*From:* Taufik, Mochammad X
*Sent:* Monday, August 31, 2009 5:39 AM
*Subject:* FW: Re: A MALAYSIAN SAYING

 ---------- Forwarded message ----------
From: *bambang effendy* <[email protected]>
Date: 2009/8/28
Subject: Fwd:  Re: A MALAYSIAN SAYING



 ---------- Forwarded message ----------
From: *djaelani* <[email protected]>
Date: 2009/8/28
Subject:  Re: A MALAYSIAN SAYING

Tulisan mantan KASAU Ceppy Hakim yang bagus, mengenai malaysia.
mdt....-

Pada saat Malaysia/waktu itu namanya Malaya,  "merdeka" pada tanggal 31
Agustus 1957, kita bangsa Indonesia terkaget-kaget karena mereka telah
memilih lagu kebangsaannya  sebuah lagu yang sangat populer dinyanyikan
dibanyak tempat di Indonesia pada masa itu.   Lagu dimaksud adalah sebuah
lagu yang mendekati irama langgam keroncong dengan judul atau terkenal
dengan nama "terang bulan terang dikali".Mencermati syairnya, isinya jauh
sekali dari jargon-jargon kepahlawanan dan patriotisme seperti yang
dibutuhkan dalam sebuah lagu kebangsaan pada umumnya.   Syairnya antara lain
berbunyi : terang bulan terang dikali, buaya timbul disangka mati.   Jangan
percaya mulut lelaki, berani sumpah tetapi takut mati.   Lagu yang sangat
"jenaka".Pemerintah Indonesia saat itu sampai perlu untuk mengumumkan kepada
seluruh rakyat Indonesia untuk tidak lagi menyanyikan lagu itu, karena telah
menjadi lagu
 kebangsaan Negara Tetangga kita Malaysia.   Itulah awal dari Indonesia
"kehilangan" sesuatu pada saat Negara Malaysia berdiri.Minggu ini, Indonesia
dihebohkan lagi dengan munculnya klaim Malaysia atas tari Pendet, setelah
sebelumnya mengklaim angklung, reog ponorogo, batik dan beberapa
lainnya.Pada waktu "lagu terang bulan terang dikali" diambil Malaysia untuk
lagu kebangsaannya, mungkin kita semua tersenyum geli dan kemudian
merelakannya, karena merasa kasihan, untuk lagu kebangsaan saja koq milihnya
lagu itu? Kita pun menghormatinya dan kemudian menghentikan menyanyikan lagu
tersebut. Sirnalah lagu terang bulan terang di kali dari bumi pertiwi.
Tidak demikian yang terjadi berikutnya, yaitu tentang wayang, batik,
angklung, reog dan terakhir tari pendet.   Kita semua "marah".   Pantaskah
kita marah? Pada saat tahun 1950-an dan diawal tahun 1960-an, kita mengenal
yang namanya Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan.   Mungkin karena
 namanya Pendidikan dan kebudayaan, maka masuklah banyak unsur kebudayaan
kedalam program pendidikan disaat kita kala itu.    Di Sekolah Rakyat
istilah yang sekarang dikenal dengan SD dan di SMP, para murid dikenalkan
dengan banyak pelajaran kesenian seperti menyanyi, menari tari daerah ,
menggambar, main angklung dan juga diselenggarakan lomba antar sekolah
secara berkala.   Anak-anak merasa sangat senang mengikuti kegiatan ini.
Beberapa perlombaan nyanyi atau paduan suara sekolah dan juga menyanyi solo
di lombakan dan babak akhirnya dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta yang
terletak di dekat pasar baru.   Demikian pula dengan angklung dan menari.
Disaat yang sama, dikenal pula kelompok paduan suara yang bagus, pimpinan
Gordon Tobing.   Gordon Tobing memainkan gitar akustik dan kelompoknya
menyanyikan lagu-lagu rakyat Indonesia termasuk lagu rasa sayange.   Dalam
beberapa kesempatan upacara kenegaraan dan juga dalam kesempatan menerima
 tamu negara, maka yang selalu muncul adalah, paduan suara Gordon Tobing
dengan lagu-lagu rakyatnya, dan juga tari-tari daerah seperti tari pendet.
Gemanya tersiar keseluruh negeri, antara lain melalui mass media dan juga
RRI.   Dibanyak kesempatan peristiwa besar seperti, Konferensi Asia Afrika,
