Aku duduk terpekur di tengah keramaian dan kemeriahan ini. Tiga minggu
penuh sejak kepergian dinas luar, yang dilanjut dengan kerja kantoran
membuatku kehilangan 4 hari liburan di saat wiken. Ini sangat
melelahkan. Tubuhku mulai tak terbiasa melakukan olah fisik karena
kesibukan yang mulai memadat. Saat aku memakai beskap putih ini pun,
aura ceria yang biasa memancar dari wajah dan gerakku. Ditambah lagi
pemberitaan media yang sangat menguras perhatianku.

Untungnya gelar yang kudapat ini adalah gelar seumur hidup, sebab tidak
ada lomba yang serupa di tahun ini dan tahun selanjutnya (jilid satu
dapat dilihat di http://tiarrahman.multiply.com/journal/item/205
<http://tiarrahman.multiply.com/journal/item/205> ). . Undangan ini pun
ku dapat tidak sengaja. Entah gimana caranya, tidak usahlah kalian ingin
tahu. Kadang aku terlelap dalam terpekur, dan tiba tiba terbangun saat
mendengar satu daerah disebut. Mataku sedang tak bisa diajak kompromi.
Semoga saja dengkurku kalah oleh suara bingar mikrofon dari panggung.

Sekilas aku melihat lenggak-lenggok gadis jelita. Mereka semua cantik,
pintar dan murah senyum. Aku kembali ikut tersenyum bila teringat aku
yang sebelumnya juga harus melalui ritual itu. Saling berganti mereka
berjalan menyusuri panggung. Panggung yang indah, busana yang indah,
tata rambut yang indah, riasan yang indah, aksesori yang indah. Semuanya
indah. Luar biasa. Sampai tiba saat itu. Saat penentuan Miss Indonesia
dari tiga wakil yang tersisa.

Viviane dari Bali, Karenina dari Jakarta dan Puteri dari Sulawesi.
Pertanyaan yang sama untuk mereka. "Sekarang banyak tenaga kerja
Indonesia yang bekerja di luar negeri dipulangkan kembali, sementara
pengangguran di Indonesia semakin bertambah. Jika mereka menjadi
pemerintah, apa yang akan kamu lakukan?" Viviane menjawab pertama, agak
gugup dan tidak menuntaskan jawabannya. Grogi ku kira. Karenina menjawab
dengan lancar dengan bahasa inggris yang fasih hingga akhir. Tepuk
tangan yang meriah dari para hadirin. Aku sendiri bertepuk kecil saja.
Sebab aku duduk agak tersembunyi dan terlalu cepat, sehingga kurang
menangkap apa yang dikatakannya. Padahal waktu promosi daerah dalam
bahasa Indonesia lebih baik Viviane menerangkan bali dibanding Karenina
yang mempromosikan Jakarta. Ketiga Puteri, lancar dalam bahasa
Indonesia.

Memang pertanyaan yang gampang-gampang susah. Aku sendiri bertanya-tanya
dalam hati jawaban apa yang akan kuberikan jika diberikan pertanyaan
itu. Akhirnya aku mendapat jawaban yang pas. "Pertama saya akan
berterima kasih kepada mereka yang sudah menyumbang devisa bagi Negara,
kedua saya akan menanyakan apa yang menjadi sebab mereka dipulangkan
sehingga kita mempunyai solusi yang lebih baik untuk antisipasi masalah
itu. Ketiga jika memang lapangan kerja sudah maksimal dan masih ada
pengangguran, tentu saja iklim investasi di Indonesia sudah sangat baik
karena program sikat habis birokrasi dan premanisme sudah dijalankan
sejak saya memangku jabatan ini, maka saya akan mengirim tenaga
Indonesia bekerja sebagai ekpatriate di LN. Tidak ada TKI yang bertugas
sebagai pramuwisma. Semua harus pulang dan mengurus anak-anaknya hingga
menghasilkan generasi yang bermutu. Jika masih ada yang belum dapat
kerjaan juga, saya mengusulkan agar mereka membuka biro perjalanan
wisata. Baik untuk turis asing yang berlibur ke Indonesia, maupun orang
Indonesia yang akan menghabiskan liburan musim kemarau atau liburan
musim hujan ke luar negeri. Sementara sebagian lagi tentu saja menjadi
guru yang baik, dokter yang bernurani dan tokoh agama yang bersih yang
selalu mendoakan keselamatan dan keberkahan bagi Indonesia tercinta.
Sekian terima kasih!" 

