lumayan buat yang mau jadi Pemimpin...
atau referensi buat yang mau milih Pemimpin di tahun 2009 .... i
Kita belajar ke Timur sekarang karena Barat sudah runtuh.....
ini di ambil dari buku Ahmadinejad Menggugat Amerika....terbitan Zahra
KERUNTUHAN PENGUASA DAN KEMENANGAN BANGSA IRAN 
DALAM PERANG WACANA
PENTAS Columbia, dapat diidentifikasi dan diperjelas dari sudut pandang yang 
berbeda-berbeda. Totalitas konfrontasi Columbia ini, dari dua arah telah 
melahirkan sifat dan potensi khasnya.
Menganalisis efek politik internasional dari konfrontasi Iran dan Amerika di 
pentas Columbia, dengan merenungi ulang peristiwa mi melalui analisis bahasa 
sebagai sebuah keniscayaan kini. Di sini. pertanyaan utamanya berkaitan dengan 
pemahaman linguistik tentang perang wacana Columbia dan efeknya bagi identitas 
Islam dan lran. 
Setidaknya terdapat beberapa kemungkinan yang bisa diketengahkan, berangkat 
dari hipotesis seputar bahasa diplomasi. Bahasa diplomasi dunia melingkupi 
kekayaan dan kekuasaan dan penguasa. Ketika berhadapan dengan manusia, ia akan 
bersentuhan dengan keyakinan lingual. Substansi bahasa diplomasi tersebut 
berstruktur tunggal berupa kehampaan dari keteraturan holistic dengan struktur 
manusia lainnya, yang melahirkan paradoks internal bagi hakikat dan jiwa 
manusia.
Poros wacana ini berupaya menyoroti pemerintahan kesembilan terutama Dr. 
Ahmadinejad, dalam mengungkapkan paradoks bahasa dan mengembalikan hakikat 
bahasa revolusi Islam, memasuki arena pemikiran sekaligus reproduksi susunan 
orsinilnya. Inilah bahasa meta diplomatis saat berbicara dengan masyarakat 
dunia dan seluruh negara. Inilah inner language, bahasa yang mengalir dari 
keyakinan lisan menuju kemenangan. Bahasa yang muncul dari dorongan fitrah 
sejalan dengan jiwa dan bangunan kemanusiaan.
Secara umum harus dikatakan bahwa fitrah merupakan sifat dan ciri khas yang 
muncul dari dalam diri manusia. Sifat ini bukan produksi aktifitas eksternal 
maupun penganugerahan luar, juga bukan artifisial. Walau boleh jadi, sifat ini 
tertutupi oleh kepentingan politik manusia yang angkuh. Dalam pandangan Imam 
Khomeini ra, bahasa fitrah adalah tanpa hijab, tanpa warna. Ada pun permainan 
bahasa merupakan pola yang penuh warna dan keluar dari bahasa manusiawi. Ini 
adalah bahasa Fir'aunis, alogaristik dan egoistik yang berhadapan dengan bahasa 
fitrawi.
Bahasa fitrah, bahasa tanpa hijab. Ketika Fir'aun keluar melawan Musa, pada 
hakikatnya ia telah melawan sisi fitrawinya.Sebab bahasa ini lepas dari 
ketergantungan kepada warna hawa nafsu.
Bahasa diplomasi dunia hari ini adalah bahasa kekuatan dan kekuasaan. Sebuah 
hegemoni, perang penghancuran, dan lobi diplomatik yang sedang berkuasa atas 
kebenaran. Sistem politik sebagaimana di atas, tidak berlandaskan pada 
nilai-nilai bahasa hakikat dan pemahaman atas kebudayaan.
Adapun logika bangunan agung revolusi Islam berlandaskan bahasa fitrah yang 
bahasa universal seluruh dunia. Berdiri diatas bangunan dan struktur yang 
berlandaskan atas hukum-hukum Illahi yang kokoh.
Diplomasi fitri pemerintah Islam Iran sedang disuarakan secara aktif. Perang 
tidak akan terjadi antara Iran dan dunia. Kekuatan Iran kekuatan diplomatis 
bukan konfrontasi fisik, bukan pula kekuatan perusak berupa produksi  bom atom 
yang berseberangan dengan fitrah manusia.
Kekayaan bahasa fitrah, merupakan pancaran dari penerimaan bangsa terutama 
idealisme revolusi Islam dan pandangan pemimpin tertinggi revolusi, yang sedang 
dan akan terus diuji keberhasilannya.
Pemerintah Iran tengah mengupayakan diplomasi sehat, namun Barat hanya mampu 
memberikan kritikan-kritikan dalam setiap dialog. Pada saat yang sama, 
pemerintah Iran sedang dipermainkan oleh kekuatan global.
