Berbagi, Bayar Hutang Masa Lalu


Lagi bandel-bandelnya, bapak saya menutup mata untuk selama-selamanya. Duh,
dunia rasanya buram. Masa depan terlihat suram. Yang ada hanya temaram.
Terbayang hal yang kelam. Sekolah yang akan terbenam. Kondisi ekonomi yang
tenggelam. Pokoknya satu kata : MADESU alias masa depan suram.
<http://yayasanmandirisejahtera.blogspot.com/>
Namun, semua ketakutan itu tidak terbukti. Keluarga kami terus berjalan.
Ibu, saya memanggilnya Enya. Konsisten lho sampai sekarang. Jualan nasi
uduk. Saya biasanya bangun jam 2. bantuin goreng bakwan dan kue dadar. Saya
ingat betul duduk di sebelah kompor kaleng.  Dengan api yang kadang biru
kadang merah. Menyendok adonan bakwa yang sudah disiapkan Enya. Selesai
goreng bakwan. Kini goreng kue dadar. Tugas saya membuat kulit dadar.
Caranya sederhana. Cukup siapkan pengorengan dengan minyak yang dioleskan
saja. terus, adonan kulitdadar disebar merata. Sebelum matang betul,
diangkat dan letakan di wadah lain.

Habis gitu, masukan isinya. Berupa campuran kelapa dan gula merah. Lalu
lipat. Seperti membungkus kado.  Lalu letakan terbalik. Jadilah kue dadar.

Setelah kematian Baba, begitulah kehidupan kami. Untunglah rumah kami besar.
Sehingga dapat dibelah dua. Sebagian dibuat jadi kontrakan. Lumayan dapat
enam pintu. Buat pemasukan bulanan. Ditambah pensiunan Bapak. Jadilah, kami
berempat menjalani kehidupan.

Alhamdulillahnya....situasi sosial di kampung cukup "menguntungkan." Di sana
masih banyak orang yang berbagi. Pak Jajang, ketua RT kami membiayai adik
kami yang bungsu. Dan, yang tidak terlupakan adalah ketika adik-adik saya
dipanggil ke panggung santunan anak yatim.  Diberikan amplof. Dan,
.....diusap kepalanya. Anehnya saya selalu tidak kuat bila melihat
momen-momen ini. Bagaimana pun adik saya yang sudah smp, agak gimana
gitu...maklumlah sudah abg. udah kenal cewek. Malu dong ah...
tapi mau dikata apa, disitulah kesempatan ia dapat uang agak lebih banyak
dari biasanya.

Sekali lagi berbagi menunjukan keajaibannya. Kami menyadari berbagi yang
menjadi mekanisme sosial melalui zakat fitrah, sodaqah dan infaq membentuk
pribadi yang hendak berbalas budi. setiap momen itu hadir, saya selalu
bersumpah dalam hati. Suatu ketika saya akan membalas budi dengan menjadi
penyantun anak-anak yatim dan dhuafa. Walau pun sebagian besar bukan dari
kocek saya sendiri. tapi, lebih banyak dari teman-teman yang namanya ogah
disebut. Alhamdulilah, banyak teman yang bersedia mentransfer sejumlah uang
ke rekening saya. Dengan modal kepercayaan kepada saya  pribadi. Tanpa
menuntut untuk meminta pertanggungjawaban atau apa pun.

Mulai dari 200 ribu sebulan. Saya langsung kirim. Lalu meningkat dan
meningkat. Hingga pada titik yang saya nilai saya pribadi tidak dapat
menghandle-nya. Maka, saya pun  bicara dengan Pak Sanusi Nasihun tentang
ini. Kontan saja ia meyambut. Sudah diprofesional saja.  Gunakan saja
yayasan saya : Yayasan Mandiri Sejahtera.  Lalu, rekrut satu orang untuk
asisten.

Kini mudah-mudahan secara rutin akan ada laporan keuangannya di blog
yayasanmandirisejahtera.blogspot.com. Sehingga ada transparansi dan
akuntabilitasnya.

Bismillah, mohon doa restu mudah-mudahan saya bisa membayar hutang masa lalu
dengan berbagi. Namun, saya tidak akan meminta anak-anak dhuafa dan yatim
itu naek ke panggung dan diusap kepalanya.

Mohon doa...
[komarudin ibnu mikam]

http://yayasanmandirisejahtera.blogspot.com/
-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)

Kirim email ke