Asian Games, dan kehadiran tamu negara, maka lagu-lagu rakyat Indonesia,
tarian-tarian daerah Indonesia, angklung, reog dan bahkan kampanye nasional
penggunaan batik, selalu hadir ditengah-tengah kegiatan tersebut.
Kelihatan bahwa Itulah milik kita dan selalu hadir ditengah-tengah kita
dengan penuh kebanggaan, pada waktu itu.   Kelompok paduan suara Gordon
Tobing bahkan pernah melanglang buana sampai ke Eropa membawakan lagu-lagu
sejenis Rasa Sayange.   17 Agustusan, hampir semua sekolah di Jakarta
mengirimkan  murid-muridnya memenuhi halaman Istana Merdeka untuk bernyanyi
lagu-lagu perjuangan.   Bukan hanya sedikit perwakilan saja seperti
 belakangan ini. Sekarang ini, bila melihat bidang pendidikan, anak anak
sekarang ini, kemungkinan besar belum pernah memegang angklung disekolahnya,
apalagi memainkannya.   Perlombaan paduan suara antar sekolah dengan lagu
Indonesia, nyaris tidak pernah diketahui, diselenggarakan atau tidak?
Media televisi, lebih disibukkan dengan berita tawuran dimana-mana, dan
hiburan "infotainment" , sinetron hedonis dan horror, kuis mencari jodoh
serta berbagai jenis kuis berhadiah yang menjurus ke perjudian. Sama sekali
tidak ada kenyamanan, apalagi berharap melihat suguhan reog, permainan
angklung, batik dan lain sebagainya.   Jauh panggang dari api.   Generasi
muda lebih sibuk dengan "valentine day" dan membentuk kelompok "fans" nya
"Manchester United" dimana-mana, dan semua yang serba "western". Malaysia
yang sangat jeli melihat peluang wisata yang dapat dijual dengan barang
budaya , memanfaatkan kondisi ini.   Menyadari bahwa dia tidak memiliki
 apa-apa yang pantas untuk dijual, Malaysia pun kemudian dengan cerdas
mengidentikkan dirinya dengan "Asia",   Malaysia Truly Asia, katanya.   Maka
diambillah dengan sistematis, barang-barang budaya Indonesia yang bernilai
"asia" sangat tinggi yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi oleh si
empunya.    Satu persatu digulirkan dengan cerdas, mulai dari batik, wayang,
rasa sayange dan seterusnya sampai dengan tari pendet.   Seolah dia tahu,
Indonesia memang akan marah, tapi sebentar saja setelah itu lupa, kemudian
mulai lagi dengan lainnya dan seterusnya.   Toh, pikirnya, sekali lagi sang
empunya sudah tidak berselera lagi untuk menggunakannya. Andaikata terpaksa
kemudian menghentikannya dan minta maaf, tidak jadi mengapa, karena Malaysia
nya sudah terlanjur populer sebagai "truly asia" di panggung dunia.Nah,
pantaskah kita kemudian marah ?   Marah, berdasarkan pengalaman, sama sekali
tidak menghasilkan apa-apa. Introspeksi diri, mungkin
 akan lebih berguna bagi kita semua.   Justru, mungkin kita perlu
berterimakasih kepada Malaysia yang telah mengingatkan kembali akan karya
seni Indonesia yang sangat tinggi nilainya itu dan tengah kita lupakan
bersama.   Kearifan berfikir, dibutuhkan sebelum kita mengambil keputusan
untuk melangkah.   Kita seolah tidak menyadari, karya seni yang kita miliki
itu ternyata bernilai tinggi dan dapat dijual di pasar global, sampai
Malaysia yang harus bersusah payah membuktikannya terlebih dahulu. Minggu
lalu 75 pelajar kita berhasil menyabet 73 medali dalam International
Mathematis Contest di Singapura. Tahun 2007 lalu saja, 69 medali emas plus
sekian perak serta perunggu diraih anak-anak kita dari berbagai ajang lomba
internasional, tidak ada "gema" nya sama sekali ! Mungkin nanti, disatu saat
, setelah mereka muncul sebagai Tenaga Ahli di Malaysia, kita baru akan
kebakaran Jenggot ! Sungguh menyedihkan !

Jakarta 27 Agustus 2009
Chappy Hakim

Kirim email ke