Bagaimana tanggapan rekan-rekan sekalian?
Opini ini menarik, walau ane sejujurnya tetap mendukung sistem ranking, untuk 
benchmarking.

Wassalam,



Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=19589



Sistem Ranking Ciptakan Generasi Pintar yang Antikritik


Kamis, 24 September 2009 12:23

Brisbane, NU Online

Pendidikan di Indonesia yang masih melanggengkan sistem ranking di
kelas tidak hanya menjadikan para pelajar yang "masuk ranking" tumbuh
menjadi manusia yang merasa dirinya pintar, egois, dan tidak bisa
menerima kritik, kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.



"Di Indonesia anak-anak pintar diberi ranking. Akibatnya anak-anak
pintar di Indonesia menjadi sangat tidak menarik," katanya pada acara
ramah tamah dan dialog dengan puluhan mahasiswa dan warga masyarakat
Indonesia di kampus Universitas Queensland (UQ), St.Lucia, belum lama
ini.



Akibat sistem ranking di kelas sekolah-sekolah Indonesia itu, para
siswa berkemampuan biasa merasakan dirinya "loser" (pecundang) dan
kondisi psikologis tersebut meruntuhkan rasa percaya diri yang sangat
penting, katanya.



Produk sistem pendidikan nasional yang menghasilkan anak-anak pintar
namun tidak bisa menerima kritik itu telah dirasakan dampaknya oleh
sejumlah lembaga pemerintah dan non-pemerintah.



Sebagai contoh, Sofyan Djalil menyebut pengakuan sejumlah diplomat
senior Departemen Luar Negeri RI tentang karakter sejumlah diplomat
muda yang sekalipun pintar namun "sangat egois" dan "tidak bisa
dikritik".



Di mata Sofyan Djalil, kekeliruan lain dari sistem pendidikan di
Indonesia selama ini adalah tidak berkembangnya kreativitas anak didik.



Dalam bagian lain ceramahnya, anggota Kabinet Indonesia Bersatu
kelahiran Aceh 23 September 1953 ini juga mengeritisi pemberian dana
Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang disebutnya sebagai "kebijakan yang
salah" karena BOS diberikan ke setiap siswa tanpa kecuali.



Menurut menteri yang masih aktif mengajar di Universitas Indonesia dan
beberapa perguruan tinggi terkemuka lainnya ini, BOS seharusnya
diperlakukan sebagai "selective subsidy" (subsidi terpilih) karena
dengan adanya BOS, banyak orang tua murid tidak lagi merasa perlu
membayar biaya pendidikan.



Akibatnya kemampuan sekolah untuk membayar gaji para guru pun
berkurang. "BOS lebih banyak merusak. Sistem sekolah gratis di
daerah-daerah itu salah," katanya seperti dilansir kantor berita Antara.



Doktor lulusan Sekolah Hukum dan Diplomasi Fletcher Universitas Tufts
Amerika Serikat itu juga menggarisbawahi fakta tentang kemampuan
berbahasa Inggris banyak lulusan yang diukur dengan standar TOEFL (Test
of English as a Foreign Language) sebagai kendala para lulusan untuk
mendapatkan tawaran beasiswa studi ke luar negeri.



"TOEFL tidak siap. Bahasa jadi kendala," kata mantan menteri Kominfo
ini saat menjelaskan kendala umum bagi banyak pelamar program beasiswa
studi ke luar negeri.



Sofyan Djalil mengatakan, kemampuan berbahasa Inggris itu sepatutnya
sudah dibenahi sejak sekolah lanjutan atas. Sofyan Djalil dan istri,
Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc, berada di Brisbane untuk mengunjungi
anak mereka yang kuliah di UQ.



Di sela kunjungan pribadinya itu, Sofyan Djalil memenuhi undangan
Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ (UQISA), Perhimpunan Masyarakat
Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia
di Australia (PPIA) Queensland untuk bertatap muka dan berdialog dengan
kalangan mahasiswa dan warga. (dar)






      

Kirim email ke