Plok.. plok.. plok.. sudah terbayang lagi tepukan yang meriah
dibandingkan tahun lalu. Tapi apakah waktu 30 detik itu cukup untuk
mengungkapkan semua itu. Kayaknya sih kurang, tapi aku yakin sang MC
terlanjur terpesona dan membiarkanku terus bicara. Sayang gak ada lagi
ya.

Seperti yang kuduga wakil dari Jakarta mendapatkan juaranya. Dan entah
gimana caranya, aku yang harus memberikan mahkotanya. Berjuta fikiran
yang selama ini terpendam merasuk, sebelum akhirnya aku mengambil
mikrofon dari sang MC. "Nona-nona yang cantik rupanya dan semoga cantik
hatinya. Maaf mahkota ini tidak dapat saya berikan kepada sang pemenang
dan akan saya simpan dulu. Sementara hadiah uang boleh kalian ambil
sebab itu hak kalian. Dan saya mohon keikhlasannya untuk tidak mengikuti
miss world tahun ini. Sebab tidak sepatutnya nona yang mewakili
Indonesia, sementara ada wanita di negeri ini yang masih terpasung
haknya. Mungkin banyak yang saya tidak tahu, tapi setidaknya saya
beberapa. TKW dari Indonesia mendapat perlakuan yang tidak layak, saya
sampai bosan mendengarnya. Manohara yang katanya teraniaya oleh
suaminya, saya tidak tahu ini benar atau tidak, tetapi yang jelas ada
banyak kekerasan dalam rumah tangga. Ibu Prita yang dipisahkan dari
keluarganya karena berkeluh kesah tentang pengalamannya. Dan terakhir
aku membaca -- kawanku dan istrinya cemas menanti nasib anaknya yang
baru lahir -- sebab jika tidak membayar 70 juta lebih, maka perawatan
terhadap anaknya tidak akan dilanjutkan. Masih banyak masalah perempuan
Indonesia yang aku tidak ketahui. Untuk itu mahkota ini tidak saya
sematkan ke kepala anda saat ini dan saya mohon dana untuk program
kontes Miss World serta dana penyelenggaraan miss Indonesia tahun
berikutnya dipergunakan untuk membantu wanita Indonesia yang lain
menaikkan taraf hidupnya. Dan mahkota yang sesungguhnya akan saya
sematkan ke hati-hati kalian atas ketulusan dan keikhlasan untuk berbagi
dengan kaum kalian yang nantinya seharusnya kalian wakili dengan penuh
rasa bangga. Percayalah kalian akan menjadi ratu dunia di hati wanita
Indonesia!" aku mengakhiri pidato dadakan dan berjalan menuruni podium
sambil membawa mahkota yang aku sandera.

Tidak ada tepukan dan sorak sorai yang terdengar. Tak juga cemoohan dan
teriakan huu berkepanjangan. Semua diam. Sunyi. Yang kudengar hanya
suara keriuk dari perutku. Dan aku masih duduk di bangku yang sama.
Whats. Acara sudah usai dan aku masih lapar. Lupa sekali tadi, karena
terburu-buru aku jadi lupa mencicipi hidangan acara ini. Sambil merutuk
aku keluar sebelum diusir oleh panitia. Mataku nanar melihat pinggiran
jalan. Akh.. malam ini aku mau makan mie rebus Surabaya. Nah itu dia
warung tendanya. "Mas.. Mie rebus satu plus pake nasi setengah. Yang
pedes ya mas, tapi gak pake lama!"

Tiar Rahman 

Anniversary Homepage: http://www.sulzer.com/175 

Anniversary Games: http://www.experience-sulzer.com


CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

<<inline: AnniversaryLogo_thumb.jpg>>

Kirim email ke