---------- Forwarded message ----------
From: Abdul.Salam <[email protected]>
Date: 2009/11/20
Subject: Melampaui Diri Sendiri


 Tulisan lama tapi masih tetap aktual, buat baca-baca di akhir pekan di
bulan Dzulhijjah

AS

Republika, 27 Oktober 2004

Melampaui Diri Sendiri
Arvan Pradiansyah

Ini sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang bijak. Suatu malam,
seorang laki-laki datang ke rumahnya dan berkata, ''Ada sebuah keluarga
dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan.'' Mendengar hal itu
bergegaslah orang bijak itu pergi membawa makanan untuk mereka.

Ketika tiba di sana ia melihat wajah anak-anak itu begitu menderita karena
kelaparan. Tak ada kesedihan ataupun kepedihan di wajah mereka, hanya derita
yang dalam karena menahan lapar.

Orang bijak itu memberikan nasi yang dibawanya pada sang ibu. Ibu itu lantas
membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu ke luar membawa setengahnya.
Ketika ia kembali, orang bijak itu bertanya, ''Kau pergi kemana?'' Ibu itu
menjawab, ''Ke tetangga-tetanggaku . Mereka juga lapar.''

Orang bijak itu tercengang. Ia tidak heran kalau si ibu membagi nasi itu
dengan tetangga-tetangganya, sebab ia tahu orang miskin biasanya pemurah.
Yang ia herankan adalah karena si ibu tahu bahwa mereka lapar. Biasanya
kalau kita sedang menderita, kita begitu terfokus pada diri sendiri,
sehingga tak punya waktu untuk memikirkan orang lain.

Si ibu dalam cerita di atas adalah contoh orang yang telah dapat melampaui
dirinya sendiri. Ia dapat melepaskan keterikatannya pada kebutuhan fisik dan
secara bersamaan memenuhi kebutuhan spiritualnya yaitu untuk berbagi dengan
orang lain. Kualitas semacam ini tentu tak dapat diraih dalam waktu singkat.
Ini memerlukan proses pergulatan batin yang cukup panjang.

Kehidupan manusia memang senantiasa menjadi tempat pergulatan dua
kepentingan utama: fisik dan spiritual. Kepentingan fisik adalah hal-hal
yang kita butuhkan untuk bisa hidup di masa sekarang, seperti sandang,
pangan dan papan. Ini kebutuhan jangka pendek kita. Sementara, kepentingan
spiritual adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk hidup di masa sekarang dan
masa yang akan datang. Ini adalah kebutuhan jangka pendek sekaligus jangka
panjang.

Pemenuhan kedua macam kebutuhan ini akan menghasilkan kualitas hidup yang
tinggi. Sayang, banyak orang yang tak menyadari hal ini. Mereka menghabiskan
hidup mereka hanya untuk mengumpulkan harta benda. Untuk itu mereka juga tak
segan-segan menggunakan cara yang buruk: menciptakan kebijakan yang
menguntungkan diri sendiri, menguras uang rakyat, mencuri uang perusahaan,
maupun menciptakan konspirasi yang merugikan orang banyak.

Kalau kita renungkan secara mendalam, semua kejahatan yang ada di dunia ini
berasal dari satu kata: keserakahan. Dan, akar keserakahan adalah pada cara
kita memandang hidup ini. Selama kita melihat diri kita semata-mata makhluk
fisik belaka, selama itu pula kita tak dapat membendung keinginan kita untuk
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Betapa banyaknya dalam kehidupan
sehari-hari kita melihat orang yangberpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi
memiliki harta yang luar biasa banyaknya.

Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk merasionalkan hal itu.
Pertama, semua orang yang mendapat kesempatan pasti akan melakukannya.
Kedua, penghasilan yang saya dapatkan terlalu kecil dan tidak seimbang
dengan pengorbanan yang saya berikan. Ketiga, toh kekayaan yang saya
dapatkan tidak saya nikmati sendiri tetapi saya gunakan untuk membantu anak
yatim, membiayai orang tua dan saudara yang sedang sakit, membangun sekolah,
dan sebagainya. Dengan berbagai alasan tersebut kita mendapatkan
''ketenangan sementara'' karena seolah-olah perbuatan yang kita lakukan
telah berubah menjadi legal, rasional atau paling tidak dapat dimaklumi.

Namun, ketenangan semacam ini tidaklah langgeng. Pasti ada sesuatu dalam
diri kita yang kembali mengusik kita, membuat kita resah dan gelisah.
Perhatikanlah orang-orang yang hidup dengan cara ini. Mereka sangat rentan
terhadap perubahan yang sekecil apapun. Mereka sangat jauh dari ketentraman
yang sejati. Betapapun banyaknya harta yang mereka kumpulkan tak akan pernah
melahirkan perasaan cukup dan puas. Sebuah pepatah mengatakan, ''The world
is enough for everybody, but not enough for one greedy.'' Apa yang
disediakan oleh dunia ini sebetulnya cukup untuk semua orang, tetapi tidak
akan cukup untuk seorang yang rakus.

Sebuah perubahan dramatis akan terjadi begitu kita sadar bahwa kita bukanlah
makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Kita menjadi makhluk spiritual untuk
selama-lamanya. Sebelum muncul ke dunia, kita adalah makhluk spiritual,
ketika hidup sekarang kita juga makhluk spiritual, dan ketika kita meninggal
kita tetap menjadi makhluk spiritual. Kita hanya menjadi makhluk fisik di
dunia ini saja.

Salah satu cara paling efektif untuk menyadari hal itu adalah dengan
berpuasa. Dengan puasa kita akan sadar bahwa kebutuhan (ini berbeda dengan
keinginan) kita sebetulnya sangatlah sedikit. Berpuasa juga akan menyadarkan
kita bahwa dengan mengurangi kenikmatan fisik kita akan mendapatkan
kenikmatan spiritual yang luar biasa. Dengan berpuasa kita keluar melampaui
''diri rendah'' kita menuju Diri kita yang lebih tinggi. Dengan puasa kita
lepaskan keterikatan kita pada gravitasi bumi. Kita bergerak melesat
mengikuti gravitasi langit.

direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) dan
pengarang buku Life is Beautiful e-mail: kepemimpinan_ pro...@yahoo.
com<kepemimpinan_probis%40yahoo.com>
,
[email protected]. id <arvan%40ilm.co.id> faksimile: 021-7983623

Kirim email ke