Benerkan... gw bilang juga apa...!!! serumpun...
banyak orang indonesia yang ngadu nasib ke malay.. terus kawin sama orang 
sono...
eh jadi orang dech... dan udah pasti mereka bawa budaya masing2 dari sini.. 
jawa, sumatra, sulawesi, kalimantan de el el ke sono.. yang mereka masih punya 
rasa memiliki hehehe..

Waspadalah... Waspadalah.... devide et impera...

Toby Fittivaldy 
Fis2  '94   


--- On Tue, 9/29/09, Morry Infra <[email protected]> wrote:

From: Morry Infra <[email protected]>
Subject: [sma1bks] Fwd: Sekolah Laskar Pelangi di Klang - Malaysia
To: "Dapu" <[email protected]>, "i-siyasah" <[email protected]>
Date: Tuesday, September 29, 2009, 9:12 AM






 




    
                  Boro2 mau perang ah....
Kalau dah kenal... mereka akan ngaku keturunan Indonesia juga....
 
Salam,
Morry Infra


---------- Forwarded message ----------
From: Edison Sirodj <esir...@yahoo. com>

Date: 2009/9/29







DUTA BESAR DAI BAKHTIAR BUKA SEKOLAH LASKAR PELANGI

Akhmad samiri 
Kuala Lumpur,11 Agusutus 2009 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh,Tan Sri 
Dai Bakhtiar secara resmi membuka 'Sekolah Laskar Pelangi'di Klang. Ini 
merupakan hadiah kemerdekaan bagi rakyat Indonesia di klang dan sekitarnya. 
Sekolah dengan mimpi-mimpi besar seperti sekolahnya Andrea Hirata pada "Laskar 
Pelangi".


Siswa sekolah ini adalah anak-anak Indonesia yang tak mendapatkan kebenaran 
mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah fomal di Malaysia. Sekolah dengan 
jumlah 41 siswa ini belum mengenal tingkatan kelas apalagi rapor. Usia mereka 
antara 6-13 tahun. Pelajaran yang diajarkan Agama,mengira (Matematika) ,dan 
Bahasa Malayu. 
Sekolah unik ini secara resmi akan ditangani KBRI dengan pengawasan langsung 
Atase Pendidikan Nasional dan dikelola oleh mitra kerja Sekolah Indonesia Kuala 
Lumpur (SIK). 
Duta Besar Da'i Bakhtiar berjanji akan mengirim guru-guru dari SIK dan 
buku-buku pelajaran sesuai kurikulum pendidikan Indonesia. Bahkan beliau juga 
meminta tolong untuk menelusuri, mendata berapa banyak anak Indonesia usia 
sekolah yang belum tersentuh pendidikan. Mereka harus sekolah. KBRI akan 
memberikan akses pendidikan mereka. 
Duta besar juga mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Engku Raja 
Kamaruddin dan seluruh pengurus Persatuan Penaja Leluhur Melayu Bugis Selangor 
atas jasa-jasanya dalam memperhatikan nasib anak-anak Indonesia di Malaysia. 
" Orang Bugis adalah orang hebat. Di mana ada pelabuhan di situ ada orang 
Bugis." Puji Duta Besar disambut tepuk tangan warga Makassar dan rombongan tamu 
dari KBRI. 
Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Malysia juga teringat kata-kata bertuah 
dari Perdan Menteri M.Najib saat menemaninya pulang kampung ke Makassar, 
katanya," Saya datang ke Goa bukan hendak merampas Goa tapi saya datang untuk 
melaporkan saya adalah keturunan Goa yang berhasil jadi Perdana Menteri 
Malaysia." Berbicara tentang hubungan Indonesia - Malaysia adalah cerita tanpa 
akhir. Hubungan darah, hubungan kekerabatan sejak zaman dulU tak bisa 
dipungkiri. Dulu kita memang satu negara. Malaysia rasanya seperti tanah airnya 
sendiri. 
Serah terima sekolah anak-anak Indonesia di Klang dimulai dengan ikrar dari 
Persatuan Penaja Leluhur Melayu Bugis Selangor yang disampaikan oleh 
presidennya, Engku Raja Kamaruddin bin Raja Abdul Wahab. Engku Raja memulai 
ucapannya dengan mengutip Pasal XI dan XII Gurindam XII karya Sastrawan Besar 
Raja Ali Haji. 
" Hendaklah berjasa/kepada yang sebangsa/Hendaklah jadi kepala/buang perangai 
yang cela/Hendaklah memegang amanat/buanglah khianat/Hendak marah/dahulukan 
hajat/Hendak dimulai/jangan melalui/Hendak ramai/murahkan perangai.// Pasal 
yang kedua belas:/Raja muafakat dengan menteri/seperti kebun berpagarkan 
duri/Betul hati kepada raja/tanda jadi sebarang kerja/Hukum adil atas 
rakyat/tanda raja beroleh anayat/Kasihan orang yang berilmu/tanda rahmat atas 
dirimu/Hormat akan orang yang pandai/tanda mengenal kasa dan cindai/Ingatkan 
dirinya mati/itulah asal berbuat bakti/Akhirat itu terlalu nyata/kepada hati 
yang tidak buta//. 
Harapan masyarakat Klang, anak-anak Indonesia bisa sekolah, bisa mendapat rapor 
atau ijazah dan bisa meneruskan pendidikan baik di Malaysia atau sewaktu pulang 
ke Indonesia. 
" Sekolah ini telah berdiri 3 tahun yang lalu. Jumlah murid tidak tentu. Untuk 
berangkat ke sekolah tidak resmi ini masih banyak yang takut di perjalanan. 
Pernah sampai 60 anak, pernah juga hanya 20 murid, jadi tidak menentu," Puan 
Nina,istri Engku Raja Kamarudin, merangkap sebagai kepala sekolah. 
Duta Besar di akhir acara menyerahkan kenang-kenangan untuk seluruh siswa dan 
pejabat setempat. Turut hadir bersama Duta besar antara lain Ibu Duta, Ibu 
Tatang,Bapak Teguh, Bapak Pramono, Bapak said, Bapak Said. 























 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke