Generalisasi,Mayoritas dan minoritas bukan cuma masalah di indo. Di Eropa, jerman,khususnya di bagian timur, masih kental dgn hal rasisme. Jangan tanya bagaimana sinisnya pandangan pertama penduduk asli pada kaum imigran,terutama pada kaum wanita dgn Kopftuch (jilbab).Bertahun2 jerman berusaha meredam gerakan "ausländische Feindlichkeit" (kebencian terhadap orang asing). Penduduk asli menganggap warga pendatang merebut lapangan pekerjaan mereka, tidak mau bergaul dan membaur di dalam masyarakat, apalagi mau mempelajari bahasa lokal mereka. Jadilah sebagian para imigran,dengan kesulitan bahasa dan kultur,nyaman berinteraksi dan tinggal dgn komunitasnya sendiri. Semuanya memang tergantung kita, apakah kita akan tetap memilih bergaul ekslusif hanya dgn kelompok kita sendiri,atau mempunyai niat baik untuk ber-asimilasi? Pernah dengar pepatah "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung"? Pandangan sinis akan berganti dengan seulas senyum hangat,saat kita menyapa,berkomunikasi-dan menunjukkan bahwa kita punya itikad baik utk membuka diri dan berinteraksi, menolong mereka dgn ikhlas saat mereka mebutuhkan bantuan tanpa peduli status sosial ataupun ras. Tentu bahagia sekali hati kita, saat di ujung pembicaraan mereka berkata dengan sejuk: "Vielen Dank..schön dass Sie da sind" (Terimakasih banyak..senang sekali Anda berada disini). Saling bahu-membahu dan bergandengan tangan, melupakan atribut kita masing-masing untuk bersama-sama membangun negara kita tercinta, sangat indah, bukan.?:)
--- In [email protected], komarudin ibnu mikam <komaribnumi...@...> wrote: > > halo Nugon dan dicky, > > Bagaimana pun ada warisan sejarah yang membuat kita dipaksa berkelahi. > secara struktural kita dipaksa untuk hadir bersebrangan. Dikotak-kotakan > dalam kelas yang berbeda. Dengan status sosial berbeda. Status ekonomi > menjulang. Yang menyebabkan kita punya fasilitas berbeda. Namun, disitulah > perlunya pendidikan. Yang membentuk mental dan kedewasaan kita. Bahwa > seseorang tidak bisa dilihat dari status sosial dan ekonomi. > > waktu di sma tahun 90, ada anak Bupati. ada anak Sekda. Tapi ada juga anak > tukang beca. Ada anak sekdes (saya gitu lho...) alhamdulillahnya, ruang > sosial kita bisa damai-damai aja. > > anak tukang beca kerap datang ke rumah Bupati. tidur makan di sana. > santai-santai aja. > > sampe sekarang kalau kumpul kita menanggalkan semua status. yang bos, yang > atasan, yang jadi tokoh, yang jadi elite politik. Pas kumpul kembali seperti > ketika sma. Dicengin abissss...... > > Kembali soal kita sebagai bangsa. Mungkin semuanya dalam proses > pembelajaran. Character building. Pembangunan karakter. > saya hampir setuju dengan Dicky. Hampir lho....tidak semuanya. > Terlalu benci karena terlalu berharap. Terhadap SBY, bisa jadi gitu ya.... > > Dari awal saya tidak terlalu berharap. saya percaya dengan kekuatan sosial > (social power). Membangun kekuatan ini bisa jadi membangun masa depan. walau > kita gak tahu kapan akan panen. Paling tidak kita melakukan proses. Kan yang > dinilai usaha. Bukan hasil..... > > > salam kebersamaan..... > komar from bekut > > 2010/2/3 nugon19 <nugo...@...> > > > > > > > Terlepas dari segala kekurangan mendiang Gus Dur, itulah kelebihannya, > > berani secara formal menerobos issue ini. Cuma sayangnya tdk ditiru oleh > > pemerintahan berikutnya...salah satunya karena pertimbangan politis > > praktis...yaitu Apa Manfaatnya Bagi Aku (AMBAK)? > > > > Apalagi ane sadari juga, bahwa publikasi orang etnis Tionghoa yg > > bermasalah, terutama terkait KKN juga begitu intensif...ini sedikit > > banyak membentuk opini publik dan mengurangi semangat membenahi issue > > diskriminasi...terlepas apakah adanya orang-orang dari etnis itu ada yg > > terlibat masalah hukum atau tidak...terlepas dari memang orang tersebut > > bersalah dan harus dihukum. > > > > Orang kita