Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



--- In [email protected], Kuntet Dilaga <d_kun...@...>
wrote:

KERIS YANG HILANG
Cerpen oleh : MK Dilaga

Keris
itu selalu menghiasi rumah kami, entah sudah sejak kapan keris itu
disana, tergantung ditembok ruang tamu dan merupakan warisan dari nenek
moyang kami.

Kadang aku selalu membayangkan bahwa keris tersebut
dulu telah atau mungkin sering menenggak darah, itulah sebenarnya yang
akan membuat sebuah pusaka terasa memiliki aura kemagisan, semakin ia
digunakan semakin hidup pula kekuatannya. Bukankah keris memang
difungsikan untuk itu, sebagai senjata tikam atau tusuk dan tak mungkin
digunakan untuk mengiris bawang atau mengupas kulit apel. Tapi selama
dirumah kami keris itu selalu menggantung di tembok seolah menjadi
bagian dari hari-hari kami, seolah sedang mengawasi keseharian kami.

Keluargaku
adalah termasuk keluarga yang taat beragama, tapi entah untuk soal-soal
mistikpun seolah cukup melekat, mungkin itulah kami sebagai orang jawa,
yang selalu menjunjung kejawaannya, sehingga menjadikan ajaran agama
dan mistik adalah seolah berdampingan.

Pada hari ini, keluarga
kami dikejutkan oleh hilangnya keris yang selama ini menemani keluarga
kami. Seribu pertanyaan seolah menyeruak didalam hati kami sekeluarga.

“
Mungkin karena kita tak lagi menjamasnya hingga kyai tak betah dirumah
kita makanya dia pergi. Kalau ada yang mengambilnya itu tak mungkin,
tentu kyai akan datang dan memberitahukannya. ” Kata bapakku.

Kyai
adalah sebutan untuk keris jawa. Seperti manusia ternyata kerispun
mempunyai nama atau julukan seperti Kyai Brojol, Kyai Bandaspati, Kyai
Panembahan Senopati dan lain sebagainya sesuai dengan fungsi dan khodam
yang menempati keris tersebut. Entah dari mana istilah khodam ini mulai
dipakai yang aku tahu khodam berasal dari bahasa arab yang artinya
pembantu, pendamping atau bahasa kerennya kacung. Tapi ternyata di Jawa
ini khodam atau jin khodam ternyata lebih di anggap tuan dari pada
pembantu, bahkan ada yang menganggapnya sebagai Tuhan. Ah, sesuatu yang
sudah diluar nalar.

Sehari sebelumnya sebelum kejadian itu,
kulihat ada pedagang ubi di depan rumah. Pedagang ubi di daerah kami
itu biasanya menjual ubinya  dengan cara ditukarkan atau dibarter
dengan besi ataupun barang-barang plastik yang bisa didaur ulang.

Akupun
berinisiatif untuk menukarkan keris itu dengan ubi tersebut Setelah
melalui penawaran yang cukup singkat, Keris itu hanya bisa ditukarkan
dengan satu kilo ubi.

“Ternyata Tuhan  hanya seharga sekilo
ubi.” gumamku sebelum kami sekeluarga menyantap ubi goreng tadi
malam
di temani sepoci kopi hangat.





[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke