Buat Vita, kami turut berduka cita atas wafatnya ayahanda Vita. Semoga Allah Swt menerima iman-islam dan amal shaleh almarhum, dan keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan. Wassalam, TfR
http://taufikurahman.wordpress.com --- On Tue, 12/23/08, Lusiana M. Hevita <[email protected]> wrote: From: Lusiana M. Hevita <[email protected]> Subject: [sma1bks] NCB : Kesulitan dan Kemudahan To: "sma satu" <[email protected]>, [email protected], "Jip 92" <[email protected]> Date: Tuesday, December 23, 2008, 1:08 AM “Bersama kesulitan, ada kemudahan….” Penggalan terjemahan dari ayat Al-Qur’an ini sangat kami rasakan kemarin. Di tengah musibah yang berujung kesedihan membawa beberapa hikmah yang hari demi hari berusaha kami kumpulkan. Subhanallah, Maha Benar firman-Nya. Pada hari papa terkena musibah, langsung dilarikan di RS terdekat. Ketika harus di CT Scan, papa dirujuk di RS yang lebih besar dan langsung tertangani. Demikian juga saat keluarga memutuskan untuk menyetujui operasi. Operasi bedah otak segera dilakukan tiga jam setelah surat pernyataan ditandatangani. Para dokter yang sebagian sudah OTW dipanggil kembali. Kondisi Papa yang ‘sehat’ meski luka dalam yang parah, semuanya memenuhi syarat untuk dibawa ke meja operasi. Dokter anastesi papa membesarkan hati kami. Operasi yang semula diduga 8 jam, selesai dalam 6 jam saja. Lancar? Relatif, tapi dokter bedah syaraf menyatakan ini adalah operasi yang sangat sulit. Kami hanya bisa bersandar pada Allah, berharap yang terbaik buat papa. Operasi berjalan tanpa jeda, kami sudah harap-harap cemas di depan pintu, kalau-kalau petugas medis memerlukan kami, atau ada yang ingin mereka sampaikan ke kami tentang kondisi papa. Karena menurut dokter, saat operasi sangat mungkin jantung papa tiba-tiba berhenti, terjadi pendarahan ulang dan lain-lain. Dalam kondisi genting, memang hanya Allah sandaran yang paling kokoh. Pun ketika pada akhirnya Allah berkenan memanggil papa, sebagai jawaban doa-doa kami, kepada Allah lah kami berserah. Pukul dua dini hari yang dingin, setelah 5 hari di ruang ICU. Langit seperti menangis saat itu. Percikan airnya mengenai pipi, hembusan angin yang dingin seperti membisik dengan lembut agar kami mengikhlaskan papa. Papa langsung dibawa ke kamar jenazah untuk dimandikan, dikafani dan menjelang subuh kami menyolatkan papa di terasnya. Persis shalat jenazah selesai, adzan memanggil kami kembali berserah dalam shalat subuh. Kami mendoakan papa. Pukul setengah lima lebih, ambulan mengantar jenazah papa ke rumah. Alhamdulillah seluruh administrasi di rumah sakit pun selesai saat itu juga. Teman baik papa yang mengurus itu semua, bahkan kami sama sekali tidak dilibatkan sedikit pun. Di rumah para tetangga, kerabat dan handai taulan sudah menunggu. Setelah melepas kerinduan untuk yang terakhir, papa dimakamkan pukul 9 pagi. Langit cerah, tapi sekali lagi titik-titik air masih turun, seperti ikut menangis bersama kami. Beberapa hari kami melakukan pengajian di rumah. Saudara-saudara di kampung papa juga. Masjid tempat pengajian nenek, tante dan saudara yang lain juga ikut mendoakan papa di tempatnya masing-masing. Bahkan staf kantor berinisiatif melakukan shalat ghaib ba’da Jumat di kampus. Mudah-mudahan semua kemudahan ini isyarat baik dari Allah, bahwa papa sudah tenang dan bahagia di sisi-Nya. Amiiin. (terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas seluruh simpati, dukungan dan doa dari teman-teman milis, para sahabat dan teman-teman dekat, FLP, Balai Pustaka, EGC, pengurus masjid UI, FEUI, Perpustakaan Pusat UI, Gita, kakaknya Gita di tanah suci, Kang Abik, Afra, Mas Gong, Mas Boim, Mbak Htr, Sokola Rimba, teman-teman ‘gunung’ adik saya yang menemani saat menunggu operasi, keluarga besar, teman-teman papa, mantan temen2 kos, Aweng tukang sayur (yang sekarang jadi 'ojek pribadi' adik2 menggantikan papa, hehehe) waduh…banyak jadinya. Musibah papa jadi ajang silaturahmi 'akbar' dan reuni orang-orang…: -) , maaf ya..kalau ada yang nggak kesebut :-D)