terbiasa dan memudahkan generalisir semua issue, apalagi yg > > berbau SARA. > > > > Ane sendiri, walau muslim, KTP tertulis Islam...sudah punya SBKRI, > > kadang juga dipersulit. > > Apalagi kalau sudah lihat/screening Akte Lahir ane yg asli, yg > > dibelakang ada tulisan Hanzi (Kanjinya), ket nama Chinese ane dan shio > > serta waktu lahirnya...weleh, tuh mata petugas terlihat ada sedikit > > kerlipan cahaya yg ntah apa maksudnya...tapi jelas dampaknya =P , > > minimal diperlama ngurus dokumennya. > > > > Apalagi pas adik ane yg agamanya Kristiani mau married kemarin, luar > > biasa bolak-balik dibikin ribet buat surat apa tuh....surat N1/4 ya kalo > > tdk salah, utk Catatan Sipil. Mohon maaf nih...sudah chinese, non-muslim > > pula, jadi lebih seru urusannya =( > > > > Tetapi issue diskriminasi bukan murni jatah konsumsi etnis Tionghoa aja > > he he he > > utk yg keturunan Arab, kalau mau urusan paspor, urusan dgn imigrasi, > > juga agak dipersulit. > > Ini pernah ane amati beberapa kali waktu urus paspor. > > Apalagi dgn issue terorisme global, makin ketat aja. > > > > Di luar diskriminasi thd etnis non-pribumi....issue diskriminasi juga > > menimpa sesama etnis pribumi. > > Juga dulu era Orde Baru, everthing must javanese platform, or majority > > platform. > > Di Birokrasi mayoritas dipegang etnis Jawa, tdk peduli kompeten atau > > tdk. > > > > Atau suku yg mayoritas...sehingga issue putra daerah diberi peluang utk > > berkembang juga tdk diperhatikan. > > Seperti daerah istri ane, di Bangka, apalagi waktu masih di bawah > > pengaturan SumSel...everything hampir selalu harus Palembang Platform. > > > > Begitu era Otonomi Daerah..terjadi efek "bebas" dan "balas dendam" yg > > bablas....semua harus putra daerah, tanpa perduli kompeten apa tdk. > > Walhasil makin efek bola salju bagi perkembangan pembangunan dan > > kesejahtraan masyarakat. > > > > Issue SARA ini, tepatnya masalah diskriminasi etnis, memang harus > > dibenahi segera, secara formal, holistic & top-down approach. Dan > > didukung dgn dialog dan komunikasi terbuka antar golongan, serta > > pendidikan yg intensif dari kecil hingga dewasa...pendidikan utk > > menghormati dan menghargai orang yg berbeda dgn kita, terutama tatkala > > berbeda 'platform'. > > > > > > Best Regards and Wassalam, > > > > Nugon > > > > --- In [email protected] <sma1bks%40yahoogroups.com>, "Dicky > > Kurniawan" <marcial_riquelme@> > > wrote: > > > > > > Persoalan besar di Indonesia ttg isu rasialis thd etnis Tionghoa > > adalah tindakan diskriminasi itu di legalkan negara melalui produk hukum > > formal. Dan setau ane, aturan2 itu belum di cabut sepenuhnya. Masih > > banyak warga keturunan Tionghoa yg masih ditanya SBKRI kalo bikin KTP > > atau urusan birokratis lainnya. Negara sebagai pemegang otoritas belum > > mau mencabut seluruh aturan hukum formal yang mendiskriminasikan etnis > > tertentu. Meski kita teriak2, tp kalo negara sebagai penguasa formal ga > > bertindak, sama aja nyimpen bom waktu. Persoalan diskriminasi etnis > > tionghoa sebenernya selesai di tingkat pergaulan sosial. Banyak jg dari > > mereka yang terbuka, mau bergaul dan open minded. Tapi "berkat" adanya > > aturan diskriminatif lewat hukum legal formal, mereka jg terbebani itu. > > > it's only a transition > > > > > > Dicky Kurniawan > > > > > > > > > > -- > Komarudin Ibnu Mikam > WTS - Writer Trainer Speaker > komarmikam.multiply.com > yayasanmandirisejahtera.com > 0818721014-33113503 > karya-karya ; > Novel Intelijen SOA (luxima) > sekuntum cinta untuk istriku (GIP) > prahara buddenovsky (GIP) > dinda izinkan aku melamarmu (KBP) > sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat) > nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat) > merit yuk! (qultum media) > rahasia dan keutamaan jumat (qultum media) > surga Untuk Sahabat (khalil) > Kisah 10 Abdullah (khalil) >