Bahasa kekuatan hari ini sedang berkuasa. Logika kekuasaan tengah memerintah. 
Wahai negara dan bangsa-bangsa! Tidak ada pilihan lain, discoursive Closure 
telah tumbang dan Barat tidak akan pernah merasa bertanggung jawab. Mereka 
selamanya menjadi pemilik kebenaran! Menghukumi dan tidak bersedia dihakimi! 
Majikan yang tidak pernah bersedia menghargai bawahannya. Setiap mereka  pidato 
mereka teriakkan, resolusi sepihak mereka terbitkan. Hak-hak Negara lain di 
buang dengan menggunakan politik sepihak. Tapi kebijakan monologis mereka 
sedang berhadapan dengan pemerintah Iran yang mengoncang pondasi mereka.
Dengan merujuk ke dalam batin revolusi Islam dan rebuilding diplomasi fitri, 
Iran sedang melakukan perlawanan terhadap penguasa dunia  sekaligus 
mempertanyakan seluruh logika kekinian sang adidaya. Seluruh dunia telah lelah 
dari permainan Bush dan Blair.Karenanya logika dan bahasa hati akan melintas 
dan memberikan cahaya kepada rumah-rumah gelap bahasa dan sistem kekuasaan.
Pilihan bahasa fitrah sebagai bahasa umum umat manusia, dieemakan oleh presiden 
Ahmadinejad melalui dialog dengan masyarakat dunia. Inilah jalan altematif 
berhubungan dengan bangsa dan negara-negara dunia. Bahasa fitrah, adalah 
kebenaran yang menjadi ukuran, sedangkan bahasa diplomasi dunia adalah bahasa 
politik. Bahasa fitrah adalah jawaban atas seluruh problem kemanusiaan dunia. 
Tapi bahasa politik adalah alat menjaga kepentingan individu tertentu.
Dalam hal ini, Ahmadinejad telah mengambil sebuah langkah penting dengan 
melakukan manuver balik, menggantikan politisi moral menjadi moral politis. 
Dengan bantuan dan dukungan bangsa, dalam hiruk pikuk bahasa politik, ia telah 
memunculkan bahasa fitrah yang berhadap-hadapan dengan bahasa lobi-lobi 
diplomatik kotor. Sampai saat ini, bahasa politik digunakan tidak untuk 
mengajari masyarakatdunia berbicara benar. Sebab bahasa diplomatik mereka 
anggap benar dan menyerupai kebenaran. Meski dengan dukungan media-media, 
bahasa  politis diplomatik terus dihembuskan, tapi masyarakat dunia terus 
mencari arah menuju kebenaran.
Dari pandangan teoritis seperti ini, analisis pola lingual peristiwa Unversitas 
Columbia menjadi krusial. New York sebagai pusat diplomasi dunia yang selalu 
terkait dengan isu-isu politik, dengan ciri khusus diplomasi dan lobi-lobi. 
Tipu daya kota ini, menjadikan seorang provokator kudeta, bisa menjadi orang 
paling terhormat, yang diatas tribun bisa memberikan penghormatan kepada 
korbannya. Walaupun media digital mampu menyembunyikan kekotoran dan basa-basi 
diplomasi, tapi fitrah manusia akan terus berteriak.               
Bahasa fitri Ahmadinejad bisa membangunkan dan meanugerahkan keagungan. Selain 
itu, peristiwa Columbia telah membuka jalan lebar bagi diplomasi baru Iran. 
Iran sekarang tidak hanya terkejut, tapi mengejutkan!
Amerika dan Eropa telah menjadi penguasa dunia. Sekarang seluruh bangsa telah 
sadar dari logika kebijakan sepihak yang penuh tipu daya kebohongan Amerika dan 
Eropa. Bahasa fitri berasaskan cinta kebenaran dan keadilan, menjadi ciri utama 
bangsa Iran melawan bahasa kekuasaan dunia sekarang yang arogan. Sebagaimana 
usulan presiden Ahmadinejad untuk melakukan reformasi dalam tubuh badan dunia 
PBB.
Dengan ukuran ini, kita bisa menyaksikan kekalahan Amerika dalam menghadapi 
Iran, dari sini pertanyaan muncul, di mana problem dasar Amerika dan apa 
penyebabnya?
Sangat jelas, Amerika Serikat adalah penyulut perang nuklir dan strategi. Tapi 
bahasa logis yang digunakan oleh negara ini dari kemampuaanya menembus hingga 
rudal jarak jangkau dekat di seluruh dunia. Karenanya, penerimaan masyarakat 
dunia bukan oleh kepasihan logika mereka, melainkan oleh pesawat tempur B 52, 
rudal semisal  Titan dan generasi Bolistik.
