Aku sudah pernah bilang kan di postingan sebelumnya. Kalo lupa ini urutannya, 1. Ronaldo 2. Tukul 3. Budi Anduk (atau kalo mau tahu ceritanya klik http://tiarrahman.multiply.com/journal/item/486
Nah siapakah yang layak menjadi Il phenomenon yang ke-4? Coba tebak. Jika anda menebak Tiar Rahman, jelas salah besar. Gak mungkin lah aku menunjuk diriku sendiri sebagai sang fenomena. So.. kali ini aku lebih memilih: Mbah Surip. Sekadar Tahu Saja ============= Aku tahu pertama kali Mbah Surip yang punya nama asli Urip Aryanto, ketika sedang dinas luar di PLTP Dieng sekitar 19 Desember 2008 16 Februari 2009. Radio lokal yang muncul tenggelam saat keluar masuk dataran tinggi Dieng kadang mempromosikan Mbah Surip yang tidak kalah dengan usia untuk berkarya. Dan mengalunlah lagu "Tak Gendong". Telingaku sih bisa masuk lagu dari genre apa saja. Tapi inspector muda yang sekarang lagi sendiri "Jaka", sering usil minta ganti channel. Aku bilang nikmatin aja dulu. Pak Bekti, menambahkan dia pernah melihat klipnya di tipi swasta nasional. Ah yang bener, masa lagu kayak gini bisa masuk tipi swasta. Apakah penikmat musik Indonesia akan bisa menikmatinya? Aku gak yakin juga. Niat mau nyari CD-nya di pasar wonosobo juga belum kesampaian. Selain jadwal padat, juga jarang ke pasar. Jauh. Males juga pergi ke pasar setelah pulang kerja. Menjelang akhir masa dinas luar di Dieng itu, malah siaran di radio itu menawarkan ring back tone alias nada tunggu alias nada sambung: Tak Gendong untuk diunduh, lengkap dengan operator dan cara mengaktifkannya. Hmmm luar biasa. Ketika dinas luar di ombilin, sempat juga lihat klipnya ini tho, si Mbah Surip itu. Nah saat ini, aku dinas luar di Jambi seorang kawan dari euroasiatic dan operator lontar, memakai nada sambung Tak Gendong. Hmmm.. Mbah Surip sudah sampe hutan Jambi toh? Pernah juga lihat dia wawancara di spacetoon. Ha ha.. orangnya memang ceplasceplos, sederhana, dan gemar ketawa. Kreatif juga ngerjain pewawancaranya malah. Phenomenon? ========== Berita tentang kasus manohara di detik.com, kok ya malah mewawancarai Mbah Surip. Ya jawabannya, Mbah Surip pengen menggendong Manohara lah. Komentar dari pengunjung detik.com pun mencerca sang Mbah. Hi hi.. kalo menurutku sih, orang detik.comnya aja iseng: ngapain kasus manohara ditanya ke beliau. Dan orang yang komen di situ juga B*go: Omongan iseng kok dikomentari dengan senewen. Dan tiba-tiba, tadi saat makan siang 4/7/09, di tipi kok ada berita meninggalnya Mbah Surip. Yang bener. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Padahal dia baru terima royalty dari RBT-nya sekitar 4 milyar lebih (ruarrr biasa). Cepat-cepat deh update status di mp dan juga facebook. Wow.. beberapa orang sudah update terlebih dahulu di dua situs jejaring ini. Di facebook lebih banyak. Ada yang bercanda, ada yang serius. Biasalah. Seorang teman, malah membandingkan kematian Jacko dengan Mbah Surip. Hmm.. untuk kematian Jacko, aku sama sekali gak buat update. Baik di MP maupun facebook. Jacko masih kontroversi menurutku. Sempat tersentuh dengan lagu Allahu Rohman-nya, tapi itupun bukan karya dan suara Jacko. Dan kali ini untuk Mbah Surip aku jelas buat. Aku tahu dia berjuang dari bawah untuk sampai posisi sekarang. Berkarya hingga akhir hayat, aku yakin dia masih punya stock lagu yang ingin dikeluarkan. Dia tetap sederhana dan layak dijadikan panutan. Kreatif menyegarkan di tengah gelombang band-band anak muda. Kembali aku baca detik.com, wow ternyata berita kematian Mbah Surip mampu menggeser berita Jacko di twitter (apaan sih twitter? Asyik ga di sana tuh?), dan melampaui jauh pesohor baik dari politik maupun seniman. Walau mungkin cuma jejaring twitter Indonesia aja, tapi aku terharu. Presiden SBY dan Megawati juga menyampaikan turut belasungkawa. Mbah Surip, you are the phenomenon!! Ikuti Kata Hati =========== Aku jelas engga nyangka siapa sebenarnya Mbah Surip? Pas dengar berita malam ini, ternyata dia itu engineer. Sarjana teknik kimia. Sudah S-2 juga. Yang benerrr? Katanya dia dulu pernah kerja di pertambangan luar negeri. Segala macam tambang. Yang jelas bukan tambang plastik ataupun tambah dadung. Tentu saja, gajinya dollar. (Yang kalo dia bisa kumpulkan, lumayan juga buat modal buat band betulan). Tapi akhirnya dia malah memilih kembali ke Indonesia tercinta. Katanya itu tidak sesuai dengan kata hatinya. Darah seninya mungkin yang memanggilnya pulang. Kembali ke Jakarta, dia luntang-lantung. Menginap di rumah saudara, atau kenalan yang mau menampungnya. Ikut segala macam grup teater. Malah sempat menjadi pengamen juga. Dan entah gimana caranya (aku belum tahu), akhirnya dia masuk dapur rekaman. Dan yang jadi meledak adalah album Tak Gendong ini. Album sebelumnya katanya: Indonesia Joyo Royo. Ada yang punya kasetnya. Jadi inget Gombloh yang selain mencipta lagu Apel, juga "Pelangi Jingga". Dan Mbah Surip meninggal ketika dia sedang ada di puncak ketenaran, yang belum sempat dicicipinya dengan puas. Mau punya helicopter juga belum kesampaian. Tapi aku sempat mendengarkan potongan wawancaranya juga, dia sudah memisahkan hak fakir miskin (zakat) dari rezeki yang diperolehnya. Hmmm nice dan salut. Tapi Allah sudah mempunyai rencana lain untuknya. Selamat jalan Mbah Surip. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Ay lap yu pul. Kata Hati. Apakah Kita Cukup Berani? ============================ Ah kadang, aku merasa ada dunia lain yang memanggilku untuk segera berpindah dari posisi engineer sekarang. Menjadi penulis beneran, punya restoran dan punya klub pingpong Rasa senangnya beda jika aku sudah menyelesaikan satu tulisan atau pun ketika hasil masakanku di makan dengan nikmat oleh keluarga atau orang lain. Apakah benar itu kata hatiku yang harus kuturuti? Bagaimana kata hatimu? Apakah anda cukup berani untuk mengikuti-nya? Have a nice dream, don't forget to catch it after you wake up. Your cute pilot, Tiar Rahman
