bisakan kita seperti dia???



________________________________
From: ahmad sutikno <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, December 30, 2009 8:59:48 AM
Subject: Re: [sma1bks] HARTA KITA YANG SEBENARNYA

  
NICE....


2009/12/30 Erwin <yudhaer...@yahoo. com>

Hiks....hiks. ...hiks.. ...
>
>Sent from BlackBecak®
>
>
>-----Original Message-----
>From: Linda Susanti <linda_susanti@ sadikungroup. com>
>Date: Wed, 30 Dec 2009 08:23:57
>To: ariani hidayah<ari_chemist@ yahoo.com>; ARIAS TANTI 
>HAPSARI<ariasta...@yahoo. com>; arie_lazuardi<arie_lazuardi@ sadikungroup. 
>com>; sma1...@yahoogroups .com<sma1...@yahoogroups .com>; milis 
>PJR<obrolan_warga_ p...@googlegroups .com>
>>Subject: [sma1bks] HARTA KITA YANG SEBENARNYA
>
>Dari millis tetangga, semoga bermanfaat
>
>•Linda•
>
>HARTA KITA YANG SEBENARNYA
>
>Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
>
>Kita sering salah menyikapi HARTA KITA YANG SEBENARNYA milik kita, banyak 
>orang menumpuk hartanya di bank, investasi saham, membeli tanah, rumah, mobil 
>dan lains ebagainya.
>>Apakah benar itu milik kita yang sebenarnya?? ?
>
>Untuk menjawabnya marilah kita belajar dengan kisah Ibu Ella yang sangat 
>sederhana ini:
>
>Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya mengumpullkan sampah plastic dari 
>kemasan. Cuma untuk memperolehnya, dia harus memungutnya di sungai. wanita 
>paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya itu 
>berumur 54 tahun, inilah petikan wawancara tim Uang Kaget RCTI dengan Bu Ela
>
>“Assalamu’alaikum…”
>“Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela..
>“Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. 
>Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan mengunakan 
>‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’.
>>“Oh.. boleh, silahkan masuk.”
>
>Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa 
>lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka.
>“Silahkan masuk…”
>Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah 
>reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya Ibu 
>Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya 
>ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya.
>
>“Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela.
>Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan 
>kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panci yang diisi air. Ibu Ela harus 
>memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.
>
>“Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak.
>
>Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’.
>Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan 
>menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain 
>mencari plastic,
>>“Mengaji…” katanya
>
>“Hari apa aja Bu…?” Tanya saya
>
>“Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu 
>adalah hari untuk menemani Ibunya yang dirawat di rumahnya.
>
>Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam 
>pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, 
>secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam 
>plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela.
>
>Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.
>
>Saya tanya lagi,
>“Paling jauh pengajiannya dimana Bu?”
>“Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; 
>ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela.
>
>“Kesana naik mobil dong..?” tanya saya.
>“Saya jalan kaki” kata Ibu Ela
>“Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran.
>
>Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu 
>untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang 
>Rp 7.000 sehari.
>
>“Iya.. mas, saya jalan kaki dari sini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat 
>sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 
>2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke 
>ustadz…” Ibu Ela menjelaskan.
>
>“Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan Ibu 
>ngga punya uang, gumam saya dalam hati.
>
>“Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, 
>datar.
>
>“Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong.
>
>“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di 
>akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki 
>orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” 
>Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan 
>keluarga yang hebat.
>
>Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak!
>Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding!
>
>Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi 
>yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.
>
>Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk 
>disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan 
>menjadi haknya di akherat kelak?
>
>‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit 
>dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, 
>mungkin minggu depan.
>
>Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita 
>hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik 
>kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk 
>mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.
>
>Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan tim 
>kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi 
>tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu 
>membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money)
>
>Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah 
>memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya 
>salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, 
>Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya 
>berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya.
>
>Ibu Ela mendapatkan ganti dari Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta 
>dari uang kaget. Entah berapa yang Allah akan ganti di akherat kelak.
>
>Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah 
>apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak...
>
>Sahabat Hikmah...
>Hidup ini fana...sementara. ..
>Kita diberi waktu di dunia ini untuk menyiapkan KEHHIDUPAN YANG SEBENARNYA di 
>akhirat.
>Barang siapa yang mengumpulkan hartanya hanya untuk KEDUNIAAN maka itu semua 
>PASTI akan DITINGGALKAN. ..
>>Tetapi barang siap mengumpulkan hartanya untuk NEGERI AKHIRAT, maka kita 
>>PASTI akan MENDATANGINYA. ...
>Sudahkah kita menyiapkan HARTA KITA YANG SEBENARNYA di akherat?
>
>"Dan carilah dari APA SAJA yang telah Allah BERIKAN KEPADAMU untuk mencapai 
>KEBAHAGIAAN di NEGERI AKHIRAT, dan JANGANLAH kamu MELUPAKAN NASIBMU di DUNIA. 
>Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan 
>janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak 
>menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS 28:77)
>
>Bahkan apa yang kita infakkan akan dilipatgandakan oleh Allah ta'ala....
>"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan 
>hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 
>tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan 
>(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) 
>lagi Maha Mengetahui. " (QS. 2:261)
>
>Bayangkan dibalas dengan 700 kali lipat !!
>
>Rumus matematika mengatakan 100 – 10 = 90, tetapi rumus sedekah yang dibuat 
>oleh Allah ta'ala adalah: 100-90 = 7090 dengan perhitungan:
>
>100 kita dapat rizki dari Allah, 10 disedekahkan/ diinfakkan maka
>>10 dilipat gandakan 700 x menjadi = 7000
>Sehingga 100-10 = 90 + (10x700)= 7090
>
>Ada yang bertanya, jadi kalau saya sedekahkan Rp10.000, maka saya akan 
>mendapatkan kembali Rp.7000.000 ??? Semudah itu???
>Ya ! Silahkan buktikan wahai sahabatku.
>
>Yang perlu diingat adalah : IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS..
>Cuma kadang kita menhgetahui RIZKI hanya diukur dengan uang...?
>Tidak wahai sahabatku... .
>Kadang matematika Tuhan ini tidak kasat mata. Tidak melulu uang diganti dengan 
>uang. Tetapi Allah Yang Maha Suci dengan Kesempurnaan- Nya juga Maha 
>Mengetahui mana yang terbaik dan apa yang sedang dibutuhkan oleh hamba-Nya 
>saat itu. Bisa jadi Diganti dengan keselamatan dijalan, bertahun-tahun gak 
>pernah sakit, mudah cari kerja, kemudahan berusaha, kebahagiaan keluarga, anak 
>yang berbakti, ditemukan jodohnya dan lain sebagainya.
>
>Semoga kita senantiasa IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS
>
>
>
>------------ --------- --------- ------
>
>------------ --------- --------- --------- --------- --
>Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
>menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
>
>Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
>kirim email ke sma1bks-unsubscribe @yahoogroups. com
>
>Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
>>sma1bks-subscribe@ yahoogroups. comYahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>------------ --------- --------- ------
>
>------------ --------- --------- --------- --------- --
>Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
>>menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
>
>Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
>kirim email ke sma1bks-unsubscribe @yahoogroups. com
>
>>Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
>sma1bks-subscribe@ yahoogroups. comYahoo! Groups Links
>
>
>
>

 


      

Kirim email ke