Juga dari sisi media, dimana perluasan secara terus-menerus kebutuhan dan 
fasilitas informasi, seperti CNN, Fox News dan lain-lain serta menciptakan 
imperialisasi media Amerika-zionis. Amerika sekarang belum mampu mengalalikan 
jiwa dan hati seluruh Negara.
Meskipun media Amerika dan Eropa dalam perang Columbia borbardir berita 
sedemikian rupa, namun tepat saja tidak mampu menggembosi kemampuan strategi 
kebudayaan Iran. Karenanya, Republik Islam Iran dikebiri, agar tidak mampu 
berbuat maksimal di dunia.
Iran relatif berhasil menjamin kedalaman strategi revolusi serta menjaga 
keagungan dan kebanggaan bangsanya. Keberhasilan yang seluruhnya berhubungan 
dengan negara dan seluruh komponen bangsa Iran.
Di sisi lain, sebagaimana yang dilansir oleh para media, dunia Barat 
terjangkiti problem dasar yang tularkan para politikus Amerika yaitu kelemahan 
penjelasan. Big lie ini disuntikkan para politikus Amerika. Mereka 
menjerumuskan masyarakat dunia dalam penggunaan 'bohong besar' negara-negara 
kuasa egois, mengotori dunia dalam 10 tahun terakhir dengan keraguan, mendua 
hati, ambigu dan kebimbangan.
Catatan yang dibuat oleh Terry Mary Meison, penulis buku berkebangsaan Francis 
"Kebohongan Besar", Roger Graudy, analisis dan penulis muslim Francis, juga 
Yansuziky, penulis "Mitos 11 September" serta Michael More, penulis "Si Kulit 
Putih Bodoh", serta sejumlah banyak kelompok pers dan media lainnya, 
mempertegas kebohongan yang dilakukan para politikus Amerika dalam menguasai 
dunia, kebohongan yang terus dilakukan oleh Amerika dan membuatnegara-negara 
lain memisahkan diri darinya.
Disini kebanyakan dari kebijakan pertahanan dalam dan luar negeri Amerika 
berlandaskan pada menuver kebohongan tersebut. Selanjutnya, atas dasar 
kebohongan itu pula alasan penyerangan kepada negara-negara dan bangsa lain. 
Tapi sedikit demi sedikit kesadaran atas kebohongan itu muncul, hingga terbitan 
resolusi dari Amerika kini dipertanyakan. Keraguan telah menyebarkan kecurigaan 
terhadap Amerika. Setiap resolusi yang dikeluarkan Amerika terus berhadapan 
dengan benturan interpretasi dan perlawanan.
Karenanya, pemerintah Iran setelah mendapat pengalaman dari Media War Barat 
membuka perhitungan baru, dengan lisan hak untuk memahami bersama cita rasa 
masyarakat dunia pecinta kebenaran. Hal ini dilakukan dengan menggunakan cita 
rasa bahasa fitri sebagai pendukung ketepatan analisis dan reanalisis, yang 
dipadukan dengan bahasa ilmu, logika dan hukum menjadi pilihan pemerintah dan 
pilihan rakyat Iran, untuk kebijakan ke depan. Inilah upaya menolak setiap 
paradoks dengan bahasa batin masyarakat dunia yang kosong dalam setiap 
undang-undang dan kebijakan Amerika serta negara adikuasa lainnya.
Hasilnya, pola dan teknik bahasa Amerika dalam menangani problem dengan Iran 
disebabkan kebimbangan dan paradoks menjadi pihak yang kalah. Sedangkan Iran, 
dengan keselarasan bahasa, bergerak menuju kebenaran, juga kesatuan bahasa dan 
rasa segenap bangsa Iran yang berada sebagai pemenang sepanjang peperangan dua 
tahun ini. Ini juga menegaskan dekatnya keruntuhan media-media kekuasaan.
Profesor Hamid Maulana, dalam analisis perang antara bangsa Iran dan Amerika 
pada orasi presiden Republik Islam Iran Universitas Columbia, meyakini bahwa 
Ahmadinejad seakan telah menjadi sebuah media. Pernyataan ini secara filosofis 
menjadi keyakinan kami dalam pengantar ini, sebagai analisis yang patut 
diperhatikan.
Konon dan demikianlah halnya, batin dari peradaban baru mengandung sisi 
teknologi. Sejatinya budaya hedonisme di satu sisi & kelalaian manusia adalah 
sisi lain, terus menyeret manusia dari keteraturan alam beralih ke dunia maya. 
