http://groups.yahoo.com/group/rumahilmu/message/4504

Teknologi, Mata Pedang Keummatan
Oleh : Reza Ervani

Bismilahirrahmanirrahiim

Jika kita menyebut teknologi, mungkin yang langsung terbayang adalah
sesosok robot canggih, senjata multi guna, layar-layar komputer dan
hal-hal yang berkesan futuristik lainnya.

Tidak salah memang, karena memang itulah mungkin bentukan alam khayal
kita tentang teknologi oleh film-film hollywood. Makanya jangan heran,
jika teknologi pertanian dan kelautan, laboratorium botani, penangkaran
fauna tropis tidaklah pernah singgah di benak anak muda yang lahir di
negeri zamrud khatulistiwa.

Sains yang lahir dari perenungan mendalam tentang penciptaan langit dan
bumi. "yatafakaruna fii khalqi samaawati wal ardh", seharusnya menjadi
buah kemanfaatan di tangan seorang mu'min sejati. "Robbana maa khalaqta
hadza batillan". Kemanfaatan itulah yang penulis maknai dengan
teknologi.

Jadi, teknologi yang dimaksud bukanlah semata-mata futuristik dan bisa
menghancurkan manusia dan kemanusiaannya, seperti yang diperagakan dalam
peluru, rudal dan pemusnah massa yang angkuh. Teknologi yang dimaksud
adalah teknologi yang mengantarkan manusia kepada sujud kehambaan.
Karena di belakang ayat itu ada sambungan penutupnya, yakni "Subhanaka,
faqiina adzabannar" – Maha Suci Engkau, jauhkan kami dari siksa
neraka.

Redefinisi teknologi diatas itulah yang menjadi pondasi cita-cita
pendirian Techno Pesantren Rumah Ilmu Indonesia. Bahwa apa yang kita
bangun bukanlah semata-mata "proyek euforia", sebagaimana menjamurnya
puluhan perguruan tinggi berlabel "teknologi informasi", hanya karena
komputasi dan informatika seolah-olah merupakan mainan baru yang
menjanjikan uang di pasaran. Sebuah siklus yang seakan luput dari
pandangan mata, saat beberapa belas tahun yang lalu, elektronika dan
mekanika menjadi favorit anak muda karena dianggap mampu mengantar
mereka ke jenjang strata sosial yang penuh bunga dan rupiah.

Tidak bukan itu ... Sama sekali bukan itu yang sedang coba kita bangun.

Sifat kehambaan yang menyelimuti penguasaan teknologi, seharusnya tak
boleh membuat hutan menjadi gundul, bukit menjadi rata atau bahkan
lautan menjadi kusam.

Prosesor tercepat seharusnya membantu kita memahami bahwa ada pola indah
di balik matematika alam. Sebuah sunatullah yang tersusun rapi, bukan
tanpa skenario.

Mikroskop elektron seharusnya mengantarkan kita kepada kebesaran yang
tersimpan di balik keajaiban makhluk-makhluk di atas muka bumi.

Telah jelas ayat itu : Sanuurihim ayatinaa fil afaaqi wa fii anfusihim 
(Fushshilat ayat 53) – Kesanalah kita bermuara ... tidaklah terpisah
antara pengetahuan dan penghambaan, sungguh terpaut erat teknologi dan
keberkahan ummat.


Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang
yang yakin.
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa
yang dijanjikan kepadamu
Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah
benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.

(Al Quran Al Kariim Surah Adz Dzariyat ayat 20 – 23)

Allahu 'Alam

Info wakaf pembebasan tanah di Cianjur Selatan untuk Pendirian Techno
Pesantren Rumah Ilmu Indonesia :
http://www.rumahilmuindonesia.or.id
<http://www.rumahilmuindonesia.or.id/>
http://www.facebook.com/note.php?note_id=275004495724
<http://www.facebook.com/note.php?note_id=275004495724>
http://www.facebook.com/note.php?note_id=275067365724
<http://www.facebook.com/note.php?note_id=275067365724>

Foto-foto Tanah :
http://www.facebook.com/album.php?aid=116408&id=626680734
<http://www.facebook.com/album.php?aid=116408&id=626680734>

Kirim email ke