiliki keterkaitan backward and forward linkage
yang sangat kuat dengan industri dan aktivitas ekonomi lainnya,
sehingga mengembangkan industri berbasis kelautan berarti juga
menghidupkan dan mendorong aktivitas ekonomi di sektor lainnya. Ini
termasuk usaha transportasi, komunikasi, perdagangan, pengolahan, dan
jasa-jasa lainnya.
Selain itu dari aspek politik dengan kondisi geopolitis sebagaimana
disebutkan maka bila stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri
dapat tercapai bila kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan
dalam menjaga wilayah kedaulatan perairan kita. Demikian pula dari
sisi sosial dan budaya, sebenarnya menjadikan pembangunan berbasis
sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa merupakan
penemuan kembali reinventing aspek kehidupan yang pernah secara
dominan ada dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa.
Terakhir, potensi harta karun. Menurut Slamet Subiyanto, mantan KASAL
yang mendeklarasikan diri sebagai capres dari jalur independen. Saat
ini ada 400 titik kapal karam di seluruh Nusantara. Informasi ini
mengingatkan kita akan kapal Livina yang terbakar dan tenggelam di
perairan Muara Gembong. Bukan soal di situ tidak ada emas batangan.
Namun, bila kita kelola dengan serius besi rongsokan saja bisa dijual.
Bisa jadi di tempat-tempat lain, ada kapal perompak yang tenggelam dan
di situ terdapat puluhan batang emas. Nah, bila terbukti kemudian di
wilayah perairan Kabupaten BEkasi, ada kapal yang tenggelam maka ini
potensi yang bisa dijadikan pemasukan PAD. [kim]
[tulisan ini hanya pemicu, bila Anda punya masukan atau tambahan,
silahkan kirim ke milis ini atau ke [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/