Keteraturan alam adalah hokum  rotasi fitrah yang senantiasa memiliki 
keserasian dengan bahasa manusia. Tapi manusia baru, khususnya manusia politis 
baru, dengan kelalaian dari jalan fitrah dan kehidupan cinta fitrah, mempola 
sendiri kehidupan barunya, yang dalam bahasa Fransisco Bacon dan Thomas More 
sebagai "manusia di ufuk atlantik baru, kota cemerlang,dan utopis" 
Teknologi dalam peradaban seperti ini, menciptakan segala sesuatu sebagai 
kebutuhan dasar bagi kehidupan yang mereka miliki. Media komunikasi merupakan 
berhala besar kota ini, karenanya juga masyarakat kotanya terkondisikan dalam 
keadaan kacau dan tanpa aturan. Teknologi dan media akan menjadi bencana dan 
pembawa bencana. Maka seluruh bencana dan kekacauan dunia kembali ke masalah 
ini.
Disini, terma "setiap kamar adalah pusat dunia" menegaskan egoisme dan 
individualisme, dimana secara teknis setiap manusia dengan bantuan komputer, 
dalam bahasa Afyani sebagai berhala besar. Hal inilah yang menyambungkan 
masyarakat dengan dunia dan manusia yang akan mendunia! Mendunia yang bukan 
inti keduniaan manusia. Hari ini segalanya dikembalikan kepada teknologi. 
"Menjadi dunia" bukan dengan bantuan potensi dan keluwesan eksistensi, tapi 
diletakkan pada satu sistem komputer dan rangkat-perangkatnya, dengan bantuan 
internet dan seluler.
Media dalam wilayah ini, adalah berhala yang dihormati, a§aitnana penjelan 
Marshal Lohan, "media adalah pesan sendiri”. Ini adalah ungkapan tegas dari 
batin modernitas yang menjelma di dalam politik dan teknologi.  Pendudukan Irak 
dan serangan terhadap Afghanistan hasil dari sebuah sistem filosofis dalam 
chanel kornunikasi.Inilah gelombang yang melahirkan perang. Membawa dua sisi, 
perang ia bawa dan sisanya untuk sentralisasi dan pemborbardiran. Moral dan 
jiwa militerisme ini, menyebut peradaban baru dengan "pemaksaan“ teknologi yang 
selaras dengan kata dan pesan peradaban Barat.
Atas landasan ini, manusia modern mengambil pola dan dipola dalam bentuk ini. 
Beginilah peristiwa atas manusia, "akhir dunia" ”nasib agung manusia" di bawah 
pidato teknologi.
Tapi manusia baru sedang mulai bangun untuk kembali menuju  kecemerlangan 
fitrah, meski manusia sampai sekarang masih menerima penguasaan mutlak Fox 
News, CNN dan BBC, bukanlah sebuah nilai mulia manusia, padahal media selalunya 
adalah pesan! Meski setiap kamar adalah central dunia.
Tapi sebagaimana pernyataan Profesor Maulana, Ahmadinejad, dalam perang Iran 
dan Amerika, di tengah kesimpangsiuran media Columbia telah menjadi sebuah 
media. Anda tahu sendiri bahwa ini adalah gambaran dari kekalahan korporasi 
media menghadapi revolusi Islam sekaligus menjadi penegas keruntuhan kondisi 
batin peradaban teknologi, demikian kacamata Lohan.
Dengan kata lain, analisis perang non-fisik Columbia membuktikan bahwa ikhtiar 
dan keinginan manusia, lebih unggul dan kekuasaan politis. Seandainya "si 
berhala besar" mampu mempertahankan dirinya, niscaya ia melakukannya. Tapi 
semua menyaksikan bahwa ia tidak memiliki kemampuan tersebut. Falsafah revolusi 
Islam adalah pengayom dunia; dunia yang tanpa ruh. Apakah dunia tidak pernah 
memiliki pola kepemimpinan seperti ini?
Bisa diyakini, kesimpulan dari perang wacana ini, adalah keruntuhan media 
Barat! Site internet presiden Iran, delegasi Iran di PBB bahkan rektor 
Universitas Columbia, dibanjiri pesan terus-menerus dari masyarakat Amerika dan 
negara lainnya.
Wacana dalam metodologi bangsa Iran, direaksi positif oleh kebanyakan 
masyarakat Amerika. Ini pribadi dan identitas  Islam Iran sebagai bangsa  besar 
dengan presidennya yang memiliki penguasaan mendalam terhadap linguistik 
diplomasi fitri. Lebih dari prestasi yang luar biasa dari sebuah kebersahajaan. 
Keagungan paling baik datang dari pengakuan orang lain!
28 Azar 1386 Hs
lO Dzulhijah 1428 Hq,
Humas Pusat Penelitian dan
Dokumentasi Kepresidenan

Toby Fittivaldy 
Fis2  '94


      

Kirim email ke